JAKARTA (Jatengdaily.com)- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan campak yang jumlahnya meningkat drastis didominasi oleh kalangan anak-anak. Namun, ditemukan juga pada orang dewasa, meski jumlahnya tidak signifikan.
“Didominasi anak di bawah 5 tahun,” ungkap Juru Bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dilansir dari laman Humas Polri, Sabtu (21/1/2023).
Menurutnyam hingga hari ini status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak hanya terjadi di 12 Provinsi.
“Yang KLB hanya 12 provinsi, bukan 31,” jelas Nadia.
Ia merinci, 12 provinsi itu adalah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Namun, hanya 34 kabupaten/kota di provinsi tersebut yang dinyatakan KLB campak.
Tingkatkan Infeksi
Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan anak yang terkena campak, sangat berisiko meningkatkan infeksi lantaran turunnya kekebalan tubuh.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Penyakit Infeksi Tropik IDAI Dr. dr. Anggraini Alam, SpA(K) mengatakan, “Tentunya pada anak-anak yang tidak divaksin terjadilah lupa akan daya tahan tubuh. Itu berlangsung cukup lama sehingga kekebalan atau memori kita terhadap penyakit itu bisa lupa apabila terinfeksi campak,” ujar dr. Anggraini dilansir dari laman Humas Polri.
dr. Anggraini pun mengingatkan para orangtua untuk tidak menyepelekan penyakit campak. Sebab, dapat menyebabkan komplikasi yang berujung kematian.
“Komplikasi campak itu ke mana-mana. Mulai dari mata, jantung, paling sering pneumonia, kemudian mulutnya luka belum lagi dia ada diarenya. Kalau dia gizi buruk karena diare ini urusannya kematian,” kata dr. Anggraini
Berdasarkan catatan IDAI, kasus konfirmasi campak melonjak hingga 32 kali lipat pada 2022 dibanding 2021. dr. Anggraini menyebut, hal ini terjadi karena menurunnya vaksin campak, sebagai efek adanya pandemi Covid-19.
“Yang terkonfirmasi lab darahnya betul-betul campak, bayangkan dari tahun 2021 ke 2023 peningkatannya adalah lebih 30 kali lipat. Artinya memang bukan main,” kata dr. Anggraini. she


