By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Sastra Peranakan Tionghoa Terabaikan
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Seni BudayaSorot

Sastra Peranakan Tionghoa Terabaikan

Last updated: 30 Juli 2022 05:59 05:59
Jatengdaily.com
Published: 30 Juli 2022 05:46
Share
SHARE

 

Oleh Gunoto Saparie

BENARKAH sastra Indonesia modern lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap.
Namun Ibnu Wahyudi pernah menunjukkan awal keberadaan sastra Indonesia modern dimulai pada 1870-an, yang ditandai dengan terbitnya buku Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi (anonim) yang sekarang diterbitkan kembali dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (Jakarta: KPG, 2000). Agaknya ada keinginan pada Ibnu Wahyudi untuk meluruskan sejarah sastra Indonesia yang sekarang diajarkan di sekolah-sekolah. Pelurusan sejarah ini penting karena berkaitan langsung dengan kesadaran kita mengenai bangsa dan negara Indonesia.

Sejak Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menyarankan untuk memutuskan sejarah kebudayaan pra-Indonesia (masa sebelum akhir abad ke-19) dengan kebudayaan Indonesia (awal abad ke-20 hingga kini), serta merta menghasilkan mata rantai sejarah yang terputus. Seolah-olah kebudayaan Indonesia baru lahir mulai 1900 sekaligus menafikan perjalanan sejarah bangsa yang telah berjalan ribuan tahun.

Lompatan besar yang dilakukan STA itu sejalan dengan politik etis yang tengah dilakukan kolonial Belanda. Namun hal itu sekaligus menjadi kabut yang mengaburkan jatidiri bangsa Indonesia. Pandangan Sanusi Pane yang senafas dengan Poerbatjaraka dalam menanggapi STA sebenarnya memperlihatkan pandangan yang khas Indonesia. Dalam arti, mereka tidak silau dengan pengaruh Barat yang masuk ke Indonesia dan tidak mabuk dengan kebudayaan bangsanya sendiri. Poerbatjaraka mengingatkan bahwa sejarah hari ini adalah kelanjutan dari sejarah masa lalu dan tidak terpotong begitu saja. Ia pun menegaskan bahwa sejatinya yang harus dilakukan adalah menyeleksi kebudayaan Indonesia yang purba dan pengaruh kebudayaan Barat untuk diformulakan menjadi kebudayaan Indonesia baru.

Jika kita masih berpegang pada pendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920, kita masih setia pada sejarah yang terpotong itu. Kalau merujuk politik etis kolonial Belanda yang membentuk Commissie voor de Indlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) pada 1908, dan selanjutnya pada 1917 mendirikan Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang diberi nama Balai Pustaka, kelahiran sastra Indonesia—dengan demikian—merupakan produk politik etis kolonial Belanda itu. Padahal, pengaruh Barat semacam itu hanyalah babakan kecil dari pengaruh luar yang masuk ke Indonesia. Dengan kata lain, keterpengaruhan itu hanya bagian kecil dari keindonesiaan kita.

Hasil penelitian Ibnu Wahyudi menunjukkan bahwa ia sudah terlepas dari kungkungan pemikiran yang dibentuk Belanda. Dengan menempatkan karya-karya sastrawan Indonesia dari peranakan Cina sebagai titik awal kelahiran sastra Indonesia, sesungguhnya ia telah menghadirkan wacana baru bahwa karya sastra yang tidak melalui sensor Balai Pustaka, yang tidak menggunakan bahasa Melayu tinggi, yang disebut sebagai bacaan liar, yang ceritanya berdasarkan peristiwa “yang sungguh-sungguh pernah terjadi”, adalah juga termasuk dalam khasanah sastra Indonesia.

Penyesalan Salmon

Claudine Salmon pun pernah menyatakan penyesalan terhadap kecenderungan ahli-ahli sastra Indonesia yang mengabaikan peranan bacaan peranakan Cina dalam Kesusastraan Modern Indonesia. Dengan ketekunan 14 tahun ia telah menemukan buku-buku ini dalam jumlah cukup banyak: 3.005 buah, diterbitkan selama kurang lebih satu abad, mulai 1870 sampai 1960-an.

