in

BNNP Jateng Gerakkan Milenial untuk Ikut Lacak Peredaran Narkoba

Kepala BNNP Jateng Purwo Cahyoko. Foto: adri

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah gerakkan program intervensi berbasis masyarakat (IBM) dengan melibatkan milenial ke berbagai desa maupun lingkungan kelurahan untuk melacak peredaran ganja.

Keberadaan para milenial sebagai penggerak perubahan guna memberantas peredaran narkoba di tingkat pedesaan.

“Kalau ada anggota keluarga mereka, teman-temannya atau warga desa yang kelihatannya menggunakan ganja, maka tugas anak muda yang mengobatinya. Mereka kita beri tugas untuk menyembuhkan dengan metode khusus rehabilitasi. Minimal kalau yang pengguna stadium ringan dan sedang bisa dideteksi dan disembuhkan dengan cepat,” kata Kepala BNNP Jateng Purwo Cahyoko, Senin (27/6/2022).

Tercatat pihak BNN Jateng sejak Januari-Juni 2022 telah melakukan rehabilitasi terhadap ratusan pengguna narkoba. Proses rehabilitasi diputuskan setelah keluar assisment dari BNN, dokter dan aparat kepolisian.

Pihaknya juga menyiapkan tempat rehabilitasi bagi para pengguna narkoba yang masuk dalam kategori yang bisa direhabilitasi.

“Mereka kita latih bagaimana caranya menyembuhkan pengguna ganja. Tapi kalau sudah pecandu berat, mereka akan langsung mengontak petugas BNN untuk menjemput pengguna untuk dibawa ke tempat rehab. Semua puskesmas dan rumah sakit swasta dan negeri bisa dipakai buat lokasi rehab. Yang rehabilitasi tempat swasta juga kita ajak untuk mengobati pengguna stadium sedang dan berat,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penindakan BNN Jateng tahun 2020 ditemukan 2.708 kasus. Jumlahnya naik ketika memasuki 2021 mejadi sebanyak 2.800 kasus. Tren peningkatan kasus narkoba terjadi tahun 2022 lantaran banyak pemakai maupun pengedar ditangkap menggunakan narkoba jenis sabu dan ekstasi.

“Dari bulan Januari sampai Mei 2022 kemarin saja sudah ditemukan lebih 400 kasus. Grafik kasusnya naik terus karena dari tahun 2020 kita menangkap 900 pelaku, tahun 2021 ada kurang lebih 987 pelaku dan tahun ini sudah ada 150 pelaku. Paling banyak kalau wilayah Semarang mereka terlibat peredaran ganja, sabu, ekstasi lalu sisanya turunannya seperti tembakau gorila dan sejenisnya. Jelas temuan yang ada sekarang sangat mengkhawatirkan. Makanya kita semakin meningkatkan razia,” jelasnya.

Dari hasil penyelidikan sementara pemakai narkoba jenis ganja pelajar dan mahasiswa. Mereka konsumsi ganja supaya mendapatkan teman yang baru.

“Kebanyakan pemakainya narkoba fari kalangan remaja dan pekerja usia 16 sampai 21 tahun keatas. Jadi kalau pelajar itu biasanya efek rokok, miras dan larinya mencoba obat. Kalau remaja biasanya coba-coba dari pergaulannya, lalu ada dorongan dari teman-temannya lalu ikutan pakai. Prosentase pelajar dan mahasiswa yang terlibat penggunaan narkoba sekitar 35 persen,” ujar dia.

Menurutnya para pekerja yang memakai narkoba dengan alasan untuk menambah stamina. Padahal di sisi lain, narkoba justru merusak sistem syaraf, organ tubuh sampai menimbulkan kematian.

“Kalau pekerja pake narkoba seringnya buat penambah kekuatan. Karena sifatnya narkoba itu sebagai halusinasi, depresan dan stimulan. Seperti contoh pekerja yang butuh kegiatan di atas 8 jam atau 24 jam ada juga yang menggunakan narkoba. Misal di sektor konstruksi. Ini disebabkan narkoba sudah melibatkan semua lapisan masyarakat. Baik orang miskin orang kaya, anak-anak sampai mahasiswa,” pungkasnya. adri-she

Written by Jatengdaily.com

Tersedia Banyak Beasiswa Bagi Calon Mahasiswa FAI Unissula

Film Jokotole Mendapat Dukungan dari Bupati Bangkalan