By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Potret Perempuan dalam Kemiskinan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Potret Perempuan dalam Kemiskinan

Last updated: 3 Maret 2022 18:58 18:58
Jatengdaily.com
Published: 3 Maret 2022 18:51
Share
SHARE

Oleh: Ayu Lailal Barikha, S.Tr.Stat
Statistisi Ahli Pertama pada Badan Pusat Statistik Kota Pekalongan

PEREMPUAN tergolong rentan mengalami berbagai permasalahan, termasuk masalah pendidikan, kesehatan, diskriminasi, dan kemiskinan. Perempuan seringkali hanya dianggap sebagai kelompok subordinat yang dinomorduakan setelah laki-laki, padahal saat ini kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki semakin santer diserukan. Perempuan juga memiliki hak yang setara dengan laki-laki, di antaranya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan, pendidikan, kesehatan, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 2030 Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi. Bonus demografi merupakan kondisi dimana penduduk Indonesia pada tahun 2030 akan didominasi oleh penduduk usia produktif, yaitu penduduk yang berusia 15 hingga 64 tahun. Perempuan memiliki peran strategis sebagai “sekolah pertama” dalam mendidik anak menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter unggul. Peran perempuan tidak hanya sebatas dalam rumah saja, tetapi perempuan juga memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional.

Akan tetapi, masih banyak perempuan yang kesulitan mencapai akses pendidikan dan kesehatan. Padahal, pendidikan dan kesehatan merupakan factor penting dalam mendorong kemandirian ekonomi perempuan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan, pada tahun 2021 masih ada 10,56 persen perempuan di Kota Pekalongan yang tidak memiliki ijazah SD dan hanya 42,69 persen perempuan berusia 15 tahun ke atas di Kota Pekalongan yang memiliki ijazah SMA/sederajat ke atas.

Artinya, kurang dari setengah penduduk perempuan berusia 15 tahun ke atas yang memiliki ijazah SMA/sederajat ke atas. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki yang lulus SMA/sederajat ke atas yang sebanyak 44,39 persen. Miris rasanya, karena pemerintah mencanangkan wajib belajar 12 tahun untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada penduduknya dan meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Salah satu indikator yang dirilis oleh BPS untuk mengukur tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk adalah pengeluaran per kapita yang disesuaikan. Pengeluaran per kapita merupakan rata-rata banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi seluruh anggota rumah tangga yang telah disesuaikan dengan paritas daya beli. Pada tahun 2020, Pengeluaran per kapita perempuan di Kota Pekalongan sebesar 12,066 juta rupiah per orang per tahun, sedangkan pengeluaran per kapita laki-laki sebesar 16,404 juta rupiah per orang per tahun.

Terdapat perbedaan yang cukup besar antara rata-rata pengeluaran penduduk laki-laki dan perempuan di Kota Pekalongan. Hal ini mengindikasikan bahwa perekonomian perempuan masih berada cukup jauh di bawah perekonomian laki-laki. Sementara itu, pengeluaran per kapita perempuan pada tahun 2019 ke tahun 2020 mengalami penurunan, dari 12,275 juta rupiah per orang per tahun menjadi 12,066 juta rupiah per orang per tahun. Hal ini mengindikasikan terjadi penurunan pada kondisi perekonomian perempuan.

Sebagai wujud dukungan dalam pemberdayaan perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam perekonomian, Pemerintah Kota Pekalongan mengadakan program pembuatan seribu masker oleh perempuan-perempuan kepala keluarga dan terdampak Covid-19. Program ini dinilai efektif untuk mendorong partisipasi aktif perempuan di masa pandemi Covid-19 sehingga mereka bisa mandiri dan produktif.

Kemandirian ekonomi perempuan dapat menjadi solusi strategis dalam upaya pembangunan nasional. Perempuan tidak harus bekerja di sektor formal saja. Sektor informal dapat lebih dioptimalkan sebagai langkah dalam mewujudkan kemandirian ekonomi perempuan. Di era globalisasi dimana teknologi dan informasi berkembang dengan cepat sangat memungkinkan bagi perempuan untuk dapat bekerja dari rumah dengan memanfaatkan teknologi, misalnya menjadi pedagang online.

Perempuan tidak harus memilih antara mengurus rumah tangganya atau berpartisipasi aktif dalam perekonomian. Perempuan dapat menjalankan kedua peran ini dengan optimal. Diharapkan juga lebih banyak program-program ekonomi dan ketenagakerjaan dengan sasaran utamanya adalah perempuan sehingga perempuan dapat mewujudkan kemandirian ekonomi dan semakin jauh dari jerat kemiskinan. Jatengdaily.com-st

 

 

You Might Also Like

Dinamika Penanganan Permukiman Kumuh di Indonesia pada Dasawarsa Terakhir
Nasib Buruh versus Investasi Usaha
Ibu, Antara Tulang Rusuk dan Tulang Punggung
Efektifitas Media Word Wall dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Fatwa MUI No 2/2021 dan Vaksinasi COVID-19
TAGGED:dan kemiskinandiskriminasikesehatanPotret Perempuan dalam Kemiskinanrentan mengalami berbagai permasalahantermasuk masalah pendidikan
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?