Pemimpin Harus Selalu Belajar

5 Min Read
Dr Ir Mohammad Agung Ridlo

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Menjadi pemimpin haruslah selalu belajar, agar dalam kepemimpinannya dapat membuat kebijakan yang bermanfaat bagi yang dipimpinnya. Allah menciptakan alam semesta termasuk bumi dengan segala isinya. Allah juga menciptakan manusia untuk menjadi “khalifatul fil ardhi”, yaitu menjadi pemimpin di muka bumi.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah Dr Ir Mohammad Agung Ridlo ketika memberikan kultum (kuliah) tujuh menit seusai salat isya dan tarawih berjamaah di Masjid Baitussalam, Jalan Taman Karonsih Raya, Ngaliyan, Semarang, Sabtu malam, 2 April 2023.

Mohammad Agung mengatakan, pemimpin di muka bumi ini antara lain, misalnya menjadi pemimpin pemerintahan. Entah itu presiden, gubernur, bupati, walikota, camat, dan lurah, serta lainnya) sampai pemimpin paling bawah, yaitu memimpin keluarga dan memimpin dirinya sendiri.

Menurut Mohammad Agung, manusia diminta untuk selalu belajar. Belajar sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa lepas dari manusia. Belajar memahami diri sendiri, belajar memahami alam, dan memahami ciptaan Allah. Belajar melalui iqra’ (bacalah), yaitu membaca apa yang tersurat dan yang tersirat. Membaca ayat-ayat Alah yang tersurat adalah membaca kalam ilahi (firman Allah Alquran) dan memahami apa makna dari ayat-ayat Allah tersebut. Sedangkan membaca ayat-ayat Allah yang tersirat yaitu membaca ciptaan Allah.

“Ciptaan Allah adalah alam semesta, bumi dan segala isinya serta berbagai peristiwa bencana alam yang terjadi. Bencana itu sendiri terbagi dua. Pertama, bencana terjadi karena fenomena alam. Kedua, bencana terjadi karena ulah manusia,” ujarnya.

Karena Sunnatullah
Agung menuturkan, bencana alam yang melanda negeri kita ini, terjadi karena Sunatullah (hukum Allah). Bencana yang terjadi karena fenomena alam, antara lain letusan gunung api. Belajar dari bencana tersebut, maka ditemukanlah teknologi sabo. Sabo adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengantisipasi aliran material dan pengendalian sedimen dalam suatu bentang alam, khususnya sungai pada gunung.

Ketika gunung mengeluarkan materialnya, kata Mohammad Agung, baik lahar panas ataupun lahar dingin, maka material-material ini akan tertimbun di dalam suatu cekungan. Dengan harapan mencegah dan menanggulangi terjadinya banjir lahar, sehingga terhindar dari kerugian harta benda dan manusia.

“Bencana gempa bumi, membuat manusia belajar agar terhindar dari bencana tersebut dan ditemukanlah konstruksi rumah tahan gempa. Sedangkan bencana tsunami, membuat manusia berfikir dalam pembangunan di wilayah pesisir dengan membuat site plan dan menata bangunan meruncing ke arah pantai dan menanam vegetasi mangrove minimal setebal 100 m untuk memfilter alunan gelombang ombak supaya tenang menuju daratan,” tambah dosen Planologi Unissula ini.

Agung berpendapat, bencana badai/angin kencang (lisus, topan, puting beliung, bahorok) membuat manusia berpikir dalam membangun rumah atau perumahan. Konstruksi dan struktur harus tahan dengan tekanan angin dorong maupun angin tarik, sehingga atap bangunan tidak terbang dan bangunan tidak porak poranda. Bencana wabah penyakit akhir-akhir ini seperti virus Covid-19, membuat manusia bisa belajar dan mendapat ilmu tentang menjaga kesehatan, kebersihan lingkungan, penyediaan vaksin, boster, dan lainnya.

“Fenomena alam yang berupa bencana ini, dipastikan oleh Allah agar manusia belajar dari pengalaman yang ada. Allah ingin mengukur atau menguji sejauh mana tingkat keimanan seorang hamba-Nya. Melihat realita dan membuat kebijakan-kebijakan yang bermanfaat bagi sesama manusia yang dipimpinnya. Ini merupakan bentuk hubungan antarsesama manusia yang sangat baik.

Agung menunjukkan hablum minannas dijelaskan dalam salam kita pada akhir salat. Dengan salam, kita berdoa kepada saudara muslim kita agar diberikan keselamatan dan rahmat dari Allah. Sesama muslim kita dianjurkan untuk mengucapkan salam ketika bertemu. Artinya, kita harus berbuat baik yang bermanfaat bagi sesama manusia. Khoirunnas anfauhum linnas, artinya sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang dapat memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Dengan belajar, kata Agung, kita dapat membuat kebaikan-kebaikan, menyelesaikan persoalan-persoalan dan bencana yang terjadi untuk membantu sesama manusia.
Belajar itu sejak lahir dan terus selama manusia itu ada, maka selama itu pula manusia belajar.  Belajar akan finish atau berakhir jika sudah masuk liang lahat. St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.