Oleh: Gus Anies Maftuhin
DUA pekan sudah kita lalui bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Tentu saja ada yang merasa begitu cepat dan ingin agar ramadhan ini melambatkan langkahnya. Namun, pasti ada juga yang merasakan hari hari puasa di bulan suci ini terasa lama dan tak kunjung usai. Nah, termasuk manakah kita?
Semoga kita termasuk yang pertama, yaitu golongan orang orang yang Istiqomah dalam memanfaatkan setiap detik dari ramadhan ini untuk mendulang pahala kebaikan, ampunan dan rahmatNya.
Apalagi pekan kedua ini termasuk dalam fase Maghfiroh, yaitu sepuluh hari kedua yang oleh Rasulullah Saw kita dianjurkan untuk mengejar ampunan Allah atas dosa dosa kita selama ini.
Dalam sebuah Qudsi, Allah berfirman, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang, dan Aku mengampuni semua dosa, maka minta ampun lah kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu kelemahan manusia seperti kita ini adalah seringkali tak kuasa menyelamatkan diri dari berbagai bisikan, godaan dan tipu daya syetan.
Alhasil, diakui atau tidak maka diri kita pasti berlumuran dosa dan kesalahan. Ya, baik dosa itu kita lakukan dengan sengaja dan bahkan kita menikmatinya dengan jiwa raga kita, atau dosa dosa yang kita perbuat karena memang kealpaan, kebodohan dan ketidakmampuan kita menguasai nafsu kita.
Meski begitu, dalam hadis tadi Allah juga sudah dengan tegas membentangkan rahmatNya untuk memberikan ampunan kepada siapa saja yang mau bertobat dan memohon magfirahNya. Maka, sudah seharusnya bila di pekan kedua bulan puasa ini kita berlomba lomba menyambut ampunan yang ditawarkan oleh Allah kepada hamba hambaNya yang tengah berpuasa.
Perlu kita catat, belum tentu kita bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan. Kalau pun bisa berjumpa, belum tentu pula kita dalam kondisi prima (sehat badan, tenang pikiran dan kuat iman) seperti sekarang, sehingga bisa mengisinya dengan aneka macam amalan.
Di mana pun, penyesalan selalu datang belakangan. Dan ramadhan ini tak peduli seberapa banyak amalan yang sudah kita lakukan, atau sebesar apapun ampunan yang sudah kita dapatkan. Dia akan terus berjalan mengikuti putaran waktu yang tak bisa ditahan.
“Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahan ya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka,” kata Rasulullah sebagaimana dituturkan oleh Salman Al Farisi dalam beberapa riwayat. Dan fase pembebasan dari neraka bagi orang orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan ketaqwaan itu sudah menanti tak sabar di pekan depan.
Kita hanya bisa memilih; berpuasa dengan Istiqomah dalam ketaatan, keutamaan dan kebajikan, atau menyerah kalah dengan tetap berpuasa dalam dekapan kemalasan dan kehangatan pelukan nafsu berleha leha yang akan menghantarkan kita pada penyesalan?
Muslim yang bijak dan cerdas, pasti nuraninya akan mengajak
dirinya untuk bertahan mengisi sisa sisa hari ramadhan dalam semangat ketakwaan dan keimanan.
Istiqomah menjalani berbagai syiar dan keutamaan Ramadhan ( shalat tarweh, tadarus Al Qur’an, dan banyak sedekah) adalah pilihan tepat bila tak ingin berjumpa dengan penyesalan. Selamat bertahan dan hidupkan ramadhan sampai akhir bulan!
*Pengasuh Ponpes Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI) Salatiga dan pegiat Literasi Islam. Akun IG : @gus_anies. Jatengdaily.com-st


