
JEPARA (Jatengdaily.com) — Suasana Auditorium Gedung Perpustakaan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara lantai 4 mendadak hening sore itu. Semua mata tertuju pada sosok perempuan muda yang berdiri di tengah panggung dengan ukulele di tangannya. Dialah Joana Barbosa Martins, mahasiswi asal luar negeri dari Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM). Dengan suara lembut penuh perasaan, Joana membawakan lagu “Rindu Rumah” karya Wizz Baker—sebuah penampilan yang tak hanya memukau, tapi juga menggetarkan hati.
Dalam ajang Bulan Bahasa 2025: International Language & Culture Festival yang diselenggarakan UNISNU Jepara pada Selasa (11/11/2025) itu, Joana berhasil menyabet Juara 1 kategori Lomba Indo-Pop Voice. Ia menyingkirkan puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang bersaing dalam lima kategori berbeda.
Lirik lagu yang ia nyanyikan menggambarkan kerinduan akan kampung halaman—sebuah tema yang terasa begitu dekat di hatinya sebagai mahasiswa asing yang jauh dari tanah kelahiran. Tak sedikit penonton yang tampak menyeka air mata saat suara Joana mengalun, diiringi petikan ukulele yang sederhana namun sarat makna.
“Saya hanya ingin menyampaikan rasa rindu saya kepada keluarga di rumah, melalui musik,” ujar Joana usai tampil, dengan senyum yang tak mampu menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Ketua panitia kegiatan, Dwi Erlin Effendi, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan kekagumannya terhadap seluruh peserta yang menunjukkan semangat dan keberagaman budaya melalui musik dan bahasa.
“Acara hari ini bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana kita merayakan perbedaan, kreativitas, dan koneksi antarbudaya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Satuan International Office Universitas Semarang, Faisal Yusuf, B.A., S.M., M.M., M.B.A., menyampaikan rasa bangga mendalam atas prestasi yang diraih Joana.
“Kami sangat bersyukur. Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa asing USM mampu bersaing di tingkat nasional, sekaligus menjadi duta budaya yang mempererat persahabatan antarbangsa,” ujarnya.
Joana tak menempuh perjalanannya sendirian. Ia mendapat bimbingan dari Anandha, S.S., M.Pd., dosen Universitas Semarang yang turut mempersiapkan penampilannya dari awal hingga final. Berkat kerja keras dan dedikasi itu, Joana berhak membawa pulang plakat, sertifikat, dan uang pembinaan dari panitia.
Lebih dari sekadar kemenangan, prestasi Joana menjadi simbol bahwa musik dan bahasa mampu menembus batas negara dan latar belakang. Dengan nada yang lembut namun kuat, ia membuktikan bahwa kerinduan bisa menjadi sumber kekuatan—dan bahwa rumah tak selalu soal tempat, tetapi tentang rasa yang hidup di dalam hati. St
0