Beberapa alasan dikemukakannya. Pertama, bacaan ini dianggap berasal dari masyarakat peranakan Cina, alias “asing”. Dan kedua adalah alasan berhubung dengan arti kata literature (sastra). Sudah jelas Salmon mengambil arti literature yang luas yang berarti “semua tulisan dalam prosa atau syair, terutama yang bersifat imajinatif atau kritis, tanpa memandang mutunya”.

Myra Sidharta mengatakan, waktu pada akhir abad 19 aksara Latin mulai menggantikan aksara Jawi, orang peranakan dengan cepat menyesuaikan diri. Banyak cerita digubah ke aksara Latin, dan surat-surat kabar mulai diterbitkan dalam bahasa Melayu. Rupanya buku pertama diterbitkan pada 1871: sebuah buku kecil, Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi. Buku itu, masih tersimpan di perpustakaan Museum Jakarta, karena kulit depannya telah hilang tidak diketahui pengarangnya. Tetapi dengan analisa penggunaan kata-kata, Salmon menarik kesimpulan pengarangnya seorang peranakan. Setelah buku ini ia masih menemukan Syair Burung dan Syair Siti Akbari oleh Lie Kim Hok.

Penerbitan bacaan “Melayu Tionghoa” berkembang pesat, dan 1886-1910 tercatat 40 syair dan sejumlah besar terjemahan dari bahasa Cina maupun bahasa asing lain. Dengan berhasilnya revolusi kebudayaan Guo Min Dang, 1911, timbullah hubungan baru antara Cina dan rakyatnya dalam perantauan. Di samping itu pemerintah Belanda juga mengadakan perubahan politik. Hingga kaum peranakan terbagi dua yang berorientasi ke Cina dan yang ke Belanda. Ini tercermin di bacaan mereka: di samping terjemahan dari bahasa Cina terdapat jumlah cukup besar terjemahan dari bahasa Barat. Sedang karangan asli banyak mengenai kurang baiknya pengaruh Barat terhadap kaum peranakan, terutama para wanitanya.

Pada periode berikutnya, dari 1924 sampai 1942, nasionalisme kaum pribumi Indonesia menyebabkan masyarakat peranakan mendapat orientasi baru lagi. Apalagi dengan bertambahnya pemeluk Islam di antara mereka. Di Jawa Tengah dan Timur mereka mendirikan Partai Tionghoa Indonesia tahun 1932, dan dua tahun kemudian Persatoean Islam Tionghoa dibentuk. Perkembangan sastra peranakan mencapai puncaknya pada periode ini–dan terutama digalakkan oleh adanya seri-seri penerbitan seperti ‘tjerita roman’, ‘penghidoepan’ dan sebagainya, yang tiap bulan menerbitkan sebuah novel asli maupun terjemahan. Belum lagi majalah-majalah.

Di samping cerita dengan tema masyarakat peranakan, kita dapat juga melihat cerita mengenai masyarakat pribumi dan Belanda maupun mengenai pergaulan antara ketiga macam masyarakat ini dengan konsekuensinya. Bahkan cerita detektif dan petualangan, di samping sejumlah besar sandiwara. Sebagai seorang wanita, Salmon menaruh banyak perhatian terhadap pengarang wanita. Dan menemukan beberapa yang sering menulis syair dan cerita pendek, bahkan cerita bersambung dan novel. Pada 1928 mereka menggabungkan diri dalam suatu persatuan yang menerbitkan sebuah majalah wanita. Tidak bertahan lama. Tetapi masih ada beberapa majalah lain yang diasuh wanita, seperti Doenia Isteri di Surabaya dan Istri yang diterbitkan Nyonya Tjoa Hin Hoey di Batavia.

Dengan masuknya pemerintah Jepang, seluruh penerbitan dihentikan. Tetapi sesudah 1945 sastra peranakan dihidupkan kembali, meski tak pernah mencapai taraf sebelumnya. Tahun 60-an masyarakat peranakan sudah cukup terasimilasi, hingga tak punya bacaan khusus lagi kecuali cerita silat.

