Penataan Ruang Perdesaan, Menangkal Ketimpangan Pembangunan Nasional

4 Min Read

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

“Pembangunan wilayah Indonesia menghadapi ketimpangan, urbanisasi, dan lingkungan; penataan ruang perdesaan vital untuk pembangunan berkelanjutan dan pengurangan ketimpangan”

Pembangunan wilayah dan kota di Indonesia menghadapi tantangan kompleks yang melibatkan ketimpangan sosial-ekonomi, permasalahan tata ruang, urbanisasi, dan krisis lingkungan.

Faktor-faktor penarik (pull factors) dan pendorong (push factors) di perdesaan memegang peranan penting dalam dinamika ini, terutama dalam konteks perencanaan tata ruang yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Faktor Pendorong (Push Factors) di Perdesaan

Faktor pendorong adalah alasan yang membuat penduduk meninggalkan daerah perdesaan, antara lain:

Kurangnya akses terhadap fasilitas dasar seperti pendidikan, kesehatan, energi, dan transportasi yang memadai di perdesaan.
Terbatasnya kesempatan kerja dan lapangan usaha, menyebabkan rendahnya pendapatan dan kemiskinan.

Kondisi infrastruktur yang buruk, termasuk minimnya sarana air bersih, listrik, jalan, serta layanan sosial lainnya.

Kerusakan lingkungan dan bencana alam yang kerap terjadi, seperti banjir dan kekeringan, yang mengancam mata pencaharian warga.

Ketimpangan pembangunan yang signifikan antara wilayah pedesaan dan perkotaan dan antarwilayah di Indonesia.

Faktor Penarik (Pull Factors) di Kota
Faktor penarik adalah alasan yang menarik penduduk untuk bermigrasi ke kota, seperti:
Tersedianya peluang kerja dan penghasilan lebik baik yang konsisten di sektor formal dan informal perkotaan.

Fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lebih lengkap dan berkualitas dikota besar.
Ketersediaan infrastruktur yang lebih baik, termasuk akses ke transportasi, energi, dan layanan sosial.

Dinamika sosial dan ekonomi yang memberikan berbagai peluang pengembangan diri dan bisnis.

Penataan Ruang Perdesaan dalam Konteks Pembangunan Wilayah dan Kota
Penataan ruang perdesaan harus didesain secara integratif, mengingat peran vital perdesaan sebagai penyangga sekaligus komponen strategis pembangunan wilayah dan kota. Tantangan utama dalam penataan ruang perdesaan meliputi:

Ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan yang membuat perdesaan tertinggal dalam hal infrastruktur dan akses layanan dasar dibandingkan perkotaan dan wilayah barat-timur Indonesia.

Lemahnya penegakan aturan tata ruang yang memungkinkan penyalahgunaan lahan, mengancam fungsi agraria penting perdesaan serta menghambat ketahanan pangan.

Urbanisasi tidak terkendali yang menyebabkan alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman kumuh, sehingga memperbesar tekanan pada ruang perdesaan.

Perencanaan yang kurang terintegrasi dan sektoral mengakibatkan kebijakan pembangunan perdesaan yang tidak menyeluruh dan berkelanjutan.

Ancaman kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, yang harus ditangani dengan prinsip keberlanjutan dalam penataan ruang.

Implikasi bagi Pembangunan Wilayah dan Kota di Indonesia

Ketimpangan pembangunan wilayah dan persoalan tata ruang tersebut menyebabkan:

Konsentrasi pertumbuhan ekonomi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, yang menimbulkan urbanisasi cepat dan tekanan besar pada fasilitas kota.

Munculnya permukiman kumuh di kawasan perkotaan akibat kurangnya perumahan yang layak dan terjangkau.

Percepatan degradasi lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.

Kegagalan tata kelola dan perencanaan yang efektif serta koordinasi antar lembaga, memperburuk kondisi sosial-ekonomi perdesaan maupun perkotaan.

Kesimpulan
Penataan ruang perdesaan yang efektif harus menjadi bagian integral dari strategi pembangunan wilayah dan kota di Indonesia. Hal ini mencakup kebijakan yang menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah.

Sinergi tata kelola yang baik, penegakan hukum tata ruang, dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah sangat penting untuk mengoptimalkan peran perdesaan sebagai penopang pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.
Ketua Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Fakultas Teknik UNISSULA. Juga sebagai Sekretaris I Bidang Penataan Kota, Pemberdayaan Masyarakat Urban, Pengembangan Potensi Daerah, dan Pemanfaatan SDA, ICMI Orwil Jawa Tengah. Selain itu juga menjadi Ketua Bidang Teknologi Tradisional, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah. Serta sebagai Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.