SEMARANG (Jatengdaily.com)- Direktur Kampus BINUS University @Semarang, Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom., menyampaikan BINUS University sejak awal memang berbasis pada teknologi digital.
”Karena itu, yang pertama kami siapkan kepada mahasiswa adalah digital mindset. Sejak mereka (mahasiswa) masuk, kami bekali pemahaman tentang artificial intelligence (AI) — bagaimana hidup berdampingan dengan teknologi dan memanfaatkannya agar mereka bisa lebih kreatif,” jelasnya, Jumat (8/4/2026) dalam temu dengan media bertajuk “Menentukan Arah Masa Depan Anak di Era AI: Di Tengah Banyak Pilihan dan Ketidakpastian.”
Selain itu, menurutnya, BINUS juga menanamkan mental entrepreneurship. ”Apa pun program studinya, mahasiswa tetap kami dorong memiliki daya tahan, kemampuan beradaptasi, dan semangat kewirausahaan. Jadi, meskipun nantinya bekerja di perusahaan, mereka tetap memiliki mental bertahan dan melihat peluang seperti seorang entrepreneur,” jelasnya.
”Kami juga terus menyiapkan dosen-dosen agar menjadi insan pembelajar. Dosen harus terus belajar, karena cara berpikir itulah yang kemudian ditularkan kepada mahasiswa. Harapannya, rasa ingin tahu itu tertanam kuat sehingga ketika mereka lulus—dua tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun kemudian—mereka tetap menjadi pribadi yang terus belajar,” jelas Fredy Purnomo.
Di Semarang, menurutnya, BINUS membuka enam program studi. Keenamnya merupakan program yang saat ini banyak dibutuhkan industri. Dari enam program studi di Semarang, bidang yang paling diminati saat ini adalah bisnis. Program studi terbaru adalah Digital Psychology.
”Kami percaya, seorang psikolog yang ingin memahami karakter generasi saat ini juga harus memahami dunia digital. Melalui interaksi anak-anak di ruang digital, kita bisa melihat karakter mereka secara lebih utuh. Selain itu, dengan pemanfaatan teknologi digital seperti machine learning, data analytics, dan pengolahan data, kita mulai dapat memetakan karakter yang kadang tidak selalu terlihat dalam percakapan sehari-hari,” tandas Fredy Purnomo.
Terkait pemanfaatan AI, pihaknya juga mengajarkan agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. ”AI kami posisikan sebagai co-pilot. Lalu siapa pilotnya? Tetap mahasiswa itu sendiri. Ketika kami memberikan tugas, kerangka berpikir dan detail awal harus datang dari mahasiswa. Setelah itu, AI dapat membantu mengembangkan ide. Namun, jawaban akhirnya tetap harus menjadi jawaban mereka sendiri. Mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkannya, termasuk melalui presentasi. Jadi, yang kami tekankan adalah penggunaan AI yang bertanggung jawab,” jelas Fredy Purnomo.
Dari enam program studi yang ada, semuanya sudah menyesuaikan dengan perkembangan AI. ”Kurikulum kami rombak agar berbasis human-AI collaboration. Artinya, ada bagian-bagian tertentu dalam setiap pertemuan yang mendorong refleksi dan evaluasi terhadap penggunaan AI dalam proses belajar. Dalam penggunaan AI sendiri, kami juga mengenalkan adanya tahapan atau level. Level yang paling rendah adalah ketika seseorang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Sementara level awal yang kami dorong justru menggunakan AI untuk mencari inspirasi, ide, atau sudut pandang. Jadi, AI bukan untuk menggantikan manusia berpikir, melainkan membantu memperkaya proses berpikir manusia,” jelasnya.
Dari sudut pandang psikologis, Gary Collins Brata Winardy M.Psi., Psikolog dari Psikolog dan Faculty Member BINUS University, menjelaskan bahwa tekanan dalam menentukan pendidikan saat ini semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.
“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini sering memicu keraguan dalam mengambil keputusan. “Ketika seseorang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan, mereka cenderung overthinking dan ragu dalam menentukan pilihan. Karena itu, pendidikan yang mampu memberikan arah, pengalaman nyata, dan exposure terhadap dunia kerja akan sangat membantu mengurangi kecemasan tersebut,” tambahnya.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh pengalaman langsung dari orang tua Binusian, Andi Purnama Hardjani membagikan bagaimana ia melihat perkembangan anaknya selama menempuh pendidikan di BINUS University @Semarang.
“Sebagai orang tua yang juga bergerak di industri kreatif, saya tahu betul betapa cepatnya dunia ini berubah. Karena itu saya ingin memastikan anak saya tidak hanya belajar di lingkungan yang bagus secara akademik, tapi juga benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi industri yang nyata. Yang saya lihat di BINUS @Semarang, anak saya tidak hanya tumbuh secara pengetahuan, tapi juga cara berpikirnya jadi lebih terstruktur dan lebih berani,” ungkapnya. she

