in ,

Literasi Statistik

Oleh: Ir Laeli Sugiyono MSi
Statistisi Ahli Madya
pada BPS Provinsi Jawa Tengah

SEBENARNYA statistik tanpa disadari sudah sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Coba ingat-ingat kegiatan di dapur yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Mereka selalu mencicipi masakan untuk memastikan apakah masakan yang diolahnya lezat. Aktifitas mencicipi ini merupakan suatu proses mengambil contoh sebagian dari populasi masakan, yang dalam ranah ilmu statistik dinamakan sampling.

Coba saja kalau uji coba masakan tadi diambil dari seluruh masakan yang ada atau dilakukan secara sensus, tentu bapak dan anak-anak tidak kebagian masakan lezat si ibu dan ibu harus memasak ulang untuk bahan hidangan keluarga.

Aktivitas mencoba buah yang hendak dibeli dari bakul buah juga merupakan peristiwa statistik. Si pembeli mengambil buah secara sembarang atau secara acak dari sekumpulan buah yang dibawa oleh bakul buah. Setelah dirasakan buah yang dimakan ranum dan legit. Pembeli memutuskan untuk membeli buah.

Tapi sebaliknya berbeda jika buah yang dicicipi pembeli diambilkan oleh bakul buah dengan memilih buah buah yang ranum saja, padahal aebenarnya sebagian besar buah dagangannya kurang baik. Tentu kekecewaan pembeli bakal meledak setelah tahu buah yang dibelinya tidak ranum dan legit.

Sekelumit kisah aktivitas yang berkaitan dengan statistik menjadi sumber inspiratif dalam menyajikan artikel literasi statistik berikut ini.

Secara harfiah definisi literasi statistik adalah kemampuan untuk memahami bahasa statistik: kata, simbol, dan istilah. Mampu menginterpretasikan makna statistik, serta mampu membaca dan memahami statistik dalam berita, media, jajak pendapat, dan lain-lain (Garfield, 1999; Hovermill, Beaudrie & Boschmans, 2014, p. 1; Takaria, 2016).

Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (state)”. Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”.

Dalam official statistik kita mengenal sensus penduduk yang baru saja kita lalui dengan sensus penduduk online, yang diprakarsai oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penyelenggara mewakili Pemerintah Republik Indonesia.

Sejarah sensus penduduk menunjukkan bahwa sensus ini sudah dilaksanakan sejak 4000 tahun masehi, yaitu di Babylonia. Pada abad ke 16 dan 17, sensus dilaksanakan di Italia. Sisilia dan Spanyol untuk kepentingan militer, pajak, dan kerajaan. Sedangkan sensus modern dimulai di Quebec dan Swedia di pertengahan abad ke 16.

Kini sensus penduduk Indonesia tahun 2020 telah dilaksanakan. Sensus penduduk di Indonesia diperlukan untuk menghitung jumlah penduduk, mengetahui persebaran penduduk, lebih lanjut data kependudukan ini digunakan pemerintah sebagai landasan untuk membuat kebijakan di berbagai bidang, seperti pangan, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lain sebagainya.

Berita Statistik
Tak kalah serunya setiap kali BPS menyajikan berita resmi statistik (BRS), hampir sebagian besar dari kita selalu menunggu gerangan apakah yang telah terjadi dalam kehidupan sosial ekonomi bangsa Indonesia.

Sebut saja misalnya statistik ketenagakerjaan, pengangguran saat ini telah tembus 9,77 juta yang melonjak sebesar 2,67 juta orang dari keadaan Agustus 2019. Padahal COVID-19 baru saja masuk ke Indonesia Maret 2020. Lonjakan pengangguran yang sontak mangagetkan Pemerintah akibat pandemi COVID-19 begitu dahsyat pengaruhnya pada sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Kasus lain, pada September 2020 telah terjadi deflasi sebesar 0,05 persen dengan deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen dan deflasi terendah terjadi di Bukittinggi, Jember, dan Singkawang masing-masing sebesar 0,01 persen.

