Loading ...

Pedasnya Harga Cabai, Antara yang Mengeluh dan Tersenyum

06opinitrikarjono

Oleh : Tri Karjono
Statistisi Ahli BPS Provinsi Jawa Tengah

SEBAGIAN orang tak akan merasa nikmat tanpa toping sambal pada sepiring nasi yang disantapnya. Walau setelahnnya keringat di kepala mengucur, atau bibir terasa jontor hingga perut terasa mules. Setelahnya akan kembali diulang, diulang dan diulang. Kapok lombok. Itulah yang seringkali kita dengar dari idiom di tengah masyarakat.

Idiom oleh karena dari sepedas apapun rasa lombok dan seberapa tingginya harganya akan tetap diharapkan tersedia dalam jumlah yang cukup. Cabai telah menjadi bagian dari kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Belakangan ini cabai menjadi salah satu topik pembicaraan di masyarakat, karena harganya yang cukup mengusik.

Tren yang terjadi pada harga cabai di Kota Semarang sebagai barometer Jawa Tengah, menurut catatan Sihati (Sistim Informasi Harga dan Produksi Komoditi), selama bulan Januari 2022 menunjukkan grafik penurunan. Kemudian naik kembali dari awal hingga mencapai puncak pada akhir Februari 2022 dengan harga 58 ribu rupiah per kilogram. Satu setengah bulan kemudian kembali mengalami penurunan hingga sempat berada pada titik harga terendah pada pertengahan April 2022 sekitar 20 ribu rupiah.

Setelahnya hingga hari di awal minggu ini harga cabai terus mengalami kenaikan. Cabai merah misalnya yang telah menembus harga Rp 88 ribu. Bahkan di beberapa wilayah lebih tinggi. Terlihat bahwa pada dua setengah bulan terakhir di Kota Semarang telah terjadi lonjakan harga sebesar 340 persen.

Kenaikan ini disinyalir akibat suplay yang ada tidak mampu memenuhi jumlah permintaan pasar. Cuaca menjadi aktor utama alasan keterbatasan suplay yang ada. Waktu ini yang seharusnya telah memasuki musim kemarau sejak bulan April, tetapi pada kenyataannya masih juga sering terjadi turun hujan bahkan hingga hari ini.

Musim tanam hingga panen cabai yang biasa berlangsung mulai April hingga Oktober terganggu oleh pembuahan yang gagal oleh curah hujan yang masih tinggi. Hal ini diperparah oleh munculnya beberapa penyakit yang mengakibatkan buah cabai membusuk dan puso hingga gagal panen.

Pemicu Inflasi
Akibat fluktuasi harga yang terjadi pada cabai yang merupakan komoditas pokok masyarakat, pada kenyataannya sangat mempengaruhi fluktuasi inflasi bulanan yang terjadi di Jawa Tengah. Terhitung setiap bulan selama tahun ini komoditas cabai mampu menduduki 5 besar dalam memberi andil terhadap inflasi. Baik andil positif ketika terjadi kenaikan harga maupun negatif ketika terjadi penurunan harga.

Andil nyata dan terbesar terjadi pada bulan Juni. Inflasi sebesar 0,85 persen yang terjadi pada bulan Juni yang lalu nyaris separuh diantaranya akibat andil naiknya harga cabai merah dan cabai rawit dengan masing-masing 0,30 dan 0,11 persen. Alih-alih inflasi positif yang kadangkala diartikan sebagai kembali naiknya daya beli masyarakat, untuk kasus ini sepertinya tidak demikian. Justru memungkinkan akan menggerus daya beli.

Kenaikan harga oleh sebab terbatasnya suplay bahan kebutuhan pokok sehingga mengakibatkan inflasi meningkat menjadi sebuah keterpaksaan masyarakat dalam mengeluarkan isi kantongnya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sehingga keinginan yang seharusnya ia dapatkan harus dialihkan untuk menambah biaya kebutuhan. Sehingga inflasi oleh sebab naiknya kebutuhan yang benar-benar pokok tidak dapat menjadi tolok ukur kemampuan finansial masyarakat yang pulih atau meningkat.

