By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: AI Masuk Ruang Redaksi, PWI Jateng Ingatkan: Kecepatan Boleh, Kebenaran Tetap Utama
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

AI Masuk Ruang Redaksi, PWI Jateng Ingatkan: Kecepatan Boleh, Kebenaran Tetap Utama

Last updated: 13 Februari 2026 22:41 22:41
Jatengdaily.com
Published: 13 Februari 2026 22:38
Share
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Perubahan di dunia media berlangsung begitu cepat. Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai masuk ke ruang redaksi, membantu proses transkripsi wawancara, merangkum informasi, hingga menyusun draf berita.

Di tengah arus transformasi tersebut, muncul satu pertanyaan besar: ke mana arah jurnalisme ketika mesin ikut mengambil peran?

Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks bersama host @Unik_oke, Rabu (11/2/2026), dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 bertajuk “Jurnalis, AI, dan Masa Depan Media.”

Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Setiawan Hendra Kelana, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah, serta Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Universitas Katolik Soegijapranata.

Diskusi berlangsung santai namun sarat refleksi. Keduanya sepakat bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar tren teknologi, melainkan realitas baru yang harus dihadapi insan pers.

AI sebagai alat, bukan pengganti

Setiawan menjelaskan, sebagian jurnalis kini telah memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan teknis, seperti mentranskrip wawancara atau menyusun kerangka tulisan.

Namun, ia menegaskan bahwa teknologi tersebut harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan editorial.

“Teknologi ini tidak bisa dihindari. AI boleh membantu mempercepat kerja, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir, verifikasi, dan tanggung jawab jurnalis,” ujarnya.

Menurutnya, esensi jurnalisme tetap sama: mencari kebenaran, memverifikasi informasi, dan menyajikannya secara berimbang. Nilai-nilai tersebut, kata dia, tidak dapat diotomatisasi.

“Mesin tidak punya nurani. Ia tidak bisa merasakan dampak sebuah berita terhadap masyarakat. Itu tugas manusia,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan risiko ketika jurnalis terlalu bergantung pada hasil AI tanpa pengecekan ulang. Kesalahan data, bias informasi, hingga penyebaran hoaks dapat terjadi jika proses verifikasi diabaikan.

Ketika mesin belajar bahasa manusia
Dari sisi akademik, Prof Ridwan menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mempelajari pola bahasa dari data dalam jumlah besar. Hal itulah yang membuat teknologi ini mampu menghasilkan teks yang tampak rapi dan meyakinkan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak memiliki kesadaran sosial.

“AI itu meniru pola. Ia tidak memahami konteks seperti manusia. Ia tidak punya empati dan intuisi, padahal jurnalisme bukan hanya soal struktur kalimat, tetapi juga membaca situasi dan menangkap sisi kemanusiaan,” jelasnya.

Menurutnya, AI justru ideal menjadi sparring partner bagi jurnalis, membantu pekerjaan repetitif agar wartawan bisa fokus pada pendalaman isu, wawancara, dan investigasi.

“Kalau jurnalisnya siap dan kritis, AI bisa menjadi senjata yang sangat membantu. Tapi kalau manusianya pasif, teknologi justru bisa menyesatkan,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan baru seperti manipulasi visual dan deepfake yang membuat batas antara fakta dan rekayasa semakin tipis. Dalam kondisi tersebut, peran jurnalis sebagai penjaga kredibilitas informasi menjadi semakin krusial.

Profesi yang makin kompleks

Diskusi juga menyinggung perubahan wajah profesi wartawan. Saat ini, jurnalis tidak lagi hanya menulis berita, tetapi juga dituntut mampu mengambil foto, merekam video, mengedit konten, hingga memahami cara kerja algoritma media sosial.

Setiawan menyebut kondisi ini sebagai tantangan sekaligus peluang.
“Kalau tidak mau belajar hal baru, pasti tertinggal. Tapi kalau mau beradaptasi, teknologi justru bisa meringankan beban kerja,” ujarnya.

Ia menilai jurnalis masa kini perlu meningkatkan kapasitas diri, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara etis. Di tengah arus informasi yang serba cepat, godaan mengutamakan kecepatan dibanding akurasi semakin besar.

“Padahal yang paling mahal dalam jurnalisme adalah kepercayaan publik,” katanya.

Menjelang akhir diskusi, kedua narasumber sepakat bahwa masa depan media bukanlah tentang manusia versus mesin, melainkan kolaborasi yang sehat dengan manusia tetap berada di pusat pengambilan keputusan.

Prof Ridwan menilai jurnalis ideal di era AI adalah mereka yang naik kelas: membiarkan pekerjaan rutin ditangani teknologi, sementara manusia fokus pada analisis, kedalaman cerita, dan konteks sosial.

“Media ke depan harus makin manusiawi. Teknologi membantu, tetapi arah dan nilainya tetap ditentukan oleh manusia,” ujarnya.

Setiawan menutup dengan penekanan pada peran pers sebagai penjaga ruang publik. “Kecepatan itu penting, tapi kebenaran jauh lebih penting. Tugas jurnalisme adalah menghadirkan fakta, bukan memperkuat prasangka,” katanya.

Hari Pers Nasional 2026 pun menjadi momentum refleksi bahwa di tengah kemajuan kecerdasan buatan, jurnalisme justru dituntut kembali pada akarnya: integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Berita mungkin bisa ditulis oleh mesin, namun nurani tetap hanya dimiliki manusia. St

You Might Also Like

Jurnal Ilmiah FPP Undip Diakui di Kancah Internasional
500 WNI Tinggal di Lokasi Gempa di Turki
Danone Indonesia Dukung Visi Muhammadiyah Wujudkan Kemajuan Bangsa
Tunggu Peraturan Negara Arab Saudi, Kemenag Bahas Umrah di Masa Pandemi
Merdeka, Jangan Cuma jadi Penonton di Pasar Bebas
TAGGED:AI Masuk Ruang RedaksiKebenaran Tetap UtamaKecepatan Bolehpwi jateng
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?