Ayah Arief Budiman

Berkat penyelidikan intensif, Salmon berhasil memperoleh data biografis dari sejumlah besar pengarang. Tidak banyak orang tahu bahwa Soe Lie Piet, ayah kakak-beradik Arief Budiman dan Soe Hok Gie, juga pengarang produktif yang telah menerbitkan kurang lebih 40 buku — termasuk novel, terjemahan dan sebuah petunjuk parawisata ke Bali. Sedang Njoo Cheong Seng, pengarang terkenal dari seri detektif Gagaklodra, sebenarnya pemain sandiwara dan menulis sejumlah besar buku untuk diolah sebagai film, di mana istri pertamanya, Fifi Young, diberi peran utama.

Perjalanannya ke negara-negara asing dengan kelompok sandiwaranya memberi kesempatan menulis dengan latar belakang negara asing seperti India, Burma, Cina. Tetapi ia juga menggubah sejumlah besar berita daerah seperti Tjinggalabi Aocah dari Irian dan Itanri Sani, cerita Bugis. Rangkaian daftar ini diikuti daftar karya anonim, seri-seri penerbitan (Pendekar Silat, Moestika Panorama dan sebagainya), syair-syair, sandiwara, terjemahan dari bahasa Cina, Barat, India, dan lain lain. Sejumlah foto dari tokoh-tokoh terkenal, dan kulit muka buku-buku, berfungsi sebagai penutup.

Sejauh ini belum ada pengakuan atas kepeloporan masyarakat Peranakan Tionghoa dalam proses kebangsaan Indonesia melalui kesusastraan. Kurangnya pengakuan ini tidaklah adil. Secara kuantitatif, menurut perhitungan Claudine Salmon, selama kurun waktu hampir 100 tahun (1870-1960) kesusastraan Melayu-Tionghoa ada 806 penulis dengan 3.005 buah karya. Bandingkan catatan Prof. Dr. A. Teeuw, selama hampir 50 tahun (1918-1967), kesusastraan modern Indonesia asli hanya ada 175 penulis dengan sekitar 400 buah karya. Kalau dihitung sampai tahun 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 buah karya.

Sudah lama suara terpendam yang mengakui kepeloporan kesastraan Melayu-Tionghoa mulai terdengar sayup-sayup meskipun di bawah tekanan pendapat umum. Kembali menurut Claudine Salmon, pada 1930-an, Nio Joe Lan sudah menyerukan pentingnya peranan kesusastraan ini. Dinamainya dengan Kesusastraan Indo-Tionghoa (de Indo-Chineesche literatuur), yang berkembang sendiri di luar lembaga resmi.

Setelah merdeka, Pramoedya Ananta Toer berulang kali menyebut masa perkembangan kesastraan Melayu Tionghoa sebagai masa asimilasi, masa transisi dari kesusastraan lama ke kesusastraan baru. Tahun 1971, C.W. Watson menyebutnya pendahulu kesusastraan Indonesia modern. Tahun 1977, John B. Kwee menulis disertasi di Universitas Auckland tentang apa yang disebutnya Kesastraan Melayu Tionghoa (Chinese Malay Literature).

Hal itu terungkap dalam “Sekapur Sirih” buku Kesastraan Melayu-Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, Jilid 1, cetakan ke-1 Februari 2000. Buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation jilid pertamanya memuat tujuh buah tulisan: 1. Sair Kedatangan Sri Maharaja Siam di Betawi (1870) pengarangnya anonim, 2. Sya’ir Jalanan Kreta Api (1890) oleh Tan Teng Kie, 3. Kitab Eja A.B.C. (1884) oleh Lie Kim Hok, 4. Lo Fen Koei (1903) oleh Thio Tjin Boen, 6. Cerita Sie Po Giok (1912) oleh Tio Ie Soei, dan 7. Riwajatnja Sato Bokser “Tionghoa” (Tan Sie Tiat) (1928) Telah terkumpul dan terpilih tulisan sebanyak 15.000 halaman. Diperkirakan seluruhnya akan terbit dalam 25 jilid.

Myra Sidharta menunjukkan bagaimana kaum peranakan Tionghoa adalah minoritas yang tidak berwilayah, tetapi tersebar di seluruh Indonesia. Mereka merupakan hasil kawin campur antara orang-orang Tionghoa dengan masyarakat setempat. Bahasa mereka sebelum kemerdekaan campuran bahasa Melayu dengan bahasa Tionghoa, umumnya dengan dialek darah Fujian atau Hokkian. Dalam sastra mereka, yang ditulis dalam bahasa lisan sehari-hari, terdapat juga kata-kata bahasa Jawa atau dialek setempat lainnya, seperti Sunda bahkan seringkali Belanda.