Inflasi bulan ke bulan yangh ukup besar pada bulan Juni oleh sebab utama cabe merah daan cabe rawit ini membawa inflasi kalender (c to c) dan tahunan (y on y) yang cukup tinggi. Inflasi kalender telah menyentuh angka 3,75 persen dan inflasi tahunan telah sampai 4,97 persen. Tren inflasi kalender, inflasi sebesar tersebut menjadi sangat tinggi jika dibanding dengan inflasi tahunan tahun 2020 sebesar 1,56 dan 1,70 persen.

Jika asumsi tren inflasi kalender sisa tahun ini sama dengan dua tahun yang lalu saja maka inflasi yang terjadi pada tahun ini akan tinggi. Padahal sepertinya tren kenaikan harga masih akan terjadi terutama di tiga bulan terakhir. Apalagi tekanan global terhadap produk pangan dan energi sepertinya masih mengancam, yang pastinya akan berimbas pada kondisi dalam negeri.

Kondisi NTUP
Seringkali yang terjadi sebuah kegagalan adalah kesedihan. Namun ternyata tidak demikian halnya dengan gagalnya panen yang dialami petani cabai saat ini. Rata-rata penurunan panen yang terjadi hingga 50 persen pada musim tanam kali ini justru menjadi berkah. Penurunan jumlah panen oleh cuaca dan hama yang dikompensi dengan kelipatan harga yang lebih besar menjadikan nilai produksi lebih besar dari biasanya.

Jumlah panen normal dikali dengan harga normal masih lebih rendah dibanding dengan ketika produksi menurun tetapi harga meningkat lebih tinggi dari tingkat penurunan produksinya. Maka tak heran ketika panen raya tiba dan harga turun maka nilai produksi tidak sebanding dengan biaya produksi, yang terjadi kemudian petani sampai membuang-buang hasil panennya.

Indikator usaha petanipun mencerminkan hal tersebut. Ketika harga melonjak tajam, walau panen berkurang namun hasil yang didapat lebih besar. Gambaran ini juga tercermin dari data nilai tukar usaha pertanian (NTUP). NTUP merupakan perbandingan antara Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga Yang Dibayar Petani (Ib). Dimana komponen Ib hanya meliputi biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM).

Secara umum NTUP mengalami sedikit peningkatan selama sebulan terakhir yaitu sebesar 1,76 persen. Peningkatan tersebut yang paling berpengaruh dan meningkat tajam adalah sub sektor hortikultura dengan kenaikan yang cukup fantastis sebesar 11,64 persen, dengan indeks tertinggi dibanding usaha sub sektor yang lain. Sementara sub sektor lainnya tidak lebih dari 1,43 persen bahkan merugi. Dimana pada subsektor hortikultura ini di dalamnya merupakan usaha komoditas cabai.

Dilema dan Upaya
Kedua hal di atas menunjukkan sesuatu yang dilematis. Secara umum ketika terjadi kenaikan harga komoditas pertanian, maka yang paling diuntungkan adalah pedagang, namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada komoditas cabai, minimal untuk tahun ini. Pedagang pastinya juga untung walau tidak lebih besar karena kuantitas penjualan menurun, namun dalam hal ini petani menjadi untung.

Menjadi dilema ketika stabilitas harga sangat diperlukan dengan mengembalikan harga ke level semula di satu sisi, namun kesejahteraan masyarakat khususnya petani cabai tidak boleh dikorbankan pada sisi yang lain. Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam menyikapi kenaikan harga cabe ini.

Jelas dalam kondisi alam menjadi penyebab turunnya produksi dan meningkatnya harga, tak memungkinkan untuk menambah produksi dalam waktu dekat. Salah satu solusi di antaranya adalah dengan menstabilkan harga banyak komoditas yang lain untuk tidak kemudian juga mengalami peningkatan. Serta berusaha menurunkan harga komoditas yang juga sebelumnya mengalami peningkatan yang mana peningkatannya tersebut tidak berimplikasi pada naiknya kesejahteraan sebagian masyarakat bawah.

Seperti sesegera mungkin menurunkan harga minyak goreng. Yang pada kenyataannya itu bisa dilakukan dan sepertinya dengan mudah ketika ada kamauan. Yang seharusnya ini telah dilakukan sejak ketika tren cabai mulai mengalami peningkatan. Bukan seperti saat ini ketika inflasi sudah telanjur tinggi akibat naik tingginya harga cabai, baru kemudian minyak goreng mulai diupayakan turun. Disinilah kepekaan dan keberpihakan pemangku kepentingan diperlukan dan diuji. Jatengdaily.com-yds