Ketika Rasulullah Rumuskan Piagam Madinah


Oleh: Dr KH Ahmad Rofiq
Wakil Ketua Umum MUI Jateng

ALLAH menjadikan kita sebagai hamba, untuk memikul beban berat dan tugas suci menjadi khalifah di muka bumi ini. Untuk itu kita mesti mempersiapkan bekal, dan satu-satunya modal kita adalah, iman dan taqwa kepada Allah SWT, agar kita mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik.

Allah SWT berfirman: “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad, 26).

Ketika Rasulullah saw merumuskan piagam Madinah, para Ulama memahami, bahwa realitas kehidupan politik tidak bisa dihindari keberadaannya. Karena itu, politik dalam tata Kelola negara dan pemerintahan yang baik, merupakan suatu keniscayaan. Sejarah telah mencatat seorang figur pemimpin Negara, namun dalam melaksanakan tugas dan amanatnya, selalu meminta nasehat kepada ulama, agar tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji, apalagi sampai mengecewakan rakyatnya.

Rasulullah saw juga senantiasa mengingatkan kita sebagai umat beliau, agar bersiap diri, karena kita harus mempertanggungjawabkan umur, jasad, ilmu, dan rizqi yang kita terima dari Allah. Riwayat dari Mu’adz ibn Jabal, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah akan bergeser kedua kaki seorang hamba nanti di hari kiamat, sehingga ditanya tentang empat hal, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang jasadnya untuk apa dirusakkan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tetang hartanya dari mana didapat dan dibelanjakan?” (Riwayat Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi).

Dikisahkan, seorang ulama sufi, Hasan al-Bashry menasihati khalifah yang saleh dari Bani Umayyah, ‘Umar bin ‘Abdul Aziz tentang hakikat dunia. Karena bisa jadi, orang yang saleh pun, ketika memegang kekuasaan tinggi, dapat tergelincir, karena itu dibutuhkan penasehat untuk terus mengingatkannya. Apalagi wilayah kekuasaan Bani Umayyah waktu itu sangat besar. Al-Hasan menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz: “Wahai Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah, Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia, akan meninggalkannya. Orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (di akhirat). Penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya.

Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah, itulah letak kebinasaannya. Wahai Amirul Mu’minin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya.

Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia ibarat pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat padanya, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya. Wahai Amirul mu’minin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan. Kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan.

Ketahuilah wahai Amirul Mu’minin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya adalah penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufiq, dan orang yang berpegang padanya adalah celaka lagi tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai, adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah SWT untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi.

Keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang. Dunia, wahai Amirul Mu’minin, adalah rumah hukuman, siapa yang tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya. Dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan. Dia takut kepada buruknya akibat perangkap dunia, di akhirat kelak. Dunia, wahai Amirul Mu’minin, demi Allah, hanya laksana mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata. Di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan.

Sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mu’minin, apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak, “Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat”. Ketika surat Al-Hasan al-Basri itu sampai di tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan: “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Basri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian.

Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah seorang ulama yang penuh kasih sayang terhadap kami (pemimpin). Beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih. Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan: “Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati.” Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata: “Amirul Mu’minin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat.

Allah SWT telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah”. Karena itu, bagi Anda sekarang atau kelak mendapatkan amanat menjadi pejabat, maka berusahalah secara sungguh-sungguh untuk menjalankan amanat itu dengan kejujuran sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah sosok khalifah yang memberikan contoh nyata bagaimana setiap hari dia menangis, karena takut dibayangi akan adanya tuntutan warga yang mengalami hidup susah.

Islam tidak melarang warganya berpolitik dan kaya, karena politik adalah instrument penting untuk dakwah dan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Tetapi berpolitik yang mengedepankan kejujuran, keadilan, dan demi kemashlahatan rakyat. Bukan untuk kepentingan pihak lain, apalagi hanya kelompoknya, yang ujungnya harus “menggadaikan” kedaulatan negara dan bangsa ini. Allah a’lam bi sh-shawab. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here