in

Meneladani Kemanusiaan Ibrahim AS; Iman Kita Diuji Tidak Diujo

Prof Dr H Nur Khoirin MAg

Oleh : Nur Khoirin YD

IDUL Adha yang kita rayakan hari ini memberikan beberapa pelajaran penting dalam mengarungi kehidupan. Ibadah haji dan kurban sebenarnya adalah napak tilas perjalanan hidup Nabiyullah Ibrahim AS, yang kemudian dikokohkan kembali oleh Syariah Islam.

Dalam perjalanan hidup Ibrahim itu sarat dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang luar biasa yang wajib kita tauladani. Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang dapat kita teladani dari Ibrahim as. Yaitu proses menemukan iman yang sejati, mempertahankan iman yang diuji, dan pengorbanan demi mengokohkan iman itu sendiri.

Proses mencari iman sejati
Pelajaran pertama yang kita peroleh dari Ibrahim adalah bahwa ternyata iman itu tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui proses pencarian yang panjang dan sungguh-sungguh. Hidayah iman itu datangnya melalui proses trial and error, yaitu mencoba salah, mencoba salah, dan mencoba lagi, akhirnya menemukan kebenaran. Manusia adalah makhluk bertuhan, sudah ada potensi dalam dirinya meyakini Dzat yang maha kuasa. Tetapi belum mengetahui persis siapa gerangan Dzat yang maha hebat tersebut. proses itulah yang yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Ibrahim AS dalam mencari Tuhan :

“Ketika malam telah gelap dia melihat sebuah bintang, lalu dia berkata: inilah Tuhanku. Tapi ketika bintang itu tenggelam, dia berkata, saya tidak suka yang sesuatu tenggelam. Lalu tatkala dia lihat bulan terbit dia berkata: inilah Tuhanku. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberikan petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk orang yang sesaat.

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: inilah Tuhanku, ini yang lebih besar. Maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata: hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang mencipatakan langit dan bumi, menerima agama yang lurus. Dan aku Bukanlah orang yang mempersekutukan Allah” (Al-An’am: 76-79).

Kita kebetulan sudah menjadi seorang muslim sejak lahir. Keislaman kita ini sebagian besar adalah gawan bayi. Kebetulan dilahirkan oleh orang tua yang muslim.

Hidup dalam lingkungan yang muslim, ada musholla dan masjid sehingga kita bisa mendengar adzan dan sholat. Ada TPQ sehingga kita bisa mengaji dan membaca Al Qur’an. Tetapi apakah kita sudah menemukan Tuhan yang sesungguhnya? Apakah kita sudah merasakan bedanya iman dan kafir? Apakah kita sudah merasakan bedanya ketika taat dan maksiat, ketika sholat dengan tidak sholat?.

Oleh karena itu, agar keimanan kita semakin kokoh dan solid, maka proses mencari Tuhan itu harus terus kita lakukan. Dengan cara bagaimana?. Yaitu dengan membaca (iqra’) ayat-ayat Allah swt, baik ayat yang terbaca (Al Qur’an) maupun ayat yang tercipta (alam semesta).

Kita kenali sifat-sifat Allah, wujud, qidam, baqa’, mukhalafatu lilkhawaditsi, dst. Kita pelajari Nama-nama Allah (Asmaul Husna), Allah Yang Maha mendengar, Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Melindungi, Maha Memberi rizqi, dst. Usaha mencari Tuhan harus sampai pada suatu titik keyakinan :

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim).

Artinya, kita sudah sampai menjadi orang yang baik (ihsan). Keimanan dan ibadah kita sudah membuahkan akhlaqul karimah. Kehadiran kita sudah memberi manfaat bagi orang lain, dan bukan mafsadat.

Iman kita diuji, tidak diujo.
Pelajaran penting kedua, bahwa setelah menemukan Tuhan yang sejati, iman tumbuh subur dan menguat dalam hati. Ternyata iman kita tidak dibiarkan. Iman kita tidak diujo tetapi selalu diuji. Firman Allah swt QS. Al Ankabut : 2

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ.
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman, dan mereka tidak diuji?

Keimanan seseorang sama sekali tidak dibiarkan tanpa ujian. Semakin tinggi iman seseorang, maka semakin tinggi pula ujian. Usaha Ibrahim dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan mendapatkan tantangan dan rintangan yang berat. Perjalanan dakwah Ibrahim itu penuh dengan duri (Thorny path).

Ragam bentuk ujian Allah SWT berikan kepada Ibrahim AS, bukan karena ketidaksukaan. Tetapi justru karena kecintaan Allah kepadanya. Bahkan Ibrahim AS adalah sosok hambaNya yang digelari sebagai “khalilullah” (kekasih Allah).

