By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Berbahasa dengan Benar Meningkatkan Martabat Bangsa
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Berbahasa dengan Benar Meningkatkan Martabat Bangsa

Last updated: 20 Desember 2024 05:45 05:45
Jatengdaily.com
Published: 20 Desember 2024 05:45
Share
SHARE

Oleh: Nia Samsihono

Bahasa adalah salah satu identitas utama suatu bangsa. Melalui bahasa, karakter, budaya, dan nilai-nilai bangsa dapat diperkenalkan serta dilestarikan. Penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah tidak hanya mencerminkan penghargaan terhadap warisan budaya, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan martabat bangsa di mata dunia.

Jika kita mengamati rekaman atau pun siaran langsung dari kegiatan yang dilakukan oleh Wakil Presiden Indonesia 2024–2029, Gibran Rakabumingraka saat ia menyampaikan pidatonya di muka audiens, terdapat beberapa kata yang dipilih untuk diucapkan ada yang tidak benar. Tentu saja yang membuat saya heran, mengapa staf Wakil Presiden membiarkan kesalahan itu terus berlanjut.

Ada beberapa kata yang saya tandai, yaitu kata ‘para’. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan makna dari kata ‘para’ adalah kata yang mengacu pada kata kelompok. Kita tahu bahwa kata ‘kelompok’ bermakna lebih dari satu. Oleh karena itu kata ‘para’ tidak bisa diulang untuk digunakan menyapa tamu yang banyak menjadi ‘para para’. Lebih-lebih ada kata ‘para-para’ yang artinya rak untuk menempatkan sesuatu, biasanya di dapur atau di tempat penyimpanan bahan makanan atau benda-benda.

Ketika Gibran Rakabumingraka menggunakan kata ‘para’ tidak tepat, saya merasa malu punya Wakil Presiden berbahasa Indonesia tidak baik dan benar: “Para para kiai, para para tokoh agama, Pak Panglima, Pak Kapolri, para para tokoh agama, .” (13 Desember 2024)

Kata sapaan jika sudah menyebut nama seharusnya tidak perlu menyebut pangkat, misalnya Bapak Listiyo Sigit Prabowo atau Bapak Kapolri. Bukan “Pak”.

“Para tokoh-tokoh agama: untuk para para anggota; sangat luar biasa sekali” (17 Desember 2024). Jika sudah menggunakan kata ‘sangat’ , sesudah kata yang mengikuti ‘sangat’ tidak perlu ditambah ‘sekali’. Jadi, ‘sangat luar biasa’ atau ‘luar biasa sekali’. Sepertinya, bahasa Indonesia di ruang publik dan digunakan untuk berpidato oleh pejabat publik sudah diatur di UU No. 24 Tahun 2009.

Sebagai pejabat publik, ia harus menperhatikan penampilan dan cara berbicaranya di depan publik. Oleh karena hal itu akan ditiru oleh pejabat publik dari tingkat atas sampai tingkat RT. Itu juga akan ditiru oleh generasi muda.

Pentingnya Berbahasa Sesuai Kaidah

Bahasa Indonesia memiliki pedoman baku, yakni berdasarkan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Pedoman Umum Bahasa Indonesia (PUEBI). Penggunaan kaidah bahasa ini membantu menjaga keseragaman dan kejelasan komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Bahasa yang benar mencerminkan sikap disiplin dan tanggung jawab penuturnya. Ketika kita menggunakan bahasa yang sesuai aturan, kita menunjukkan penghargaan terhadap bahasa sebagai simbol kedaulatan bangsa. Sebaliknya, penggunaan bahasa secara serampangan dapat menciptakan kesalahpahaman dan bahkan mengurangi nilai budaya bahasa itu sendiri.

Ketika suatu bangsa dikenal memiliki tata bahasa yang terstruktur dengan baik dan penutur yang menghormati aturan berbahasa, bangsa tersebut akan dipandang sebagai bangsa yang beradab dan berpendidikan. Citra bangsa itu akan meningkat di mata dunia.

Bahasa adalah cermin budaya. Dengan menjaga kaidah bahasa, kita juga melestarikan tradisi, nilai, dan jati diri bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk menjaga keutuhan budaya. Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu bangsa. Penggunaan bahasa yang benar dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.

Di era digital, penggunaan bahasa sering kali terpengaruh oleh tren, singkatan, dan bahasa asing. Media sosial, misalnya, sering menjadi tempat berkembangnya gaya bahasa tidak baku. Meskipun tidak salah dalam konteks tertentu, penting untuk tetap mengutamakan penggunaan bahasa yang benar di ranah formal atau resmi.

Kesimpulan

Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya sekadar mengikuti aturan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa. Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia agar tetap menjadi kebanggaan dan simbol martabat bangsa. Mari kita jadikan bahasa yang benar sebagai kebiasaan, demi keutuhan dan kejayaan bangsa di masa depan.

Sebagai pejabat publik, perhatikanlah etika dan kaidah berbahasa. Seorang pejabat publik pasti mempunyai staf yang lebih ahli tentang berbahasa yang benar tentunya, agar bahasa Indonesia tetap menjadi identitas bangsa yang membanggakan.

*Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta. Jatengdaily.com-st

You Might Also Like

Kondisi Pertanian Kota Salatiga Satu Dekade Terakhir
Pembelajaran Akidah dan Iman untuk Gen Z: Pendekatan Melalui Media Audio Visual dan Interaktif
Romantika Santri Mandiri
Sisa Anggaran Bantuan Operasional RT
Pelaut Sang Penjaga Lingkungan
TAGGED:Berbahasa dengan BenarMeningkatkan Martabat Bangsa
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?