in ,

Campur Kode dalam Sastra

Gunoto Saparie

Oleh Gunoto Saparie

Manusia, sebagai makhluk sosial, akan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi. Dalam komunikasi yang bersifat formal maupun informal, kita sering menemukan ada penutur yang menggunakan bahasa tertentu dan kemudian tiba-tiba mengganti bahasanya. Mengganti bahasa diartikan sebagai tindakan mengalihkan bahasa maupun mencampur bahasa yang satu dengan bahasa lainnya. Penggantian bahasa atau ragam bahasa yang satu dengan bahasa lain tergantung pada keadaan atau keperluan bahasa itu. Tindakan mengganti atau mencampur bahasa ini dapat menyebabkan terjadinya peristiwa alih kode atau campur kode.

Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan. Kode merupakan sistem yang dipakai dua orang atau lebih untuk berkomunikasi. Alih kode ialah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Alih kode merupakan peristiwa beralihnya satu bahasa ke bahasa lain, ataupun beralihnya ragam santai ke ragam resmi, juga sebaliknya.

Misalnya, penutur menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Jawa. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual sangat sulit seorang penutur mutlak hanya menggunakan satu bahasa. Dalam alih kode, masing-masing bahasa masih mendukung fungsi masing-masing dan masing-masing fungsi sesuai dengan konteksnya.

Sedangkan campur kode terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristik penutur, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, rasa keagamaan, dan lain-lain.

Campur kode ialah penggunaan unsur-unsur bahasa, terutama nomina dari satu bahasa melalui ujaran khusus ke dalam bahasa lain, termasuk di dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya. Ciri yang menonjol dalam kasus campur kode berupa kesantaian atau situasi informal. Akan tetapi, dapat juga terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi.

Persamaan dan Perbedaan
Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazim terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Sedangkan perbedaannya yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan secara sadar, dan disengaja karena sebab-sebab tertentu.

Sementara campur kode ialah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanya berupa serpihan saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar.

Dalam karya sastra, baik puisi, cerita pendek, maupun novel, kita mengenal adanya campur kode yang merupakan cerminan dari tuturan manusia itu sendiri. Campur kode dibedakan atas campur kode ke dalam dan campur kode keluar. Campur kode ke dalam berupa campur kode yang berasal bahasa asli dengan variasi-variasinya, sedangkan campur kode keluar berupa campur kode bahasa asli dengan bahasa asing.

Dalam novel Para Priyayi karya Umar Kayam atau Meretas Ungu karya Pipiet Senja misalnya, campur kode yang digunakan adalah campur kode keluar dan campur kode ke dalam. Campur kode keluar karena menggunakan bahasa asli yaitu bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Campur kode ke dalam karena menggunakan bahasa asli, yaitu bahasa daerah dan Indonesia. Hal yang sama juga bisa kita temui dalam novel Burung-Burung Manyar karya Romo Mangunwijaya dan Upacara karya Korrie Layun Rampan.

Puisi panjang Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan puisi-puisi Darmanto Jatman pun demikian. Puisi naratif yang disebut penyairnya sebagai prosa lirik ini pun menarik dari segi bahasanya. Hal ini karena ia menggunakan beberapa bahasa seperti bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.

Tiga Faktor
Campur kode dibedakan atas campur kode ke dalam (inner-code mixing) dan campur kode ke luar (outer-code mixing). Campur kode ke dalam berupa campur kode yang berasal bahasa asli dengan variasi-variasinya, sedangkan campur kode keluar berupa campur kode bahasa asli dengan bahasa asing.

Faktor-faktor sosial yang memengaruhi pemakaian bahasa meliputi usia, tingkat pendidikan, status sosial, tingkat ekonomi, mapun jenis kelamin. Budaya atau kultur di sekitar penutur juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pemakaian bahasa. Suatu keadaan berbahasa lain ialah bilaman orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu.

Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan kebiasannya yang dituruti, tindak bahasa yang demikian kita sebut campur kode. Ciri yang menonjol dalam campur kode ini adalah kesantaian atau dalam situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam keadaan demikian, hal itu disebabkan tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehigga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing. Dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau menggarisbawahi kata atau ungkapan bahasa asing yang bersangkutan.

Seorang sastrawan bebas mengekspresikan tulisannya, baik yang menyangkut penggunaan bahasa maupun penekanan-penekanan pada kata atau kalimat. Karena tidak terikat oleh suatu aturan-aturan yang harus dipakai, maka tidak menutup kemungkinan bahasa yang digunakan sehari-hari dapat tertuang dalam karyanya. Tidak mengherankan ketika kita melihat bagaimana terjadi campur kode dalam karya-karya sastra.

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st

Written by Jatengdaily.com

Darurat Kesenian Tradisional, Pemerintah Harus Lebih Memperhatikan

Teliti Regulasi Terapis Gigi dan Mulut, Dosen Poltekkes Semarang Raih Doktor di Untag