in

Indahnya Menjadi Janda?

Prof Dr H Nur Khoirin MAg

Oleh : Nur Khoirin YD

DULU di era sebelum tahun 90an menjadi janda adalah aib dan sangat ditakuti. Perempuan merasa sangat malu menyandang status janda. Keluarga juga sangat malu jika anak perempuannya hamil tanpa nikah.

Masyarakat memandangnya sebelah mata, dianggap menjadi sumber fitnah dan kesialan. Maka perempuan, khususnya, berusaha sekuat tenaga mempertahankan perkawinannya agar tidak putus. Bahkan ada anggapan yang berkembang, bahwa cerai adalah hak laki-laki.

Meskipun istri sudah tidak tahan dan meminta cerai, tetapi selagi suami tidak mau menceraikan, maka tidak akan bisa cerai. Hal ini berbeda dengan era modern sekarang ini, menjadi janda tidak lagi dianggap sebagai aib.

Sebagain istri yang perkawinannya berjalan tidak seperti yang diharapkan, membayangkan indahnya menjadi janda. Bisa hidup bebas tanpa ada yang mengatur dan mengekang. Terbuka kesempatan untuk memilih lagi laki-laki yang diinginkan.

Kesetiaan Istri semakin menurun
Dalam salah satu unggahan Tik Tok yang viral diceritakan ada seorang perempuan bersuami ditanya oleh temannya, “kamu kalau dikasih nafkah suamimu Rp 25.000, kamu gunakan belanja apa?” Perempuan itu menjawab dengan ringan, “oh gampang saja, paling untuk nongkrong ngopi dan sisanya untuk membayar parkir di Pengadilan Agama”.

Maksudnya adalah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Hal senada dikemukakan oleh dr. Aisyah Dahlan, peneliti dan motivator keluarga, menurut hasil peneltian, pada usia 45 tahun kesetiaan seorang wanita mulai menurun dan ingin ganti suami (https://bangka.tribunnews.com/ ).

Untuk membuktikan kesimpulan ini, dr. Aisyah menanyai 100 perempuan beristri yang usianya di atas 45 tahun sampai 55 tahun dengan pertanyaan, “sendainya suamimu yang sekarang ini adalah orang lain, apakah kamu mau menikah dengannya?”. Ternyata 90% mereka menjawab “tidak mau”.

Sebaliknya, jika yang ditanya adalah laki-laki, jawabannya bisa jadi 100% tidak bersedia. Ini bisa diartikan, bahwa mempertahankan perkawinan yang sudah berjalan adalah keterpaksaan, dan bukan pilihan yang membahagiakan.

Dari obrolan singkat dan data tersebut tergambar, bahwa betapa rapuhnya ikatan perkawinan di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digital sekarang ini, sehingga dengan alasan-alasan yang ringan dan sederhana saja orang bisa mengambil jalan cerai. Doktrin cerai halal tetapi dibenci Allah, tidak lagi bergema. Perceraian dianggap hal yang biasa.

Jumlah janda terus meningkat
Jumlah janda terus meningkat pesat dibandingkan dengan jumlah duda. Data perceraian yang dikutip dari laman Pengadilan Agama Semarang menunjukkan perbandingan antara perkara cerai talak dengan cerai gugat dalam kurun 5 tahun terakhir.

Tahun 2020 jumlah cerai talak yang diajukan suami 812 (25%), sedangkan cerai gugat yang diajukan istri adalah 2467 (75%). Tahun 2021 crai talak 769 (23%), cerai gugat 2587 (77%). Tahun 2022 cerai talak 787 (23%) dan cerai gugat 2592(77%). Tahun 2023 cerai talak 709 (23%) dan cerai gugat 2413 (77%). Tahun 2014 (awal Juni), cerai talak 331 (25%) dan cerai gugat 994 (75%).

Sedangkan perbandingan angka cerai talak dengan cerai gugat se Jawa Tengah yang dikutip dari laman Pengadilan Tinggi Agama Semarang pada tahun 2023, cerai talak sebesar 19.329 (24%), dan cerai gugat sebesar 61.227 (76%).

Angka-angka ini menunjukkan, bahwa inisiatif cerai ternyata datang dari pihak istri sebesar 75-77%. Sedangkan inisiatif cerai yang diajukan oleh pihak suami hanya sekitar 23-25%. Ini artinya, jumlah janda lebih besar 3 kali dari pada jumlah duda.

Tingginya minat menjadi janda ini bisa dimaknai dari sudut pandang laki-laki, bahwa perempuan modern yang mandiri rentan minta cerai, kesalahan-kesalahan sepela mudah memicu cerai, rak kenanan, dan tidak takut menjadi janda. Sedangkan dari sudut pandang perempuan, bahwa banyaknya istri yang minta cerai menunjukkan perilaku para suami yang tidak bertanggung jawab.

Faktor-faktor pemicu
Ada banyak faktor yang memicu istri kemudian membayangkan indahnya menjadi janda, lebih baik cerai dari pada hidup terkekang.

