By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Diskusi Novel “Kolam Susu” Sepi Gejolak Psikologis
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Diskusi Novel “Kolam Susu” Sepi Gejolak Psikologis

Last updated: 14 Juli 2025 06:04 06:04
Jatengdaily.com
Published: 14 Juli 2025 06:04
Share
Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang Imaniar Yordan Christy saat menyampaikan pembahasannya tentang novel "Kolam Susu" karya Sulis Bambang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Sabtu, 12 Juli 2025.Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Novel “Kolam Susu” karya Sulis Bambang yang terbit pada 2025 melalui penerbit Kosakata Kita, Jakarta, menjadi sorotan dalam diskusi sastra yang digelar di Lantai Dasar Gedung Teater Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (12/7/2025).

Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian Reuni Sastra 2025 yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku (BSTM) bekerja sama dengan Satupena Jawa Tengah dan didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Imaniar Yordan Christy, hadir sebagai pembahas utama. Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa pembaca novel ini sulit merasakan gejolak psikologis para tokoh.

“Pembaca yang ingin mengetahui batin dan perasaan tokoh tidak mungkin menemukannya. Tokoh-tokoh dalam novel ini digerakkan sesuai kehendak penulis sebagai dalang,” ujar Imaniar.

Ia mencontohkan tokoh Menur yang menjalani kehidupan rumah tangga poligami dengan ikhlas, tanpa narasi mendalam tentang luka batinnya.

“Apa yang ia rasakan ketika diduakan? Bagaimana kerelaan hatinya sebagai perempuan? Semuanya tidak dijelaskan,” katanya. Pembaca, menurut Imaniar, seolah diminta menerima begitu saja bahwa poligami dalam kisah ini berjalan mulus.

Dalam novel ini, Trimensa, tokoh utama pria, digambarkan sebagai sosok yang beruntung. Ia memiliki istri pertama yang ikhlas, kaya raya, dan tidak membebani secara ekonomi. Menur bahkan membiayai hidup dirinya dan anak-anak mereka di Singapura.

Pada halaman 37, Trimensa berkata, “Menur, aku mungkin tidak bisa memberi banyak untuk biaya hidup kalian di Singapura, aku tahu seratus juta pasti tidak akan cukup.” Lalu dijawab oleh Menur, “Nggak apa-apa Mas… dari perkebunan sawit aku sudah mendapatkan lebih dari cukup.”

“Trimensa terbebas dari tanggung jawab memberi nafkah, dan ia tetap bisa menikah lagi untuk mencari kepuasan dan pelayanan,” tegas Imaniar.

Tokoh Yeyen, istri kedua, juga digambarkan sebagai perempuan mandiri. Ia bekerja, menolak diberi rumah oleh Trimensa, dan tampak tidak menuntut apa-apa. Namun, lagi-lagi pembaca tidak diajak memahami dinamika batin dan konflik psikologisnya.

“Apa yang Yeyen rasakan saat tahu laki-laki yang ia cintai sudah beristri? Bagaimana gejolaknya ketika harus berbagi suami? Semua hanya ditampilkan di permukaan,” ucap Imaniar.

Ia membandingkan pendekatan Sulis Bambang dengan cerpen “Poligami” karya Aoh K. Hadimadja dalam kumpulan cerpen berjudul sama terbitan Pustaka Jaya. Dalam cerpen itu, tokoh perempuan digambarkan mengalami dilema dan penderitaan mendalam saat menjalani poligami.

“Aoh, seorang laki-laki, justru lebih berhasil menggambarkan perasaan tokoh perempuan dalam situasi poligami. Bahkan tokoh perempuannya ingin ia menjadi yang terakhir, agar anaknya tidak mengalami nasib yang sama,” tutur Imaniar.

Lebih jauh, Imaniar juga mengaitkan persoalan ini dengan pemikiran RA Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. “Kita bisa memahami penderitaan perempuan akibat poligami dari surat-surat Kartini,” imbuhnya.

Meski demikian, Imaniar menyebut novel ini tetap menarik karena menggambarkan kehidupan perempuan kelas menengah ke atas. Lewat tokoh-tokoh seperti Ayla, Aima, dan Yeyen, pembaca diperlihatkan bagaimana gaya hidup borjuis yang penuh kenyamanan: berolahraga, kulineran, jalan-jalan, dan merumpi. Kehidupan mereka jauh dari penderitaan domestik karena ditopang oleh asisten rumah tangga dari kelas sosial bawah.

“Perempuan kelas atas punya kemewahan waktu dan tenaga untuk menyalurkan eksistensi diri, bahkan jika finansialnya sudah tercukupi. Sementara perempuan dari kelas bawah justru bermimpi untuk sesekali bisa bersantai,” jelas Imaniar.

Menurutnya, perbedaan kelas sosial memengaruhi cara pandang dan perjuangan perempuan, dan hal ini tergambarkan dalam Kolam Susu.

Novel ini juga kaya akan referensi kuliner yang disebut-sebut secara eksplisit, mulai dari tjapjay Tukino, nasi goreng babat Pak Taman, Restoran Mang Engking, Toko Oen, dan lainnya.

“Melalui narasi kuliner ini, kita bisa belajar tentang gastronomi sastra, di mana makanan menjadi simbol identitas, budaya, bahkan status sosial. Pilihan tempat makan mencerminkan gengsi dan citra diri,” ungkap Imaniar.

Selain Imaniar, hadir pula dalam diskusi Reuni Sastra 2025 beberapa tokoh sastra dan budaya seperti Ketua Forum Sastra Surakarta Sosiawan Leak, Ketua Satupena Jateng Gunoto Saparie, Pimpinan Pondok Suraukami Guspar Wong, Direktur Penerbit Gigih Mandiri Budi Maryono, dan penyair asal Ungaran Yusri Yusuf.

Acara dimeriahkan pula oleh penampilan grup musik Kwartet Coustik Semarang dan Kumpulan Seni Budaya Zamzam dari Bojonegoro.

Sebagai pembuka, Sriyanti S. Sastroprayitno melantunkan tembang macapat. Kegiatan ini sekaligus menjadi momen perayaan ulang tahun ke-9 Bengkel Sastra Taman Maluku yang ditandai dengan pemotongan tumpeng.

Diskusi novel “Kolam Susu” menambah dinamika dalam Reuni Sastra 2025, menjadi ruang refleksi tentang representasi perempuan, realitas sosial, dan bagaimana fiksi seharusnya tidak hanya memanjakan cerita, tetapi juga menggugah perasaan. St

You Might Also Like

Terbukti Lakukan Politik Uang TSM di Pilkada 2020, Paslon Didiskualifikasi
Pemerintah Alihkan 75,51% Saham Semen Baturaja ke SIG
Tujuh Hari Pencarian, Seorang Nelayan Asal Kebumen Berhasil Ditemukan Tim SAR
KPID Rekomendasikan Cabut Izin 3 Radio
Perkuat SDM, Untag Gandeng BPSDMD Jateng Gelar Pelatihan Kearsipan
TAGGED:Diskusi Novel “Kolam Susu”Sepi Gejolak Psikologis
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?