in

Talkshow Kudengar di Radio USM Jaya, Inilah Alasan Perempuan Tak Mau Dikotak-kotakkan

Radio USM Jaya bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Semarang (Satgas PPKS USM) mengadakan talkshow interaktif dalam Kuliah Keadilan dan Kesetaraan Gender (Kudengar) di Studio Radio USM Jaya Gedung N USM pada Rabu (19/6/2024).Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Radio USM Jaya bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Universitas Semarang (Satgas PPKS USM) mengadakan talkshow interaktif dalam Kuliah Keadilan dan Kesetaraan Gender (Kudengar) di Studio Radio USM Jaya Gedung N USM pada Rabu (19/6/2024).

Talkshow yang dipandu Penyiar Radio USM Jaya, Putri Sabila itu mengusung tema ”Dara Setara : Bersama Kita Berusaha Membuat Ruang Aman dan Nyaman bagi Perempuan”.

Kegiatan menghadirkan narasumber dari Anggota Satgas PPKS USM, Nova Yuliani, dan Ketua UKM Optimus USM, Dewangga Nur Rizal.

”Mindset orang-orang yang berpikir secara budaya patriarki, pelabelan perempuan, dimana perempuan dikotak-kotakkan, itu juga membuat perempuan merasa tidak aman. Bahkan tidak sedikit pula perempuan yang tidak berani untuk speak up. Hal-hal ini yang menjadi tantangan perempuan untuk mendapatkan ruang yang aman dan nyaman,” ujar Nova.

Menurutnya, menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan merupakan langkah penting, sebab perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama.

”Jika kita tidak mengupayakan kodisi yang membuat perempuan nyaman terhadap suatu lingkungan, itu bisa menghambat potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Perempuan harus berani berbicara, dari USM sudah memberikan wadah bagi warganya dalam hal perlindungan dan pencegahan yaitu ada PPKS. Kami juga bekerja sama dengan jasa layanan konseling USM. Don’t be afraid to speak you words,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua UKM Optimus USM, Dewangga Nur Rizal yang menilai bahwa pelabelan perempuan yang cenderung merendahkan, hingga streeotype yang berkembang merupakan masalah dalam mewujudkan ruang aman dan nyaman bagi perempuan.

Dewangga mengatakan, upaya yang dapat dilakukan dengan mengontrol diri sendiri, membatasi pikiran dan perilaku yang melanggar hak privasi maupun membuat perempuan merasa tidak nyaman.

”Kita harus membatasi perilaku-perilaku yang sekiranya mendiskreditkan perempuan. Kita juga harus mengaca pada diri sendiri, kalau kita ingin lingkungan yang nyaman, maka kita perlu untuk berbuat baik dan nyaman untuk teman-teman serta orang-orang yang ada di sekitar kita,” katanya.

Menurutnya, ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan meliputi pandangan terhadap perempuan bukan sebab gender dan batasan pada stereotype yang berkembang, lingkungan yang mendukung perempuan mendapatkan hak sepenuhnya, tidak merasa terganggu, hingga memungkinkan untuk dapat berkembang tanpa ada ancaman.

”Untuk teman-teman, sebagai manusia kita mempunyai derajat yang sama baik di mata Tuhan maupun manusia. Yang membuat beda adalah perilaku dan perbuatan kita. Maka dari itu, kali ini Dara Setara : Bersama kita berusaha membuat ruang aman dan nyaman bagi perempuan maupun bagi semua makhluk hidup di sekitar kita,” ungkapnya.St

Written by Jatengdaily.com

Siaga Bencana AFT Adi Sumarmo Bentuk Desa Tangguh Bencana di Sobokerto Boyolali

Dies Natalis Ke-37 USM, Ratusan Civitas Akademika USM Ikuti Jalan Sehat