PATI (Jatengdaily.com) – Suasana Ruang Pragola Setda Kabupaten Pati, Kamis (18/9), terasa hangat sekaligus penuh semangat. Para tokoh agama, kiai, hingga generasi muda lintas ormas keagamaan berkumpul dengan satu tujuan: menjadikan media sosial bukan sekadar ruang interaksi, tetapi ladang dakwah dan sarana menebar kebaikan.
Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Pati, KH Ahmad Husnan Lc, dengan suara lantang namun teduh, mengingatkan bahwa medsos adalah alat yang bisa membawa maslahat, sekaligus mudarat.
“Jangan gunakan medsos untuk maksiat, melakukan hal-hal yang menyebabkan kerusakan seperti ghibah, membully, fitnah, dan namimah. Manfaatkan medsos untuk dakwah dan kebaikan,” pesannya di hadapan peserta Workshop “Membangun Keuangan Keluarga yang Sehat di Era Digital”.
Workshop ini dibuka oleh Wakil Bupati Pati Risma Ardhi Chandra. Hadir tiga narasumber: Sekretaris MUI Jateng sekaligus Dosen FISIP Unwahas Semarang Dr KH Agus Fathuddin Yusuf MA, konten kreator H Taufiq SMn MM, dan KH Ahmad Husnan sendiri.
Peserta yang hadir pun lengkap, dari ketua MUI kecamatan se-Pati, perwakilan komisi dakwah, hingga para pemuda ormas Islam. Tampak pula Rais Syuriyah PCNU Pati KH Minanurrahman MAg dan jajaran pengurus MUI Kabupaten Pati.
Tantangan Era Digital
Ketua Umum MUI Kabupaten Pati, Prof Dr H Abdul Karim MPd, mengungkapkan, lebih dari 68 persen dari 1,3 juta penduduk Pati adalah pengguna smartphone. Fakta ini, kata dia, menjadi tanda betapa besar potensi digital dalam membangun ekonomi keluarga dan menyebarkan dakwah.
“Kalau tokoh agama tertinggal dalam mengoperasikan media sosial, maka dakwah bisa terhambat. Bahkan, generasi muda bisa terseret arus provokasi yang merusak. Karena itu, kita harus hadir di ruang digital ini,” tegasnya.
MUI sebagai Khadimul Ummah
Wartawan Suara Merdeka sekaligus Sekretaris MUI Jateng, Agus Fathuddin Yusuf, menekankan tiga peran penting MUI: khadimul ummah (pelayan umat), himayatul ummah (pelindung umat), dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah). Menurutnya, peran ini bisa diwujudkan dengan bermuamalah secara bijak di media sosial.
“Memang ada sisi gelap dari medsos. Bagian ini harus terus kita edukasi kepada umat agar mereka berhati-hati dan bijak menggunakannya. Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 sudah memberikan pedoman jelas untuk itu,” ujarnya.
Konten kreator sekaligus pengurus MUI Pati, H Taufiq SMn, menambahkan bahwa umat Islam harus melek digitalisasi di era society 5.0.
“Medsos bukan hanya sarana dakwah, tapi juga pintu rezeki. Era bisnis online ini bisa menjadi semangat baru membangun ekonomi keluarga. Bahkan masjid, selain pusat peradaban, bisa jadi motor penggerak ekonomi jamaah,” katanya penuh optimisme.
Momentum Kebangkitan Pati
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menyebut workshop ini sebagai momentum kebangkitan daerah.
“Sekarang ini Pati luar biasa. Ini kesempatan emas bagi anak-anak muda. Kita bisa menjadikan Pati lebih baik,” ujarnya penuh semangat.
Chandra juga mendorong para kiai, ulama, dan generasi muda untuk mengisi dunia digital dengan konten dakwah dan kebaikan.
“Saya harap para konten kreator rajin bikin live streaming. Dakwah, motivasi, apa saja yang bermanfaat. Karena pasti akan ditonton banyak orang,” katanya, menutup dengan ajakan optimistis.
Workshop itu pun berakhir dengan satu pesan moral yang mengikat semua peserta: dunia digital hanyalah alat. Di tangan yang tepat, ia bisa jadi jalan dakwah, sumber ilmu, dan pintu rezeki.
Namun di tangan yang salah, ia bisa menjerumuskan. Dan dari Pati, semangat untuk menjadikan medsos sebagai panggung kebaikan kini bergema lebih kuat. St


