Yuk Bantu Petani Cabai

Oleh: Moh Fatichuddin
ASN BPS Provinsi Bengkulu

YUK bantu petani dengan membeli hasil panen mereka. Dengan membeli hasil panen cabai petani yang saat ini sedang jatuh harga jualnya, akan sangat membantu keberlanjutan usaha taninya. Ini seperti itulah salah bunyi “cuitan” di media sosial twitter Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah 28 Agustus 2021 kemarin.

Pada hari yang sama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di akun twitternya menuliskan “yang kami lakukan memang tidak seberapa, tapi semoga bisa meringankan saudara2 petani. Temen2 bupati walikota, yuk ikut gerak, kita borong cabe petani”.

Berbagai media masa memberitakan rendahnya harga cabai saat ini. Saat ini, harga jual cabai merah keriting ditingkat petani turun jadi Rp3 ribu per kilogram. Harga ini merupakan paling rendah. Sementara itu, Gimah salah satu petani mengaku jika harga cabai saat ini turun paling rendah di Rp3 ribu per kilogram. Menurutnya turunnya harga diperkirakan karena panen raya dan PPKM membuat daya beli masyarakat menurun dan berdampak pada pertanian. Sumber: https://mediaindonesia.com/nusantara/428134/harga-anjlok-legislator-pks-jateng-borong-cabai-petani-untuk-dibagikan

Cabai sebuah kata yang sangat familier di telinga kita, sering pula terdengar ungkapan “makan tanpa cabai gak sedap”, dan ungkapan lain sejenisnya. Cabai sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, selain dikonsumsi oleh rumah tangga secara langsung.

Cabai juga sangat diperlukan dalam industri makanan. Rumah makan dengan masakan padang yang identik dengan sambalnya, Warung penyet berderet dihampir semua kota di Indonesia, penjual gorengan harus menyediakan cabe untuk menarik minat konsumen.

Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman setahun yang berbentuk perdu, banyak dibutuhkan manusia sebagai bumbu masak, karena sifat pedasnya yang berasal dari minyak atsirim (Sunaryo dan Rismunandar 1981). Dalam klasifikasi, tanaman cabai termasuk dalam kelas Angiospermae, sub kelas Dicotiledonae, ordo Polimoniales, famili Solanaceae, genus Capsicum dan spesies Capsicum annum L (Samsudin, 1986).

BPS dalam Pola Distribusi Perdagangan Komoditas Cabai Merah Tahun 2019 mencatat angka konsumsi cabai antar wilayah berbeda-beda, konsumsi cabai per kapita tahun 2018 menyebutkan wilayah Pulau Sumatera memiliki angka konsumsi per kapita tertinggi, Sumatera Barat menjadi provinsi dengan angka konsumsi cabai merah per kapita per bulan tertinggi yaitu mencapai 0,56 kg per kapita per bulan.

Provinsi Gorontalo menjadi provinsi dengan angka konsumsi per kapita terendah yaitu 0,01 kg per kapita per bulan. Namun demikian, meski Sumatera memiliki angka konsumsi tertinggi tapi karena jumlah penduduk Pulau Jawa lebih besar maka jumlah konsumsi cabai merahnya di Tahun 2018 lebih tinggi. Masyarakat Pulau Sumatera mengkonsumsi 213.5 ribu ton per tahun sementara pulau Jawa mencapai 248,1 ribu ton per tahun.

Dilihat dari produksi cabai, selama lima tahun terakhir (2016-2020) produksi cabai besar terus mengalami kenaikan. Tahun 2016 produksi cabai besar nasional sebesar 1,05 juta ton dan mencapai 1,26 juta ton di Tahun 2020, atau naik 20,91 persen.

Pusat produksi cabai besar di Indonesia Tahun 2020 berada di Provinsi Jawa Barat (21,05 persen), disusul Sumatera Utara (15,33 persen) kemudian Jawa Tengah (13,15 persen) dan Sumatera Barat (10,54 persen). Membaca angka produksi dan konsumsi di atas, dapat beranggapan bahwa “seyogyanya “harga cabai besar dapat stabil, tidak ada permasalahan terkait ketersediaan dan kebutuhan.

Tingginya peranan empat provinsi tersebut menjadikan betapa signifikannya dampak terhadap kondisi per cabaian nasional pada saat daerah-daerah tersebut terjadi kondisi cabai ekstreem. Suyono (45) petani di Desa Bondosari, kecamatan Ngantru Kabupaten Temanggung hanya memandang hamparan tanaman milinya. Setengah hektar cabai merah keriting yang sudah memerah dibiarkan mongering di pohonnya. Karena harganya terlalu murah hanya Rp.4000 per kilogram, membuat Suyono enggan merugi jika harus memanennya (https://surabaya.tribunnews.com/2021/08/26/harga-cabai-rp-4000kg-petani-tulungagung-biarkan-cabainya-mengering-di-pohon). Temanggung merupakan salah satu pusat produksi cabai besar di Jawa Tengah selain Brebes, Magelang, Boyolali, Banjarnegara dan Kabupaten Semarang.

