Hijrah Momentum untuk Berubah

8 Min Read

Oleh : Nur Khoirin YD

HARI ini kita sudah berada dalam tahun baru, bulan Muharram 1444H Hijriyah. Bulan Muharram ini termasuk salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan Allah swt (al-asyharul hurum). Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya hitungan bulan (dalam satu tahun) menurut Allah ialah dua belas bulan sebagaimana ditetapkan dalam kitab Allah, yaitu waktu Allah menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”.(QS. At Taubah : 36).

Empat bulan mulia itu adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sehingga tidak benar bulan Muharram yang dalam tahun Saka disebut Syuro sebagai bulan yang angker dan malati, sehingga sebagian orang Jawa tidak berani melakukan hajatan penting dalam bulan Syuro. Justru sebaliknya, Muharram ini harus kita jadikan momentum untuk hijrah, yaitu semangat merubah diri agar tahun depan menjadi lebih baik dari pada tahun kemaren. Setiap moment pergantian waktu, hari, bulan, dan tahun, setiap kita harus introspeksi diri, muhasabah, dan berhitung untuk meningkatkan kebaikan dan menghapus keburukan.

Banyak peristiwa keagamaan penting yang terjadi dalam bulan Muharram ini untuk kita jadikan ‘ibrah (pelajaran) dalam menata kehidupan kedepan yang lebih maju dan selamat. Beberapa pelajaran penting yang bisa kita jadikan panduan hidup, antara lain :

1. Waktu ternyata berjalan begitu cepat, tanpa bisa dihentikan atau dibalikkan. Imam Syasi’I berkata,“al waqtu kasysyaifi inlam taqtha’ thuqtha’”( waktu ibarat pedang. Jika tidak kau gunakan untuk memotong, maka engkau sendiri yang akan terpotong). Tahun bertambah, tetapi hakikatnya umur kita berkurang. Entah berapa hari, bulan atau tahun lagi kita diberi jatah hidup oleh Allah swt Dzat yang memberi hidup.

Gunakan waktu yang masih tersisa untuk menambah kebaikan, dan jangan justru sebaliknya untuk menambah dosa. Tidak perlu menunggu tua, karena kematian bisa menjemput kapan saja. Agar umur kita bertambah, tetapi kebaikan dan ketaatan juga meningkat. Untuk memanfaatkan waktu ini Rasulullah saw telah memberikan petunjuk yang sangat jitu. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima kesempatan sebelum datangnya lima perkara : waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan Hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Betapa waktu sangat berharga untuk kita isi dengan aktifitas-aktifitas yang positif. Bagi pebisnis time is many, bagi santri, pelajar dan mahasiswa time is ilmu, time is prastasi, bagi ‘abid time is ibadah, dsb.

2. Bulan Muharram adalah momentum untuk berhijrah. Hijrah berarti berpindah atau meninggalkan. Nabi kita Muhammad saw pindah dari Makkah, tanah kelahirannya yang sangat dicintai, pindah ke Madinah yang jauhnya kl 485km, selama berhari hari, dengan kendaraan onta menyusuri gurun batu dan pasir yang panas, gersang, tiada air dan kehidupan, dengan satu tujuan untuk menyiarkan Islam. Karena di Makkah banyak tantangan, rintangan, dan ancaman dari orang-orang kafir Quraisy. Nabi berhijrah menangkap peluang menjemput dukungan.

Di tempat baru ini dalam waktu yang singkat Islam berkembang pesat, dan akhirnya dapat menumbangkan rezim kafir dalam peristiwa Fathul Makkah. Seandainya tidak ada peristiwa hijrah 1444 tahun yang lalu, kemungkinan kita tidak bisa menikmati indahnya ajaran Islam yang merahmati seluruh alam.

Hijrah bisa diartikan secara makani, yaitu beripindah secara fisik dari suatu tempat ketempat lain yang lebih kondusif. Jika disuatu tempat usaha kita sudah mentok, segala cara dan ikhtiar sudah dilakukan tetapi tidak bisa berkembang, karena banyak hambatan dan rintangan menghadang, maka hijrahlah, pindahlah ke tempat baru. Orang yang tidak hijrah, tidak akan maju. Semua orang sukses, baik dalam ilmu, karier, maupun dalam ekonomi, adalah muhajirin. Hampir semua kita ini adalah muhajir.

Tetapi hijrah juga bisa diartikan secara maknawi, yaitu semangat merubah diri dari waktu kewaktu agar menjadi lebih baik. Hijrah secara ma’nawi ditegaskan dalam firman Allah swt.
وَقَالَ اِنِّىۡ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّىۡ اِنَّه هُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ
“Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS.Al-Ankabut :26.

Dalam ayat yang lain disebutkan :
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِى الْأَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nisa: 100).

Hijrah merubah kebiasaan mengacuhkan nikmat-nikmat Allah menjadi hamba yang pandai bersyukur. Berpindah dari kehidupan jauh dari tuntunan agama kearah kehidupan yang relijius dan Islami. Berpindah dari sifat-sifat munafik, plin-plan, menjadi konsisten atau istiqomah. Berpindah dari cara-cara haram dalam menggapai tujuan ke arah cara-cara jujur dan halal.

Hijrah juga berarti berkomitmen kuat memegang pinsip kebenaran dan keadilan dan meninggalkan kebatilan dan kezhaliman. Meninggalkan perbuatan, makanan dan pakaian yang haram menjadi hidup sehat dan produkif. Meninggalkan perbuatan buruk dan dosa menuju taat dan berbuat manfaat. Hijrah berarti meninggalkan sifat-sifat dengki, iri hati, dendam, persaingan tidak sehat, tamak, pengecut, munafiq, dan sifat-sifat madmumah lainnya, menuju akhlaqul karimah yang dicintai Allah dan manusia.

3. Dalam bulan Muharram ini ada yaumu ‘asyura, yaitu hari ke 10. “Asyura sendiri berasal dari kata ‘ashrah, yang berarti sepuluh. Kita diajurkan untuk berpuasa pada hari itu untuk mengenang dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada hari ‘asyura. Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H) dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, meriwayatkan dari Ikrimah berkata Hari Asyura ialah hari diterimanya tobat Nabi Adam as setelah memakan buah khuldi, hari diturunkannya Nabi Nuh as dari perahunya, hari kemenangan Musa as atas Fir’aun yang ditenggelamkan di laut Merah, hari diselamatkannya Ibarhim as dari bakar api raja Namrud, hari dikeluarkannya Nabi Yunus as dari perut ikan paus, hari diangkatnya Nabi Isa as, dan masih banyak peristiwa penting lainnya. Maka hijrah adalah era baru yang gemilang, hilangnya berbagai hambatan dan rintangan, awal keselamatan dan kemenangan. Disampaikan dalam Khutbah Jum’ah di Masjid Al Muqarrobin Perum Permata Puri Ngaliyan, 7 Muharram 1444H/5 Agustus 2022

DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat/Mediator bersertifikat/Arbiter Syari’ah. Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.