Oleh Azka Muthia
Statistisi BPS Kota Pekalongan
LITERASI digital menjadi hal yang tidak terelakkan bagi semua kalangan termasuk di Provinsi Jawa Tengah. Di zaman yang serba canggih dan era digitalisasi masyarakat secara tidak langsung dituntut untuk mengikuti tren yang ada. Semua kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa dituntut untuk menggunakan internet dalam aktivitas sehari-harinya.
UNESCO dalam buku literasi digital menjelaskan bahwa literasi digital berhubungan dengan life skills atau kecakapan. Kemampuan ini tak hanya melibatkan teknologi saja, namun juga kemampuan untuk belajar, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif untuk kompetensi digital. Literasi digital ini erat kaitannya dengan transformasi digital. Dikutip dari webinar digital society, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo menyebutkan bahwa kemampuan literasi digital merupakan hal yang paling krusial dalam mewujudkan transformasi digital.
Transformasi digital ini menjadi penting terutama dikondisi pandemi seperti sekarang ini. Dari data yang dikutip dari kompas.id memperlihatkan bahwa sirkulasi logistik naik 60 persen akibat pengunaan delivery groceries. Selain itu konsumen digital naik 10,2 persen dan transaksi e-money naik 55 persen. Lebih lagi, pada tahun 2030 sektor keuangan digital diprediksi tumbuh delapan kali lipat. Belum lagi pembelajaran melalui daring pada dunia pendidikan menuntut kemampuan digital. Hampir setiap lini saat ini memanfaatkan kecanggihan digital dalam kegiatannya.
Hal ini selaras dengan data Badan Pusat Statistik hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang menunjukkan peningkatan persentase penduduk berumur 5 tahun keatas yang mengakses internet pada tahun 2021 dibanding tahun 2019 di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2021 persentase penduduk berumur 5 tahun keatas yang mengakses internet mencapai 62,20 persen naik signifikan dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 47,74 persen.
Sayangnya indeks literasi digital tahun 2021 untuk provinsi Jawa Tengah menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Jawa Tengah berada di posisi 11 terbawah dengan nilai 3,46. Angka ini berada dibawah capaian indeks nasional yang sebesar 3,49. Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi di Jawa yang memiliki capaian indeks literasi rendah.
Menurut pakar budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan, rendahnya skor literasi digital di daerah Jawa rendah berkaitan dengan dua variabel penelitian yaitu etika digital dan budaya digital. Hal ini karena sebenarnya pemanfaatan perangkat digital tidak semata penggunaan alat dengan terampil dan aman. Namun juga membentuk etika digital dan budaya digital yang baik.
Dari fakta diatas sangat disayangkan bahwa ternyata meski jumlah pengguna internet di Provinsi Jawa Tengah terus naik, belum diikuti dengan literasi digital masyarakat Jawa Tengah. Menurut data BPS Jawa Tengah menempati peringkat 11 teratas dilihat dari persentase penduduk yang mengakses internet. Berbanding terbalik dengan peringkat indeks literasi digital yang menempati peringkat 11 terbawah.
Rendahnya indeks literasi digital ini menjadi salah satu indikasi penyebab penyebaran berita hoax. Selain itu, menurut survey Microsoft digital civility index 2021 terbukti bahwa masyarakat Indonesia menjadi pengakses internet yang paling tidak sopan se Asia Tenggara. Kecenderungan penduduk yang berperilaku buruk di internet ini merupakan dampak dari rendahnya tingkat literasi digital.
Sementata itu, Lembaga analisis Katadata Insight Center (KIC) mengungkapkan bahwa gen X (usia 40-55) secara umum memiliki literasi digital yang lebih buruk dari kelompok remaja dan milenial muda. Hal ini juga diperparah dengan banyak yang menggunakan media sosial percakapan untuk menyebarkan berita dan informasi. Hal ini juga terjadi di Provinsi Jawah Tengah, data BPS menunjukkan di Jawa Tengah pada tahun 2021 sebanyak 91,33 persen mengakses internet pada sosial media seperti WhatsApps, Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya. Kenyataannya dari media tersebut terutama facebook dan WhatsApps banyak menyebarkan berita hoax dan penipuan.
Dari data BPS didapatkan pula bahwa di Provinsi Jawa Tengah sebagian besar penggunaan internet adalah untuk mendapatkan hiburan dan mendapatkan informasi atau berita selain untuk bersosial media. Semakin kurangnya literasi digital yang dimiliki oleh masyarakat akan membuat meningkatnya perilaku buruk dalam berinternet. Kurangnya literasi digital juga bisa menjadi maraknya penipuan secara daring yang memakan banyak korban.
Program literasi digital menjadi sebuah keharusan di tengah makin intensifnya penggunaan internet oleh masyarakat. Menjadi tugas pemerintah dan dunia pendidikan untuk memastikan setiap anak bangsa mampu mengoptimalkan kebermanfaatan internet yang salah satunya ditandai dengan potensi digital ekonomi Indonesia, literasi digital adalah sebuah keniscayaan untuk membentengi dari dampak-dampak negatif internet.
Ditambah kenyataan banyak sekali anak dibawah 17 tahun sudah diberi kebebasan dalam menggunakan internet oleh orang tuanya tanpa pengawasan. Jika tanpa adanya literasi yang baik akan menjadi dampak buruk bagi pertumbuhan anak tersebut karena menyerap hal-hal negatif dari internet. Pada akhirnya peningkatan literasi digital di Provinsi Jawa Tengah menjadi sebuah keharusan dan bukan peran salah satu pihak saja tapi seluruh pihak dan elemen mulai dari orang tua, guru, sampai pemerintah itu sendiri. Jatengdaily.com-st


