By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Ada Apa di Balik Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Tengah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Ada Apa di Balik Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Tengah

Last updated: 6 November 2025 19:35 19:35
Jatengdaily.com
Published: 6 November 2025 19:35
Share
SHARE

Oleh : Harjo Teguh Ilmiana

Pemerhati Pengangguran

KATA–KATA indikator mungkin bukan hal yang asing bagi kita, indikator merupakan sesuatu yang dapat memberikan gambaran kondisi atau keterangan dari suatu objek. Indikator dapat berfungsi sebagai alat ukur untuk menilai apakah suatu tujuan atau standar telah tercapai sehingga dapat digunakan sebagai landasan untuk perencanaan program berikutnya dan pengambilan keputusan.

Memaknai indikator seharusnya tidak pada satu titik saja namun harus menyeluruh agar didapatkan gambaran utuh dari sebuah objek.

Apakah tubuh ideal dapat menjadi sebuah indikator bahwa orang memiliki tubuh yang sehat? Apakah berbadan kurus menjadi indikator seseorang memiliki penyakit? Kita tidak dapat memutuskannya kecuali kita tahu informasi lain dari hasil cek kesehatannya.

Demikian pula dengan indikator-indikator pembangunan yang selama ini kita kenal sebagai contoh adalah TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) yang memberikan gambaran persentase dari jumlah penganggur terhadap jumlah angkatan kerja (penganggur dan bekerja).

Apakah TPT turun merupakan indikator kesuksesan? Atau naiknya TPT menggambarkan gagalnya pembukaan lapangan kerja? Untuk dapat memaknai angka ini kita seharusnya melihat indikator turunan lain sebagai pembentuk angka TPT ini.

Tanggal 5 November lalu BPS merilis angka ketenagakerjaan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2025. Survei ini khusus menangkap informasi ketenagakerjaan pada periode tersebut.

Seperti diketahui BPS melakukan kegiatan SAKERNAS pada tahun 2025 ini sebanyak tiga kali yaitu pada Februari dan November 2025 untuk estimasi level provinsi dan pada Agustus 2025 untuk level nasional.

Dalam rilis disampaikan bahwa TPT Jawa Tengah untuk Agustus 2025 mengalami penurunan 0,12 point persen dibandingkan dengan kondisi Agustus 2024 yaitu dari 4,78 persen menjadi 4,66 persen pada Agustus 2025.

Bila dilihat dari jumlah pengangguran yang mengalami penurunan sebanyak 7.000 orang maka hal ini seolah wajar. Seperti diketahui pertumbuhan industri di Jawa Tengah dekade akhir ini sangat masif dan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak ini juga di tunjukkan dengan naiknya jumlah tenaga kerja di sektor industri yang mencapai 0,11 juta orang dan merupakan peningkatan tertinggi kedua setelah pertanian.

Namun bila dilihat peningkatan jumlah penduduk usia kerja (PUK) yaitu penduduk 15 tahun ke atas) dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja, ternyata peningkatan jumlah angkatan kerja dari Agustus 2024 ke Agustus 2025 peningkatan jumlah angkatan kerja lebih tinggi dibanding kenaikan PUK.

PUK mengalami kenaikan 325 ribu orang dan angkatan kerja naik 427 ribu orang, artinya ada shifting bukan angkatan kerja yang bergeser menjadi angkatan kerja. Pergeseran terjadi untuk PUK yang sekolah dan mengurus rumah tangga sementara untuk bukan angkatan kerja lainnya mengalami peningkatan jumlahnya.

Kemudahan akses tekhnologi memungkinkan orang untuk melakukan hal-hal bersifat ekonomis yang tidak perlu dilakukan dengan menyita waktu cukup lama. Sebagai contoh adalah aktivitas ekonomi melalui online disamping juga beberapa kegiatan ekonomis yang memungkinkan dilakukan sebagai sambilan di rumah oleh ibu rumah tangga.

Kegiatan ini akan masuk dalam kegiatan bekerja paruh waktu jika memang mereka melakukan kegiatan ekonomis hanya memenuhi waktu luang saja. Hal ini terlihat dari persentase pekerja paruh waktu yang meningkat dari 21,78 persen pada Agustus 2024 menjadi 24,19 pada Agustus 2025.

Baca Juga:Universitas Semarang Berduka, Sesepuh dan Tokoh Pembina Yayasan Alumni Undip Ir Soeharsojo IPU Wafat

Sementara bila dilihat dari sisi pendidikan pekerja dari periode Agustus 2024 ke Agustus 2025 persentase penduduk bekerja dengan pendidikan SD ke bawah mengalami penurunan sedangkan untuk penduduk bekerja dengan pendidikan DIV ke atas mengalami peningkatan.

Ini mengindikasikan bahwa pekerja yang ada di Jawa Tengah secara kompetensi sudah mengalami peningkatan.

Bila melihat beberapa indikator yang terbentuk dari hasil SAKERNAS Agustus 2025 di Jawa Tengah, tentunya masih ada beberapa hal menjadi perhatian khusus seperti serapan tenaga kerja terbesar adalah pertanian dimana ada 3,97 persen pekerja berstatus pekerja bebas pertanian, sementara sektor ini sangat tergantung dari musim sehingga fluktuasi pekerja di sektor ini menjadi lebih rentan.

Demikian juga dengan masih perlunya peningkatan kapasitas pekerja melalui standar pendidikan sehingga pekerja menjadi lebih kompetitif.

Pergeseran bukan angkatan kerja menjadi angkatan kerja hendaknya menjadi hal yang perlu dilihat kembali apakah memang pergeseran tersebut dikarenakan hanya untuk mengisi kekosongan waktu atau mengoptimalkan waktu luang sebagai peluang ekonomi menambah penghasilan keluarga.

Bila alasan kedua yang terjadi ini artinya masih ada permasalahan perekonomian yang harus dibedah. Karena penopang utama keluarga ternyata masih belum dapat mencukupi kebutuhan keluarga sehingga anggota keluarga yang awalnya tidak perlu untuk ikut dalam proses ekonomi menjadi harus ikut untuk menambah penghasilan.

Semoga para pengambil keputusan senantiasa bijak dalam memaknai setiap indikator yang ada agar tidak silap dengan sekedar bagus tidaknya angka, namun dapat dengan cermat melihat indikator lain untuk dapat memahami lebih dalam permasalahan dan tepat dalam mengambil keputusan. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Membangun Ketangguhan Petani Perempuan
PDRB Tinggi Belum Jamin Kesejahteraan Merata
Putus Sekolah di Masa Pandemi
Hak Cipta Musik Digital
Pentingnya Imunitas Tubuh dalam Menghadapi Covid-19
TAGGED:Pemerhati PengangguranPengangguran di Jateng
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?