Tingginya angka gugat cerai menunjukkan perubahan perilaku istri yang semakin berani dan tidak taat, sebagai dampak dari istri yang semakin mandiri, pendidikan tinggi, dan karena dampak dari teknologi informasi.

Dunia modern sekarang ini tidak ada lagi diskriminasi atau perbedaan antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam dunia kerja.

Tidak ada lagi doktrin tugas istri sebagai konco wingking (menyelesaikan tugas-tugas rumah), pekerjaannya berkutat antara kasur (melayani hubungan seks suami), sumur (mencuci) dan dapur (memasak). Era sekarang ini perempuan bebas berkompetisi dan berprestasi di luar rumah.

Banyak istri yang melampaui suaminya, baik dalam jabatan yang lebih tinggi maupun gajinya yang lebih besar. Bahkan banyak sekarang ini suami yang tidak bekerja dan bergantung kepada penghasilan istri. Istri yang mandiri dalam hal ekonomi inilah yang banyak menggugat cerai suaminya.

Kemandirian istri yang kemudian berkahir dengan pecahnya rumah tangga, bisa dilihat daerah-daerah yang menjadi sentra pemasok TKW ke luar negeri, angka perceraiannya meningkat dari tahun ke tahun.

Ada temuan yang menarik, bahwa ternyata guru-guru perempuan yang bergaji juga banyak yang menggugat cerai suaminya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Hal yang disinyalir turut memicu perempuan era sekarang menjadi “rak kenanan” sehingga mudah mengajukan cerai, adalah gerakan kesetaraan gender (Gender mainstreaming) dan dampak dari Undang-undang Penghapusan Kekerasana Dalam Rumah Tangga (UU-23/2004).

Gerakan gender mainstreaming yang tujuan utamanya adalah menuntut keadilan gender, agar tidak ada diskriminasi dalam berbagai peran antara laki-laki dengan perempuan ini, banyak yang dipahami secara berlebihan dan kebablasan.

Para istri mengekpresikan secara salah, kemudian tidak mau melayani suaminya, tidak mau mengurus rumah, tidak mau mengurus anak, dan ingin hidup bebas.

Undang-undang KDRT yang tujuan utamanya adalah penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, baik yang dilakukan oleh suami atau istri, tetapi justru terkesan memprovokasi para istri untuk lapor polisi.

Sinetron atau infotainmen yang tayang tiap hari di tv atau media sosial yang lain, banyak yang menggambarkan kehidupan rumah tangga yang pecah.

Perilaku artis yang suka kawin cerai. Kisah anak-anak yang hidup hanya dengan ibunya karena bapaknya selingkuh dengan perempuan lain (fatherless). Atau sebaliknya, anak-anak hidup dengan bapaknya, sedangkan ibunya kabur dengan laki-laki lain.

Minat bercerai juga dipicu dan mencontoh artis-artis dan publik figur, yang setelah menjanda ternyata popularitasnya semakin menanjak, kariernya semakin maju, tampilannya semakin mempesona dan pergaulannya semakin luas tanpa batas.

Budaya modern yang juga mengancam keutuhan keluarga paham “childfree”, berkeluarga tetapi tidak perlu memiliki anak sendiri. Karena anak dianggap beban yang berat, mengganggu kecantokan dan produktifitas kerja.

Harus menjadi perhatian bersama Kondisi rumah tangga modern ternyata sangat rapuh. Rawan goncang dan kandas di tengah jalan.

Dunia modern dan kemajuan ekonomi keluarga satu sisi menawarkan berbagai kemudahan dan kemajuan hidup. tetapi disisi lain membawa dampak-dampak buruk yang dapat mengancam keutuhan keluarga.

Kondisi demikian tentu sangat memprihatinkan bagi kelangsungan keluarga yang menjadi pilar tegaknya suatu bangsa dan peradaban. Oleh karena itu harus menjadi perhartian serius semua pihak untuk mencarikan solusi.

Agama harus tampil di depan menjadi penyelaras dan penyeimbang. Diperlukan edukasi yang terus menerus tentang bagaimana mengelola perkawinan.

Perkawinan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan libido seksual, tetapi sebagai ibadah dan amanah membangun keluarga yang kokoh dan lestari, untuk mewujudkan generasi bangsa yang unggul berkualitas.

Prof. DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Guru Besar Hukum Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat/Mediator/Arbiter Basyarnas/Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Ketua Nazhir wakaf Uang BWI Jawa Tengah/Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah/Wakil Sekretaris II PP Masjid Agung Jawa Tengah/ Ketua Bidang Remaja dan Kaderisasi Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Tinggal di Jln. Tugulapangan H40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang.Jatengdaily.com-St

Written by Jatengdaily.com

Ratusan Mahasiswa FTIK USM Ikuti UAS

TIM IDBU Psikologi, Teknik Lingkungan, dan Spesialis Mata Undip Lakukan Psiko-Edukasi Lingkungan dan Kesehatan