KEDIRI (Jatengdaily.com) – Hari kedua ziarah Walisongo dan Masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri, dalam rangka Haul dan Haflah Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah santiwan dan santriwati ngalap berkah sowan ke beberapa masyayikh Al Falah Ploso.
Beberapa masyakhir tersebut di antaranya, Hj Jumi’ati, KH Nurul Huda Djazuli, Gus H Zidni Ilman Nafi’ah bin KH A Zainuddin Djazuli, Gus H M Iffatul Lathoif bin KH A Zaenuddin Djazuli, Gus H M Abdurrahman Al Kautsar bin KH Nurul Huda Djazuli, dan Gus H Fahmi Royani bin KH Fuad Musim Djazuli.
Sebelumnya santriwan dan santriwati Life Skill Daarun Najaah diajak untuk ziarah ke makam para masyayikh Al Falah Ploso yang telah wafat seperti, KH Ahmad Djazuli Ustman, Nyai Hj Rodliyah Djazuli, KH Ahmad Zanuddin Djazuli, KH Fu’ad Mun’im Djazuli, dan Nyai Muntoqim (Ibu KH Djazuli).
Pengasuh Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah Dr H Ahmad Izzudin, M.Ag mengatakan, kunjungan sowan ke beberapa masyayikh Al Falah Ploso bertujuan untuk memberikan motivasi kepada santriwan dan santriwati nderek dan meminta keridhoan dari Kyai Djazuli, meskipun hanya semalam bermukim di Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
“Alhamdulillah saya meminta ridho semoga santri-santri Life Skill Daarun Najaah nderek menjadi santri Kyai Djazuli walaulahdlotan semalam. Saya pernah mendengarkan dawuh dari Gus Miek itu, barang siapa yang niat mondok di Ploso walaulahdlotan diakui santrinya Kiai Djazuli. Anak-anak termotivasi dan berziarah ke masyayikh Al Falah Ploso ,” katanya.
Gus H Zidni Ilman Nafi’ah bin KH A Zainuddin Djazuli saat memberikan sambutan menerangkan, bahwa peran santri yang hanya mondok dan mahasiswa yang juga mondok memiliki peran yang sama. Yakni dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat, tentang pemahaman ajaran Islam radikal dan tidak radikal. Perbedaannya terletak pada tempat dan cara menyampaikannya.
“Pondok nggih ngeten, hanya versinya berbeda. Kalau panjenengan tugasnya di fakultas-fakultas, sedangkan pola pikir para nahdiyin nahdiyat keluaran pesantren ini tidak banyak memiliki pengalaman di luar, otomatis yang memberikan pemahaman itu panjanengan yang kuliah, sehingga mereka bisa terselamatkan dari pikiran radikal. Maka dari itu, saya kira tidak ada yang berbeda dari sekolahnya, tapi tujuannya sama. Semoga kita diberikan kekuatan dan kekokohan dalam mempertahankan akidah ahlisunnah wal jama’ah,” terangnya.
Berbeda dengan Gus Zidni, Gus H M Iffatul Lathoif bin KH A Zaenuddin Djazuli menjelaskan pentingnya mahasiswa untuk memahami furudhul ainiyah, terutama perihal urusan kewajiban yang bersifat pribadi seperti melakukan ibadah shalat.
“Pendidikan formal tidak sama dengan pendidikan di pondok. Paling penting minimal para mahasiswa mengerti furudhul ainiyah kewajiban-kewajiban yang sifatnya personal bagaimana melakukan ibadah shalat yang baik dan benar. Saya yakin semuanya bisa cuman ketika dikoreksi apakah lantas benar? Makanya di sini pun di salaf hampir full memperlajari diniyah,” jelasnya.
Selain itu, Gus HM Abdurrahman Al Kautsar bin KH Nurul Huda Djazuli mengingatkan kepada santriwan dan santriwati Life Skill Daarun Najaah yang merupakan seorang mahasiswa agar hati-hati terhadap fenomena viral di media sosial. Bagi Gus Kautsar, keviralan di media sosial dapat membunuh siapa saja dan membuat seorang luput dengan kebenaran, sehingga diharapkan agar santri dan sanriwati waspada saat menggunakan sosial media.
“Era media sosial saat ini seorang merasa mampu, seorang merasa bisa padahal blas. Maka sebelum menggunakan jempolmu. Jempol ini adalah selain dua mulut yang kita miliki, apa yang diharamkan di mulut kita juga haram untuk ditulis lewat tangan kita,” jelas Gus Kautsar. st
0



