By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Saya Tua Saya Berkarya
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
GagasanSorot

Saya Tua Saya Berkarya

Last updated: 12 Desember 2023 18:30 18:30
Jatengdaily.com
Published: 12 Desember 2023 18:30
Share
SHARE

Oleh: Ma’mun Aminudin
Statistisi BPS Pemalang

PERTANIAN merupakan salah satu sektor unggulan di Jawa Tengah. Sektor ini memberikan kontribusi sebesar 13,53 persen ditahun 2022 terbesar kedua setelah sektor Industri Manufaktur. Sektor pertanian merupakan sektor yang mampu tetap menopang perekonomian di Jawa Tengah di kala pandemic Covid-19.

Dalam 3 tahun gempuran bencana pandemi covid-19, ekonomi kita terselamatkan oleh sektor pertanian. Pandemi ini mulai masuk pada tahun 2020 saat itu sektor pertanian memberikan kontribusi dengan tetap tumbuh posistif 2,40 persen disaat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada kala itu mengalami kontraksi negative pada -2,65 persen.

Data pertanian yang akurat merupakan modal utama pembangunan pertanian yang tepat dan akurat. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai produsen data tidak terlewat dalam peran sertanya untuk menghasilkan data pertanian yang akurat untuk Indonesia Maju. Dalam upaya tersebut BPS kembali menyelenggrakan Sensus Pertanian Tahun 2023 (ST2023) di Indonesia. ST2023 tahun ini merupakan sensus pertanian yang ke-7 yang diselenggarakan oleh BPS.

Dalam kegiatan sensus ini pertanian diartikan secara luas mencakup 7 subsektor yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan dan jasa pertanian. ST2023 diselenggrakan diseluruh wilayah Indonesia tidak terkecuali di Provinsi Jawa Tengah. Kita tahu bahwa Provinsi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional mengingat potensi pertaniannya yang sangat besar.

Dengan data Pertanian Indonesia pada PDB sumbangsih Provinsi Jawa Tengah untuk Pertanian nasional adalah 8,7 persen. Jawa Tengah menjadi propinsi dengan penyumbang pertanian Indonesia ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Hasil ST2023 Propinsi Jawa Tengah
ST2023 tahap I telah diselenggarakan dan telah dirilis secara resmi tanggal 4 Desember 2023 secara serentak seluruh Indonesia. Tahun 2023 ini berdasarkan hasil ST2023 Jawa Tengah memiliki Usaha Pertanian Perseorangan (UTP) terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah 4.363.708 UTP (14,87 persen di Indonesia). Berdasarkan komoditas pertanian yang diusahakan di Jawa Tengah adalah padi Inbrida.
Hasil Data lain dari ST2023 di Jawa Tengah diantaranya UTP berdasarkan kelompok umur. Berdasarkan kelompuk umur jumlah UTP di Jawa Tengah tergambarkah sebagai berikut :

Jika dilihat petani umur 55-64 tahun paling banyak jumlahnya bahkan ada UTP yang berumur 65 tahun keatas sekitar 21,35 persen. Dari segi produktivitas umur produktif yang dihitung BPS adalah pada rentang 15-64 tahun. Jika melihat gambar diatas peminatan generasi muda untuk terjun didunia pertanian tampaknya masih sangat rendah.

Tantangan, Strategi dan Kebijakan
Salah satu tujuan SDGs nomor 2 adalah Tanpa Kelaparan. Salah satu aksi nyata yang perlu diwujudkan adalah bagaimana melakukan regenerasi petani muda. Umur petani 65 tahun atau lebih jika dipandang secara produktivitas tentunya tidak bisa maksimal. Meskipun demikian semangat petani tua untuk terus bekerja merupakan hal yang positif.

Para petani tua ini tidak menggantungkan diri terhadap orang lain namun masih bersemangat untuk tetap bekerja. Melihat tabel itu pula akan menjadi tantangan untuk pemerintah untuk meyakinkan generasi muda untuk mau terjun di bidang pertanian.

Dalam menciptakan peluang pertanian yang berkelanjutan maka peran serta generasi muda sangat ditunggu dan diharapkan. Sampai dengan saat ini petani masih dianggap sebelah mata dan menjadi sektor pilihan terakhir. Salah satu alasannya adalah sektor ini akan menjadi pilihan untuk orang yang tidak bisa diterima kerja di Pabrik/kantoran maka dia akan terjun di Sektor Pertanian. Asumsi generasi muda kita yang lebih suka sesuatu yang serba instan mungkin juga menjadi faktor tersendiri yang menyebabkan rendahnya minat generasi muda enggan terjun di sektor ini.

Pada dasarnya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian adalah 24.78 persen. Sektor pertanian pada dasarnya sektor yang paling mudah menerima tenaga kerja mengingat sektor ini biasanya tidak mensyaratkan umur, keahlian khusus maupun Pendidikan. Namun demikian jika yang bekerja disektor pertanian berpendidikan rendah tentunya akan mempengaruhi dari segi produktivitas.

Berkaca dari hal tersebut pemerintah bisa bergerak untuk ikut andil dalam pembinaan petani generasi muda untuk membangun generasi petani yang berkelanjutan. Pembinaan tata cara pengelolaan sampai pada bagaimana pemasaran hasil pertanian beserta pendampingan perlu dilakukan. Dengan melakukan hal tersebut sangat diharapkan bertambahnya petani-petani generasi muda yang mampu merubah mindset sektor pertanian menjadi pekerjaan menjanjikan. Jatengdaily.com-yds

You Might Also Like

Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang
Kasus Perkawinan Anak dan Tantangan BP4 Jateng
Menilik Kembali Eksistensi Kaum Sarungan di Era Digital
Pulanglah Fosil, Pulanglah Ingatan
Fenomena Childfree: Tantangan Baru bagi Masa Depan Generasi
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?