Menjaga Takwa, Menuju Kesetiaan Pancasila

Oleh : Multazam Ahmad

DALAM sepekan baru saja umat Islam merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1442 hijriyah setelah selesai menjalani puasa ramadan. Selama puasa ramadan, keimanan dan ketakwaan kita sangat nampak dan signifikan dalam kehidupan sehari-hari.Sebagaimana Allah swt perintahkan, “Wahai orang -orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.(QS. Al-Baqarah:183). Kita disuruh untuk bertkwa agar kita menjadi manusia yang genah,mentaati aturan,memiliki rasa kemanusiaan, dan bertanggung jawab.

Menjalani ibadah puasa ramadan merupakan kebangkitan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ramadan merupakan spirit umat Islam untuk meyakini hal-hal yang gaib – tidak hanya persoalan rasional saja tetapi juga suprarasional. Kebangkitan ketakwaan terlihat begitu banyak umat muslim untuk meramaikan dan menghidupkan masjid melakukan itikaf, membaca Alquran, dzikir,berdoa,dan qiyamul lail atau salat malam. Bahkan diyakini menjelang 10 hari terakhir dalam bulan ramadan banyak umat Islam berharap mendapatkan Lailatul Qadar. Itulah sebabnya meyakini sesuatu yang gaib adalah merupakan ciri-ciri orang yang bertakwa.

“ Kitab al-Quran ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,melaksanakan salat,dan menginfakan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka”.(QS. Al-baqarah: 2-3). Dalam ayat tersebut memberi kejelasan bahwa kita dituntut untuk mengimani sesuatu yang gaib, tidak hanya berfikir yang rasional saja tetapi juga berfikir dan iman yang suprarasional.

Membangkitkan berfikir suprrasional merukan solusi yang tepat. Sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan problema kehidupan. Bangsa kita sekarang masih bergabung menjalani ujian covid-19 yang belum selesai. Sebenarnya kita bisa segera menyelesaikan manakala kita bisa mengambil sebuah hikmah menjalani puasa dengan baik.Karena ramadan merupakan satu kebangkitan ketakwaan kita kepada Allah swt dan menjadi satu spirit umat Islam didorong untuk meyakini hal-hal yang gaib yang itu merupakan sumber dari penyelesaian masalah.

Anjuran pemerintah untuk melaksanakan program 5 m (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan). Termasuk larangan mudik merupakan satu sikap pemerintah agar dipatuhi karena secara rasional akan bisa memotong rantai penyebaran covid 19. Itu semua kurang berdampak jika tak didukung berfikir suprarasional. Sayangnya kurang dipelihara bahkan kurang mendapatkan respon. Rupanya menjadi hal yang penting dalam dunia saat sekarang untuk menghancurkan covid-19.

“Dan kami turunkan dari Al-Quran(sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman,sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian”.(QS.Al-Isra :82). Kita harus meyakini bahwa Alquran itu harus dijadikan sebagai obat. Maka pemerintah harus mengembangkan antara berfikir rasional dan suprarasional. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:” Berpuasalah niscaya kalian akan sehat”.( hadis dalam mu’jam Al Aswad Al ausath) Dalam hadis ini merupakan perintah harus menjaga takwa dan iman agar manusia dalam kondisi yang sehat .

Kesetiaan Pancasila.

Baru saja Presiden Joko Widodo dalam sambutan memperingati Hari Kebangkatan Nasional pada 20 Mei 2021, mengajak seluruh anak bangsa untuk meniru spirit berdirinya Organisasi Budi Utomo untuk mengusir penjajah di Hindia Belanda tanpa mengenal lelah.Semangat organisasi sosial yang didirikan oleh Dr Wahidin Soedirohoesodo dan Dr Soetomo pada 1908 ,dapat menyatukan kerukunan dan dilandasi ketakwaan dan keimanan yang kuat. Kesetiaan pancasila dan pengamalanya juga menjadi modal utama untuk meraih kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Semangat Budi Utomo tidak memandang anak bangsa dari golongan manapun untuk mengusir penjajah.Yang diutamakan adalah membangun kerukunan.Kemerdekaan sudah kita raih dengan susah payah. Jiwa dan raga sebagai taruhan untuk di korbankan. Sebagai pelaku sejarah ada masih hidup .Itupun belum sebanding bisa menikmati jerih payah setelah alam merdeka.

Oleh karena itu tugas kita sekarang adalah mengamankan pancasila. Pancasila merupakan philosopische grondslag ( pandangan hidup bangsa) yang perlu dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila memiliki nilai-nilai luhur yang fundamental dan merupakan kristalisasi dari nilai-nilai hidup yang telah dianut oleh banyak masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Hanya pancasila-lah yang menjadikan Indonesia sebagai satu negara yang utuh. Tanpa adanya dasar negara, suatu bangsa tidak akan memiliki arah dan tujuan yang jelas, dan memudahkan timbulnya perpecahan.

Nah, oleh sebab itu, mari kenali nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila Pancasila dan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti,nilai ketuhanan sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung nilai Ketuhanan. Artinya bangsa Indonesia percaya akan adanya Tuhan yang Maha Esa dan senantiasa bertakwa kepada-Nya. Ini sekaligus menjadi landasan konstitusi Indonesia yang menjamin hak kebebasan beragama. Seperti, menjunjung toleransi antar umat beragama, menjalankan ibadah dengan tidak mengganggu agama lain.

Dalam sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” mengandung nilai kemanusiaan. Ini memiliki arti bahwa seluruh manusia diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku mahluk ciptaan Tuhan yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, dan tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan golongan. Seperti,tidak membedakan manusia berdasarkan warna kulit, suku bangsa, latar belakang ekonomi, dan lain-lain.Setiap orang memiliki hak yang sama di mata hukum, saling menghargai pendapat,tolong menolong dan tidak semena-mena terhadap orang lain.

Nilai persatuan terkandung dalam sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Sila ini memiliki makna bahwa sebagai warga Indonesia, kita harus bersatu meskipun berbeda-beda suku, agama, bahasa, dan lain-lain. Seperti,cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bangga menggunakan bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia mengutamakan persatuan dan kesatuan daripada kepentingan pribadi atau golongan. Nilai sila keempat berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila ini mengandung nilai kerakyatan yang mencerminkan demokrasi di Indonesia. Seperti, kedaulatan ada di tangan rakyat, keputusan yang diambil harus berdasarkan musyawarah sampai mencapai kesepakatan bersama,dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

Yang terakhir yang tidak kalah penting dalam sila ke lima, yakni “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” memuat nilai keadilan. Nilai ini bermakna bahwa masyarakat berhak mendapat kesamaan kesejahteraan.Kita pahami bahwa tujuan dari bangsa Indonesia adalah untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya tanpa adanya kesenjangan baik dari segi sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Dengan cara ini, saya kira keadilan dapat diwujudkan.

Dalam memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2021,merupakan momentum untuk kita mengenang kembali dalam kesepakatan kita bersama bahwa pancasila merupakan landasan kita hidup berbangsa dan bernegara. Meski sekarang banyak yang mempertanyakan dan membenturkan tentang pancasila dan agama. Mari pancasila kita jaga dan diamalkan, agar kehidupan bangsa bisa menjadi utuh.

Dr. H Multazam Ahmad,MA
Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan Ketua Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) MUI Jawa Tengah. Jatengdaily.com–st