Sangatlah wajar pada saat harga cabai sangat rendah dan daya beli masyarakat rendah serta sedang musim panen, sehingga produk cabai tidak dapat terserap pasar. Maka Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah berinisiatif mengajak ASN di bawah tanggungjawabnya untuk membantu petani cabai dengan membeli cabai mereka, serta berharap kepala daerah di Jawa Tengah juga mengikuti langkahnya.

Pola Distribusi
Secara umum, harga cabai merah bervariasi cukup tinggi setiap bulannya dalam satu tahun. Sedangkan jika dilihat antar tahun, terdapat pola pergerakan harga cabai merah yang mirip. Pada sekitar akhir tahun hingga awal tahun berikutnya harga cabai merah selalu menempati nilai tertinggi.

Pada pertengahan tahun hingga menjelang musim penghujan seperti saat ini (Agustus 2021) harga cabai sangat rendah. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan periode musim penghujan yang terjadi di Indonesia. Selain faktor cuaca, tingginya harga cabai merah juga diperparah dengan inefisiensi rantai distribusi komoditas tersebut (BPS,2011, Bunga Rampai Statistik Percabaian).

Jika membaca harga cabai merah tahun 2020, berdasar harga produsen di Jawa Tengah. Harga cabai merah mengalami harga terendah di bulan Juni hanya sebesar Rp 9.444 per kilogram. Sedangkan harga tertinggi cabai merah di Jawa Tengah tahun 2020 tersebut terjadi di bulan Januari hingga Rp 23.110 per kilogram. Harga cabai merah berdasar harga produsen Jawa Tengah masih berada di bawah harga nasional. Saat bulan Januari 2020 harga cabai merah nasional mencapai Rp 27.383 per kilogram dan bulan Juni sebesar 23.899 per kilogram.

BPS dalam Statistik Harga Produsen Pertanian Subsektor Tanaman Pangan, Tanaman Hortikultura dan Tanaman Perkebunan Rakyat 2020 menuliskan harga cabai merah di luar Pulau Jawa pada saat Jawa Tengah berada di titik terendah bulan Juni, harga cabai merah di Pulau Sumatera masih mencapai angka di atas Rp 20.000 per kilogram, bahkan di atas Rp 30.000 per kilogram hingga menyentuh Rp 54.000 per kilogram di Riau dan Kepulauan Riau. Hal tersebut terjadi juga di wilayah Kalimantan dan wilayah timur Indonesia, Maluku, Papua dan sekitarnya.

Sedangkan pada saat harga cabai merah Jawa Tengah dan pulau Jawa pada umumnya mengalami puncaknya di bulan Januari, harga cabai merah di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Maluku serta Papua relatif tinggi juga di atas harga nasional, namun tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Mengamati kondisi tersebut dapat dibaca bahwa kemungkinan permasalahan tidak stabilnya harga cabai merah adalah adalah belum menyebarnya cabai merah produksi petani di Jawa ke luar jawa. Produksi cabai merah pulau Jawa terkonsentrasi ke Jakarta dan sangat mungkin cabai merah Sumatera pun mentargetkan pula ke Jakarta.

Sehingga dampak yang terjadi sangat signifikan pada saat pasar di Jakarta bergejolak maka yang paling terkena damapak adalah petani pulau Jawa. Meski Jakarta bukanlah sebagai produsen pada akhirnya akan sangat menentukan seberapa tinggi rendahnya harga cabai merah.

Dengan membaca pola distrbusi cabai merah yang ternyata menjadikan Jakarta sebagai target pasar akan berdampak pada ketidakstabilan harga. Di sini diperlukan perhatian dari pihak terkait terutama pemerintah agar produk cabai merah dari pulau Jawa dapat tersebar ke pulau seberang.

Mungkin diperlukan intervensi dalam proses bisnis pasca panen, seperti teknologi dalam pasca panen sehingga memenuhi standart pasar. Alat pengangkutan yang mampu menjamin terjaga kualitasnya cabai karena harus menempuh jarak dan waktu yang cukup beresiko rusaknya cabai merah.

Target pasar yang tepat dapat merubah pola distribusi cabai merah menuju pola distribusi yang sehat sehingga stabilitas harga cabai merah bisa terjaga. Dengan terjaganya stabilitas harga cabai, niscaya akan menemukan harga yang menguntungkan petani dan terjangkau oleh masyarakat. Pola distribusi yang sehat menjadi kunci kesejahteraan petani dan masyarakat…Wallahualam. Jatengdaily.com-yds