Eco Enzyme dan Taman Mini, Untag Semarang Tanamkan Semangat Hijau di SMP Stella Matutina Salatiga

Program pengabdian kepada masyarakat bertema “Edukasi Siswa Melalui Pemanfaatan Eco Enzyme Augmented Reality: Solusi Ramah Lingkungan untuk Biopestisida dan Inovasi Hijau.” Program inovatif ini didukung oleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, sebagai bukti nyata dukungan pemerintah terhadap penerapan sains dan teknologi untuk keberlanjutan lingkungan. Foto:dok

SALATIGA (Jatengdaily.com) – Suasana halaman SMP Stella Matutina Salatiga pagi itu tampak berbeda. Tawa ceria para siswa berpadu dengan semangat kompetitif saat mereka memegang pot, mencampur media tanam, dan memoles warna pada taman mini buatan sendiri. Di tengah keceriaan itu, hadir tim dosen dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang yang membawa misi mulia: menanamkan kesadaran lingkungan melalui kegiatan bertajuk “Green Team Challenge.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat bertema “Edukasi Siswa Melalui Pemanfaatan Eco Enzyme Augmented Reality: Solusi Ramah Lingkungan untuk Biopestisida dan Inovasi Hijau.” Program inovatif ini didukung oleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, sebagai bukti nyata dukungan pemerintah terhadap penerapan sains dan teknologi untuk keberlanjutan lingkungan.

Bagi UNTAG Semarang, kegiatan tersebut menjadi wujud konkret pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian masyarakat. Melalui pendekatan kreatif dan edukatif, tim dosen berupaya membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang kuliah untuk memberi manfaat langsung bagi sekolah dan lingkungan sekitar.

Tim pelaksana yang terdiri dari Teodora M.F.B. Da Silva, S.T., M.T., Atika Mutiarchim, S.Kom., M.Kom., dan Fatma Puji Lestari, S.T.P., M.T., memandu jalannya kegiatan dengan suasana hangat dan interaktif. Mereka memperkenalkan konsep eco enzyme — cairan hasil fermentasi limbah organik — sebagai bahan dasar pembuatan biopestisida alami yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Dengan konsep Green Team Challenge, para siswa kelas 7 dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing beranggotakan sepuluh orang. Dua kelompok ditugaskan merancang taman mini bertema tanaman hias, sementara dua kelompok lainnya mengerjakan taman dengan tanaman pangan. Mereka dibekali pot, media tanam, dan cat air, lalu diminta berkreasi seimajinatif mungkin.

Keceriaan terpancar di wajah para siswa saat tangan mereka berlumur tanah dan warna cat. Namun lebih dari itu, mereka tengah menanamkan nilai penting tentang keberlanjutan lingkungan. Taman hasil kreasi mereka nantinya akan menjadi media penerapan biopestisida berbahan eco enzyme, sehingga mereka bisa menyaksikan langsung manfaat inovasi ramah lingkungan yang baru saja mereka pelajari.

Program pengabdian kepada masyarakat bertema “Edukasi Siswa Melalui Pemanfaatan Eco Enzyme Augmented Reality: Solusi Ramah Lingkungan untuk Biopestisida dan Inovasi Hijau.” Program inovatif ini didukung oleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, sebagai bukti nyata dukungan pemerintah terhadap penerapan sains dan teknologi untuk keberlanjutan lingkungan. Foto:dok

Ketua tim pengabdian masyarakat, Teodora M.F.B. Da Silva, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara berkebun, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab terhadap alam.

“Kami ingin memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa, di mana mereka dapat berkreasi sekaligus memahami konsep keberlanjutan. Eco enzyme kami kenalkan sebagai bahan utama pembuatan biopestisida alami, sehingga mereka melihat langsung bagaimana limbah organik bisa diubah menjadi sesuatu yang berguna bagi tanaman,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari pihak sekolah. Yosepin Maryati Sularsih, S.Pd., wali kelas di SMP Stella Matutina, mengaku terkesan dengan antusiasme siswanya.

“Anak-anak sangat bersemangat mengikuti lomba ini karena mereka belajar bukan hanya dari teori, tetapi lewat praktik langsung. Mereka jadi lebih peka terhadap lingkungan dan sadar bahwa menjaga alam bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan,” katanya penuh semangat.

Di akhir kegiatan, para siswa tersenyum puas memandangi taman mini hasil karya mereka. Di balik pot-pot kecil dan tanaman hijau itu, tersimpan pesan besar: bahwa inovasi dan kepedulian lingkungan dapat tumbuh sejak usia dini.

Melalui Green Team Challenge, Untag Semarang berharap lahir generasi muda yang tak hanya kreatif dan cerdas, tetapi juga memiliki jiwa ekologis—mereka yang memahami bahwa masa depan bumi bergantung pada kesadaran dan aksi kecil yang dimulai sejak dini. St

Share This Article
Exit mobile version