DEMAK (Jatengdaily.com) – Keberhasilan tak ada yang instan. Semua butuh proses, kerja keras, dan kemauan untuk merubah diri menjadi lebih baik.
Setidaknya demikian lah semangat Teguh Sapto Utomo (46) saat merintis usahanya. Sebelum kini sukses dengan penggemukan sapi, pengusaha karton box itu mengisahkan, suatu waktu untuk menjaga kesuburan kebun jambunya, dibutuhkan pupuk kandang seharga Rp 10 juta sekali pemupukan.
“Padahal untuk menjaga agar 200 pohon jambu saya terus berbuah lebat, dibutuhkan pemupukan dua kali setahun. Lantas saya berfikir, kenapa saya tidak berternak sapi saja? Sapinya dapat dikembangbiakkan, kotorannya bisa untuk memupuk kebun jambu. Ibarat sekali rengkuh, dua tiga pulau terlampaui,” ujarnya.
Akhirnya, bapak dua putera itu memutuskan membeli seekor sapi betina. Melihat perkembangannya yang bagus, Teguh akhirnya membeli lagi lima ekor sapi jantan. Sambil belajar secara otodidak dari banyak referensi, sapi-sapi itu tumbuh pesat dan laku dijual saat menjelang Idul Adha.
“Saat itu tahun 2016, dari penjualan sapi saya berhasil untung 5-10 juta setiap ekornya. Pastinya ini prospek yang bagus,” ujar bungsu dari tujuh bersaudara, yang pernah bercita-cita menjadi dokter itu.
Maka itu dia putuskan untuk mengembangkan usaha penggemukan sapi. Terlebih setiap tahunnya permintaan selalu meningkat, di samping tentunya ketersediaan pupuk kandang untuk kebun jambunya tercukupi.
Dari yang semula lima ekor, hanya dalam kurun waktu tujuh tahun Teguh kini telah membangun kandang dengan kapasitas 500 ekor sapi. Sebab selain kebutuhan Idul Adha, Mall Hewan Sapi Utomo melayani permintaan daging sapi harian untuk pangsa pasar di Jakarta. Maka selain sapi betina jenis Pegon, jenis Limosin dan Simental pun turut diternakannya.
Keberhasilan itu menurutnya, tak lain berkat kerja keras juga kemauan untuk merubah nasib. Disertai dukungan keluarga juga doa orang tua tentunya.
“Sebagaimana dalam ajaran agama disebutkan, Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu bangsa jika tidak mereka sendiri yang merubahnya. Semangat itu lah saya implementasikan pada kehidupan sehari-hari, utamanya pada dua anak saya. Bukannya sombong, tapi saya hanya ingin memberi contoh nyata,” ujar suami Sri Setyowati itu.
Satu hal lagi, kata Teguh, dirinya tak mau pelit ilmu. Maka dia bagikan tips sehingga sapi-sapinya gemuk maksimal hanya dalam kurun 4-5 bulan saja. Pertama, perlakukan sapi-sapi itu laiknya manusia. Yakni memberi mereka makan dan istirahat cukup dalam situasi yang nyaman, serta disiplin.
“Kami beri makan sapi-sapi sehari tiga kali. Dimulai makan pagi pukul 8, lanjut mandi, pijat disertai musik sebagai relaksasi hingga dia tidur. Sekitar pukul 2 siang dibangunkan, untuk makan siang. Sambil menunggu waktu tidur siang, disediakan cemilan berupa fermentasi rumput, jerami, serta batang dan daun ubi,” ungkap pria asli Demak itu.
Setelah makan siang dan cemilan, pastinya perut kenyang. Hingga tak lama sapi-sapi itu tertidur lagi dalam iringan musik mellow. “Mereka baru dibangunkan untuk makan malam sekitar pukul 21.00. Kebiasaan itu harus dilakukan dengan disiplin waktu. Seperti halnya kebiasaan makan sebelum tidur malam, menyebabkan tubuh gemuk, begitu pula prinsip penggemukan sapi,” tutupnya. rie-she
0