Mengutip tulisan Nio Joe Lan Sastra Indonesia-Tionghoa (1962), sastra kaum peranakan Tionghoa yang ditulis dalam bahasa lisan sehari-hari tidak akan ditulis lagi. Menurut hukum Indonesia, tidak ada lagi kaum peranakan karena orang-orang etnis Tionghoa telah menjadi bangsa Indonesia atau bangsa Tionghoa sesuai dengan pilihan mereka.

Menurut Nio, karya-karya sastra kaum peranakan ini sangat kaya isinya, meskipun miskin dari sudut bahasa. Oleh karenanya, Nio menyarankan agar karya-karya itu dikaji dari sudut sejarah, sastra, dan psikologi. Karya-karya sastra yang ditulis oleh pengarang-pengarang keturunan Tionghoa berakhir tahun 1962.

Membaca karya-karya itu diakui Myra Sidharta seperti membawa dia ke dunia yang dikenalnya yang hampir pupus dari ingatan. Gambaran yang tercermin adalah dunia kaum peranakan sebelum Perang Dunia II. Isinya sarat dengan ajaran moral dan peringatan terutama tertuju pada kaum perempuan seperti agar taat pada ajaran Konfusius yang mengharuskan para gadis mematuhi orang tuanya, para istri mematuhi suaminya, dan para janda mematuhi putranya.

Sastra Melayu-Tionghoa atau sastra Indonesia-Tionghoa adalah sastra kaum minoritas. Nasibnya tampak lebih jelek dari roman picisan dan novel pop. Kedua yang disebut terakhir hanya dipandang dengan sebelah mata, sedangkan sastra Indonesia Tionghoa hanya dilirik sekilas.

Memang, Balai Pustaka memiliki peran penting dalam menumbuhkembangkan kesusateraan Indonesia, namun tetap juga menimbulkan persoalan lain yang sangat berkaitan dengan politik kolonial di tanah jajahan (Indonesia). Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Balai Pustaka melahirkan sastrawan dan kritikus Sastra Indonesia Modern yang berarti ikut mengembangkan kesusateraan Indonesia pada umumnya, tetapi tindakan para penjajah melakukan propaganda antinasional, mengklaim penerbit swasta sebagai ”saudagar kitab yang kurang suci hatinya” adalah suatu tindakan yang telah mencoreng hakikat ilmu sastra, terkhusus pilar sejarah sastra. Citra buruk yang dilabelkan oleh Belanda terhadap penerbit partikulir (swasta) diciptakan agar Balai Pustaka tetap dianggap sebagai penerbit yang berwibawa dan terhormat.

Belanda melalui politik kolonialnya dengan berbagai cara berusaha mengunci ilmu pengetahuan, membonsai pribumi agar Belanda tetap dapat menginjak-injak kaum pribumi.
Padahal, jauh sebelum Balai Pustaka ada, beberapa penerbit peranakan Tionghoa sejak 1833 telah ada. Tercatat Kho Bie & Co., Tjoei Toei Yang, Firma Sie Dhian Ho. Penerbit dan percetakan inilah yang banyak menerbitkan buku terjemahan, termasuk buku sastra dan cerita silat, karya pengarang peranakan Tionghoa.

Dengan demikian, pengarang peranakan Tionghoa ikut mengembangkan khazanah sejarah kesusatraan Indonesia. Bahkan bisa juga disebut sebagai pembuka jalan menuju sastra Indonesia Modern. Akibat dari tindakan kolonialis Belanda ini, sastra peranakan Tionghoa tercecer dan tak tercatat dalam sejarah kesusasteraan Indonesia.

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah-Jatengdaily.com-st

 

You Might Also Like

Kemenag Ungkap Peran Guru PAI dalam Mengajarkan Moderasi Beragama Sejak Dini
Kiat Membuat Skripsi di Masa Pandemi Agar Tetap Produktif
Literasi Statistik
Harta Milik Badan Hukum, Apakah Wajib Zakat?
Menyambut Idul Qurban : Meluruskan Beberapa Kebiasaan
TAGGED:Jatengdaily.comSastra Peranakan TionghoaTerabaikan
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?