SEMARANG (Jatengdaily.com) — Pendekatan dakwah yang lebih membumi dan berdampak nyata terhadap masyarakat terus berkembang di sejumlah pesantren.
Salah satunya ditunjukkan oleh Pondok Pesantren Planet Nufo di Rembang yang menerapkan model dakwah sociopreneurship—yakni pendekatan dakwah yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kewirausahaan sosial.
Model dakwah ini mencuat dalam ujian terbuka promosi doktor Dr. Mokhamad Abdul Aziz, M.Sos., M.E. di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Senin (14/7/2025).
Dalam disertasinya yang berjudul “Dakwah Sociopreneurship Pesantren untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat” (Studi di Pesantren Planet Nufo Rembang), Abdul Aziz mengkritisi pola dakwah konvensional yang cenderung retoris dan terjebak dalam komersialisasi, tanpa memberikan solusi konkret bagi problem umat.
Menurutnya, dakwah sociopreneurship di Planet Nufo hadir sebagai respons terhadap kenyataan tersebut. Sejak tahun 2019, pesantren ini konsisten mengembangkan unit-unit usaha produktif di bidang pertanian, peternakan, serta jasa dan perdagangan. Usaha tersebut tidak hanya melibatkan para santri, tetapi juga masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya pemberdayaan komunitas secara berkelanjutan.
“Dakwah tidak cukup berhenti di mimbar atau retorika semata. Harus ada solusi nyata yang menyentuh aspek kehidupan umat, termasuk ekonomi,” tegas Abdul Aziz yang juga merupakan pengurus Satupena Jawa Tengah.
Dalam ujian terbuka yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag. dan dihadiri sejumlah guru besar dan penguji seperti Prof. Dr. Drs. Nugroho SBM, M.Si. (promotor), serta Dr. H. Agus Nurhadi, M.A. (co-promotor), Abdul Aziz mempertahankan argumentasinya dengan data yang diperoleh melalui pendekatan Analytical Network Process (ANP).
Hasil analisis ANP menunjukkan bahwa aspek sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor utama keberhasilan dakwah sociopreneurship, dengan bobot prioritas mencapai 48,88%. Di posisi berikutnya adalah aspek pemasaran (35,40%), yang sayangnya masih terkendala oleh keterbatasan penguasaan teknologi digital. Adapun aspek operasional dan permodalan masing-masing menempati bobot 9,80% dan 5,92%.
Abdul Aziz menekankan pentingnya pelatihan keterampilan dan optimalisasi pemasaran digital sebagai strategi utama. Pelatihan memiliki bobot prioritas 21,95% dan pemasaran online 18,07%, dua hal yang dianggap kunci dalam mengatasi tantangan utama pesantren, yakni rendahnya kapasitas SDM dan sempitnya jangkauan pasar.
Dalam paparannya, Abdul Aziz juga mengangkat tantangan lainnya, termasuk masih tingginya biaya operasional dalam model ini, yang bisa menjadi kendala dalam replikasi secara luas. Oleh karena itu, menurutnya, perlu dilakukan penyederhanaan model agar lebih aplikatif dan dapat diterapkan di pesantren-pesantren lain.
“Para dai dan semua pihak yang peduli dengan masa depan dakwah perlu membuka diri terhadap pendekatan ini. Tidak hanya lebih relevan dengan tantangan zaman, dakwah sociopreneurship juga lebih berpotensi memberdayakan umat secara konkret,” tambahnya.
Abdul Aziz juga mengusulkan sejumlah agenda riset lanjutan, termasuk perlunya kajian kritis terhadap dakwah tabligh yang dikomersialisasikan, yang kerap menuai kritik di media sosial. Ia juga mendorong kajian mendalam mengenai kolaborasi pesantren dengan lembaga keuangan dalam mengembangkan unit usaha, mengingat perdebatan seputar hukum bunga (riba) masih menjadi persoalan yang belum final dalam fiqih Islam.
Menariknya, ia turut menyoroti rendahnya minat santri dan generasi muda terhadap sektor pertanian dan peternakan. Di tengah era otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI), menurutnya, modernisasi teknologi pertanian bisa menjadi daya tarik baru jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Ujian terbuka ini turut dihadiri berbagai tokoh, antara lain Prof. Dr. Sri Suhandjati, M.A. (cendekiawan UIN Walisongo), Dr. Mohammad Nasih, M.Si. (Pengasuh Pesantren Planet Nufo), Gunoto Saparie (Ketua Umum Satupena Jawa Tengah), Dr. Agus Fathuddin Yusuf (dosen Universitas Wahid Hasyim), serta orang tua promovendus dan tamu undangan lainnya.
Dengan disertasi ini, Abdul Aziz tidak hanya memperoleh gelar doktor, namun juga menegaskan pentingnya memandang dakwah sebagai kekuatan transformatif yang mampu menjawab tantangan sosial dan ekonomi umat secara nyata dan berkelanjutan. St


