By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Tantangan Ketenagakerjaan di Kabupaten Semarang
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
GagasanSorot

Tantangan Ketenagakerjaan di Kabupaten Semarang

Last updated: 16 Februari 2021 09:03 09:03
Jatengdaily.com
Published: 16 Februari 2021 08:49
Share
SHARE

Oleh: Wiji Nogroho
Statistisi Ahli di BPS Kabupaten Semarang

PANDEMI COVID-19 memukul sektor ekonomi di seluruh dunia. Seluruh organisasi dunia merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi sebelumnya menjadi pertumbuhan negatif. OECD misalnya, merevisi pertumbuhan ekonomi dunia mengalami pertumbuhan negatif 4,2 persen selama 2020.

Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap faktor produksi (input) dalam ekonomi, yakni tenaga kerja. Pertanyaannya, seberapa besar pengaruhnya terhadap kondisi ketenagakerjaan? Opini ini mencoba menggambarkan kondisi dan tantangan ketenagakerjaan di Kabupaten Semarang yang juga merupakan wilayah tempat kerja penulis.

Pandemi COVID-19 telah memukul berbagai sektor, mulai dari kesehatan hingga ekonomi. Pada 14 Februari 2021 jumlah kasus konfirmasi positif di Indonesia mencapai 1.217.468 kasus dengan jumlah kematian tercatat 33.183 kasus. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kinerja ekonomi selama 2020.

BPS mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 mengalami kontraksi yakni sebesar minus 2,07 persen. Kondisi ini terjadi di seluruh wilayah termasuk di Provinsi Jawa Tengah yang mengalami laju pertumbuhan ekonomi minus 2,65 persen. Angka ini menunjukkan Jawa Tengah mengalami tekanan ekonomi yang lebih dalam dibandingkan nasional.

Di Jawa Tengah, sektor yang terkena imbas paling parah adalah transportasi dan pergudangan dengan laju pertumbuhan mencapai minus 33,53 persen. Selain itu ada sektor industri yang juga mengalami kontraksi laju pertumbuhan minus 3,74 persen. Seperti diketahui bahwa struktur ekonomi di Kabupaten Semarang ditopang oleh sektor industri. Hal ini terbukti dengan banyaknya pabrik hingga industri kecil di Kabupaten Semarang.

Sehingga industri menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Semarang bersama pertanian dan pariwisata sebagaimana dikenal dengan jargon Intanpari (Industri, Pertanian, dan Pariwisata). Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap struktur dan kondisi tenaga kerja sebagai faktor produksi (input) dari kegiatan ekonomi yang telah terdampak secara nyata.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2020 terjadi pergesaran struktur ketenagakerjaan. Persentase pengangguran terbuka (TPT) mengalami kenaikan sebesar 2,03 persen menjadi 4,57 persen. Sektor industri menyumbang penurunan tenaga kerja tertinggi yakni mencapai 3,12 persen.

Mereka yang semula bekerja di sektor formal (karyawan, pegawai, berusaha dengan dibantu karyawan atau buruh) juga mengalami pengurangan. Artinya, mereka bisa saja terserap ke sektor informal atau malah menjadi pengangguran. Kemungkinan lainnya adalah mereka masuk pada kelompok bukan angkatan kerja, contohnya mengurus rumah tangga di rumah tanpa terlibat kegiatan ekonomi yang dapat memberikan pemasukan keuangan bagi keluarga.

Sakernas mencatat sebanyak 160 ribu jiwa di Kabupaten Semarang terdampak COVID-19 dari sisi ketenagakerjaan. Dari jumlah ini ada yang menjadi pengangguran sebesar 11,5 ribu jiwa, menjadi bukan angkatan kerja (misalnya mengurus rumah tangga) sebesar 3,9 ribu jiwa. Selain itu sebanyak 8,8 ribu jiwa mengaku sementara tidak bekerja dikarenakan adanya pandemi COVID-19 ini. Kelompok lain yang masih cukup beruntung sebesar 136,3 ribu jiwa mengaku mengalami pengurangan jam kerja selama masa pandemi COVID-19.

Jika kita lihat lebih dalam, terjadi proses informalisasi tenaga kerja. Pada tahun 2020, persentase pekerja informal mendominasi struktur ketenagakerjaan di Kabupaten Semarang. Pekerja sektor informal tercatat sebesar 52,91 persen dibandingkan pekerja formal sebesar 47,09 persen. Kelompok yang cukup besar adalah pekerja keluarga yang tidak mendapatkan bayaran. Kelompok informal merupakan kelompok rentan dan lemah terutama dalam sistem penggajian dan jaminan kesejahteraan pekerja.

Berdasarkan data-data di atas, program dan kebijakan terkait ketenagakerjaan tentunya harus bermuara pada kesejahteraan pekerja dengan pendekatan yang berbeda. Terutama kepada sektor informal yang mendominasi struktur tenaga kerja di Kabupaten Semarang saat ini. Jatengdaily.com-yds

You Might Also Like

Urgensi Penataan Ruang Laut Berbasis Kaidah untuk Pesisir
Kemiskinan Perkotaan vs Perdesaan
Keajaiban Salat akan Tersingkap Jika Kita Khusyuk
RSI Sultan Agung Semarang Menuju Era Baru: Transformasi Menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama Modern
Kemiskinan di Desa dan Kota Indonesia: Tantangan Saat Ini
TAGGED:bps kabupaten semarangketenagakerjaan kabupaten semarangopiniwiji nogroho
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?