Di masa mudanya ia diuji dalam keluarganya sendiri. Ayahnya justru penantang pertama dakwah beliau. Dikisahkan dalam Al-Quran bahwa ayahnya bahkan mengusirnya dari rumahnya.

Ibrahim yang awalnya adalah idola kaum muda, di kemudian hari dibenci dan dikucilkan. Sahabat menjadi musuh, rekan menjadi lawan, cinta menjadi benci, kekaguman berubah menjadi penghinaan.
Cobaan Ibrahim AS tidak berhenti dengan itu saja.

Semakin matang dalam keyakinannya semakin besar pula cobaan itu. Kisah sikapnya melawan kebatilan dan membumi hanguskan kemusyrikan, disambut dengan arogansi kekuasaan. Ibrahim ditangkap bahkan dieksekusi dengan hukuman mati. Ibrahim divonis dengan hukuman dibakar hidup-hidup.

Tapi kematangan mentalitas dalam keimanan yang solid itu tidak menjadikannya gentar sedikitpun. Di saat para malaikat menawarkan kepadanya bantuan, semuanya ditampik dengan keyakinan bahwa hanya Allah yang punya kuasa sejati.

Dengan keyakinan inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin dan menyenangkan bagi Ibrahim:
يا نار كوني بردا وسلاما علي ابراهيم
Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim.

Berkorban demi cinta.
Pelajaran penting ketiga, Setelah sekian lama Ibrahim dan isterinya Sarah menikah, mereka tak kunjung juga dikaruniai anak. Bahkan keduanya telah mencapai umur uzur. Ibrahim pun semakin khawatir akan kesinambungan dakwahnya.

Hal ini disadari oleh isterinya, Sarah, maka Ibrahimpun diminta olehnya untuk menikahi hamba sahaya mereka, Hajar. Dari Hajar ini, Allah mengaruniakan seorang putra yang diberi nama Ismail AS. Sarah (istri tuanya) pun juga dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Ishaq. Tentu alangkah bahagianya Ibrahim dengan karunia anak yang telah lama ditunggu-tunggu itu.

Ketika Ismail beranjak dewasa, datanglah ujian terbesar dalam hidupnya. Anak satu-satunya, yang telah lama ditunggu-tunggu, dan sangat disayangi itu, diperintahkan oleh Allah untuk disembelih. Firman Allah swt QS. Ash-Shaffat 99-111 :

‎فلما بلغ معه السعي قال يا بني اني اري في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترا؟ قال يا أبتي افعل ما تؤمر ستجدني ان شاء الله من الصابرين.
“Maka ketika anaknya mencapai umur balig dia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi jika aku menyembelihmu. Lalu bagaimana pendapatmu? Dia (sang anak) berkata: Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang bersabar”.

Tapi Allah Maha bijaksana dan Maha Kasih Sayang. Sembelihan itu diganti dengan seekor domba. Itulah tradisi yang kita rayakan melalui syariatnya Rasulullah Muhammad saw dengan korban atau adha.

Berkorban dalam bentuk penyembelihan binatang korban ini, sebenarnya hanya simbolis. Tetapi yang terpenting adalah kesediaan kita untuk sanggup berkorban apa saja, bahkan berkorban apa-apa yang paling kita cintai sekalipun.

Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Ketika dengan ikhlas memenuhi perintah Allah dengan mengorbankan putranya Ismail as yang sangat dicintainya.
Ini artinya, bahwa betapa pun cinta kita kepada anak-anak, betapapun cinta kita kepada harta, betapun cinta kita kepada jabatan yang sedang kita duduki, atau status sosial yang sedang kita sandang, tetapi tidak boleh mengalahkan cinta kita kepada Allah swt.

Dalam hati harus kita yakinkan, bahwa Allah-lah cinta pertama dan cinta terakhir. Dan tidak ada jalan lain untuk membuktikan cinta, kecuali dengan pengorbanan. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan. Tetapi berkorban demi cinta adalah sesuatu yang indah.

Khutbah Idul Adha 1445H/17 Juni 2024 di Masjid Al Asakirul Muttaqun Brimob Polda Jawa Tengah Srondol Semarang. 

Prof. DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, /Guru Besar Hukum Islam Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat/Mediator/Arbiter Basyarnas/Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Ketua Nazhir wakaf Uang BWI Jawa Tengah/Komisi Hukum dan HAM MUI Jawa Tengah/Wakil Sekretaris II PP Masjid Agung Jawa Tengah/ Ketua Bidang Remaja dan Kaderisasi Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Tinggal di Jln. Tugulapangan H40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang.Jatengdaily.com-st

 

 

Written by Jatengdaily.com

Undip dan ISBI Aceh Jalin Kerjasama, Kuatkan Tridharma Perguruan Tinggi

Liburan ke Banyuwangi dan Solo Semakin Nyaman, KA Blambangan Ekspres dan KA Banyubiru Gunakan Kereta Ekonomi New Generation