By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Bendahara IKA USM : Gen-Z Cenderung Self Diagnosis
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Pendidikan

Bendahara IKA USM : Gen-Z Cenderung Self Diagnosis

Last updated: 19 Maret 2025 08:35 08:35
Jatengdaily.com
Published: 19 Maret 2025 08:35
Share
Bendahara IKA USM saat Talkshow USM Update yang mengusung tema "Fenomena Self Diagnose pada Gen-Z" di Studio Radio USM Jaya, Gedung N Kampus USM pada Senin (17/3/2025).Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Lembaga Training dan Psikologi Center for Mental Health, Psychology, and The Law (CMHPL) Semarang sekaligus Bendahara Ikatan Alumni (IKA) Universitas Semarang (USM), Nurmalitasari, S.Psi, M.Psi, psikolog mengungkapkan, Gen-Z memiliki kecenderungan Self Diagnosis.

Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Talkshow USM Update yang mengusung tema “Fenomena Self Diagnose pada Gen-Z” di Studio Radio USM Jaya, Gedung N Kampus USM pada Senin (17/3/2025).

”Self Diagnosis adalah kecenderungan Gen-Z untuk mendiagnosa dirinya sendiri tanpa berkonsultasi atau melibatkan pakar profesional kesehatan mental seperti psikolog ataupun psikiater. Jadi kebanyakan mereka yang self diagnosis itu berdasarkan ilmu cocoklogi,” kata Ria, sapaan akrabnya.

Menurutnya, berbagai faktor dapat memengaruhi Gen-Z melakukan self diagnosis yaitu Gen-Z merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan perkembangan internet yang pesat. Dimana perkembangan informasi sangat mudah didapatkan dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Konten media sosial turut memengaruhi seseorang melakukan Self Diagnosis. Konten bermuatan kesehatan mental menjadi konten yang dapat menarik Gen-Z, pasalnya saat ini Gen-Z telah sadar akan pentingnya menjaga kesahatan mental.

”Saya pernah menangani seseorang yang datang untuk konsultasi, tapi dia sudah bawa diagnosisnya sendiri berdasarkan dari yang dia cari. Bahkan dia sudah mengumpulkan informasi soal sekolah mana aja yang cocok untuk dia,” ucapnya.

Dia mengatakan, kecenderungan melakukan self diagnosis dapat berdampak pada kemungkinan munculnya kesalahan diagnosis, menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan pada diri sendiri, hingga overthinking.

”Biasanya mereka akan khawatir karena akses informasinya belum banyak. Mereka juga mungkin kurang paham tentang mana informasi yang relevan dan dapat dipercaya, mana yang tidak,” ujarnya.

Oleh karena itu, Ria menyarankan untuk mendatangi seorang profesional atau pakar agar mendapatkan hasil diagnosis yang lebih relevan dan terpercaya.

”Kalau untuk menjawab rasa kepo saja tidak masalah, tapi jangan sampai info yang kita dapatkan menjadi acuan untuk mendiagnosis diri sendiri. Bisa jadi orang menjadi lebih overthinking ketika melakukan self diagnosis dibandingkan sebelum melakukannya. Lebih baik segera konsultasi ke profesional agar tidak menerka-nerka dan bingung sendiri,” tegasnya. St

You Might Also Like

Parameter Good Looking Berada di Diri Sendiri
Siap Jadi Pemimpin Nasionalis, Pengurus OSIS-MPK MAN 1 Kota Semarang Gelar LDK
Wisuda ke 37, STIEMA Luluskan Mahasiswa Magister Manajeman
Buka Peluang Beasiswa S2 ke Taiwan, Teknik Kimia Untag Semarang Terima Kunjungan National United University
MAN 1 Kota Semarang Beri Reward Siswa Berprestasi
TAGGED:Bendahara IKA USMGen-Z Cenderung Self Diagnosis
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?