Ini menunjukkan ciri perekonomian yang lesu karena tertahannya daya beli masyarakat akibat diberlakukannya kebijakan pemerintah tentang pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) dan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) yang bertujuan untuk mencegah masifnya penularan COVID-19.

Melemahnya daya beli masyarakat di antaranya juga dipicu adanya rasionalisasi yang dilakukan perusahaan dalam menghadapi pandemi COVID-19 dengan melakukan efisiensi pemangkasan jam kerja karyawan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Di samping itu para pebisnis perorangan ataupun korporasi banyak yang kolap akibat menurunnya permintaan secara drastis pada masa pandemi COVID-19. Belum lagi informasi nilai tukar petani (NTP) pada Mei 2020 tercatat sebesar 99,47% atau turun sebesar 0,85% dari NTP April 2020.

Ini memberikan sinyal bahwa kesejahteraan petani Indonesia turun karena nilai tukar pertanian melemah dibandingkan dengan indeks yang harus dibayar, dan ini terjadi akibat adanya penurunan harga komoditas. Dampak Covid-19 juga telah merambah ke sektor pertanian akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Yang lebih menarik terkait dengan statistik yang dihubungkan dengan sebuah ungkapan “How to Lie with Statistics” yang merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Darrell Huff pada tahun 1954, yang menyajikan pengantar statistik untuk pembaca umum. Bukan ahli statistik, Huff adalah seorang jurnalis yang menulis banyak artikel “bagaimana caranya” sebagai seorang freelancer.

Di mana letak kebohongannya? Kebohongan yang dimulai dari mengumpulkan data. Selanjutnya disebut dengan kebohongan level 1. Bentuknya bisa bermacam-macam seperti: Manipulasi angket yang biasa dilakukan untuk menggiring responden kepada jawaban tertentu. Manipulasi Responden yaitu memilih responden tertentu. Manipulasi waktu yaitu memanfaatkan waktu tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Contohnya seperti ini: Pak Lurah disuruh membuat laporan mengenai tingkat pengangguran di wilayahnya. Bagaimana memanipulasi waktu? Ia cukup melakukan survei di musim tanam/panen, dengan demikian akan terlihat bahwa mayoritas penduduknya bekerja.

Lalu perhatikan data riil berikut, jumlah penduduk total adalah 1000 orang, yang terdiri dari 100 orang karyawan swasta, 100 PNS, 50 orang pedagang, 50 orang petani sekaligus pemilik sawah. 50 orang petani sekaligus pemilik sawah ini memperkerjakan masing-masing 2 orang, dengan demikian ada 2 x 50 = 100 yang bekerja sebagai petani lepas. Dengan demikian, ada 450 orang penduduk yang bekerja penuh.

Di masa tanam/panen, setiap pemilik sawah biasanya menambah 4 orang tenaga tambahan. Sehingga ada 4 x 50 = 200 pekerja paruh waktu. 450 + 200 = 650 penduduk yang bekerja. Jika pak lurah melakukan survei di masa ini, maka dapat dipastikan ia dapat mengurangi 200 (20%) angka pengangguran di desanya. Angka yang lumayan bukan?

Itu sekilas contoh kasus dengan kebohongan statistik, lantas apakah BPS menyajikan statistik juga bohong? Sepengetahuan penulis bisa diyakinkan bahwa BPS adalah lembaga yang dapat dipercaya. Mengapa demikian? Karena BPS memiliki visi bahwa BPS berperan dalam penyediaan data statistik nasional maupun internasional, untuk menghasilkan statistik yang mempunyai kebenaran akurat dan menggambarkan keadaan yang sebenarnya, dalam rangka mendukung Indonesia Maju. Apalagi untuk mendukung visi tersebut BPS mereformasi diri dengan iktikad menjadikan BPS suatu lembaga yang WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) dan WBBM (Wilayah Birokrasi Bersih Melayani). Jatengdaily.com-yds

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Polri Siap Jamin Keamanan dan Protokol Kesehatan Selama Pilkada

Rumah Zakat Bangun Sarana Pemanen Air Hujan di Blora

Atasi Krisis Air, Rumah Zakat Bangun Sarana Pemanen Air Hujan di Blora