By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Bulan Al-Qur’an dan Generasi Khairu Ummah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Bulan Al-Qur’an dan Generasi Khairu Ummah

Last updated: 16 Maret 2026 14:55 14:55
Jatengdaily.com
Published: 16 Maret 2026 14:54
Share
Prof. Dr. KH Ahmad Rofiq, MA. Foto:dok
SHARE

Oleh: Ahmad Rofiq

BANYAK Ulama berpendapat bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu Ramadhan disebut Syahrul Qur’an. Dasarnya QS. Al-Baqarah: 185, “Bahwa di dalam bulan Ramadhan, diturunkan Al-Qur’an, untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda antara ang hak dan yang bathil:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185).

Karena itu, para Ulama memberi contoh ketika bulan Ramadhan. Imam Syafii dicatat banyak ulama, dalam satu bulan Ramadhan khatam 60 kali, karena dalam satu hari beliau khatam dua kali. Karena membaca al-Quran dijanjikan pahala besar, apalagi Al Qur’an nanti di akhirat akan membawa syafaat atau pertolongan kepada pembacanya.

Saking istimewanya, orang yang membaca Al-Qur’an masih gratul-gratul, Jawa, atau tertatih-tatih tetap mendapat dua pahala. Dasarnya riwayat dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah bersabda: “Orang yang ahli dalam Al-Qur’an akan bersama Malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an sedang ia bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.” (Riwayat Al-Bukhari, Al-Nasa’i, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Tentu yang terpenting adalah, ketika membaca Al-Qur’an dianjurkan dapat mentadabburi makna dari ayat Al-Qur’an yang dibaca, untuk kemudian diamalkan sebisa mungkin. Dengan banyak membaca Al-Qur’an, selain untuk menambah pahala membaca, juga akan menaikkan sensitifitas hati dan fikiran, agar mampu menangkap getar-getar iman dan lezatnya menjalankan ibadah puasa.

Orang yang bisa dan mampu merasakan nikmatnya puasa, adalah orang yang memiliki sensitifitas sensor indrawi dan ruhani berupa iman dan kesadaran melakukan introspeksi (muhasabah). Dan apabila prosesi ini berjalan lancar, maka di sinilah ritual prosesi pembersihan dan penyucian dosa-dosa seorang hamba, dapat berjalan dengan baik.

Di sinilah relevansi, bahwa “iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang”. Karena itu, sapaan wahai orang-orang yang beriman (QS. Al-Baqarah (2): 183) menjadi fondasi dan dasar seseorang yang bisa dan mampu merasakan lezatnya puasa. Abu Ishaq Ibrahim al-Syathiby menegaskan, perintah puasa dan ibadah lainnya, merujuk pada al-awamir dan al-nawahi (perintah dan larangan) dalam Al-Qur’an.

Hamba-hamba yang cakap melakukan perbuatan hukum itu, akan dapat menjalankannya dengan baik, manakala memahami makna dan kandungan perintah atau larangan tersebut.

Bagaimana mereka bisa menikmati ibadah puasa, kalau mereka tidak memahami dengan baik apa hikmah dan keuntungan di balik makna puasa itu sendiri yang diperintahkan oleh Allah melalui Al-Qur’an. Ini sejalan dengan riwayat Ibn Abbas, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Seandainya umatku memahami rahasia dan keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan, sungguh mereka akan mengharapkan setahun penuh menjadi bulan Ramadhan.

Karena kebaikan dikumpulkan, ketaatan diterima, doa-doa diijabahi, dosa-dosa diampuni, surga dibuka lebar-lebar untuk mereka”.

Ramadhan bagi orang yang mampu menangkap dan memahami pesan Al-Qur’an, adalah pertama, dijadikannya hidayah atau petunjuk agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yakni, beriman kepada Yang Ghaib, menegakkan shalat, membayar zakat atau menafkahkan sebagian dari rizqi yang diterimanya dari Allah.

Beriman kepada kitab-kitab yang Allah turunkan pada para Nabi, Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an.
Kedua, kepatuhan seorang hamba pada seluruh perintah Allah, dan meninggalkan semua larangan-Nya, adalah jati diri seorang hamba yang mengaku beriman.

Perintah puasa Ramadhan itu, ada makna dan hikmah yang sangat penting, bagi kehidupan manusia. Melatih kejujuran, kedisiplinan, memperkuat iman, membangun kepedulian sosial, dan melatih kedermawanan.

Karena di dalam diri manusia, ada nafsu hayawaniyah dan syaithaniyah yang selalu memunculkan perlawanan, yakni sifat dan sekaligus penyakit kikir, bakhil, yang terus bersemayam dalam diri manusia. Mereka inilah yang dapat diahrapkan menjadi generasi khairu ummah (ummat terbaik).

Dalam Riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw memfardhukan zakat fitrah, untuk menyucikan orang yang puasa dari (ucapan dan perbuatan) yang sia-sia dan kotor, dan memberi makan orang-orang miskin, barang siapa menunaikannya sebelum shalat (‘Idul Fitri) maka zakat diterima, dan barang siapa menunaikannya setelah shalat (‘Id) maka termasuk sedekah biasa”.

Generasi khairu ummah akan lahir apabila bulan Ramadhan ini dijadikan momentum untuk mengejawantah, melatih, dan membina generasi muda. Melalui tadarrus Al-Qujr’an, menghadiri majlis ilmu, festival anak shaleh, meliputi da’i/da’iyah millenial, karya seni-budaya religi, akan menjadi tabungan dan investasi besar bagi masa depan kita.

Dengan kita merenungkan hikmah diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, kita terus dalam sinaran petunjuk Allah, dan mampu melihat yang benar dan yang batil, dan mampu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Negara dan bangsa ini sangat membutuhkan generasi khairu ummah ini, agar pada saatnya mereka menjadi pemimpin nanti, mereka memiliki budaya dan mentalitas rauufun rahim, penyantun dan penyayang dalam berbagai aspek kehidupan, sebagaimana Rasulullah saw yang dalam waktu tidak sampai seperempat abad, mampu mengubah jalannya sejarah peradaban manusia, dari jahiliyah ke alam madaniyah yang berperadaban.

Dengan demikian, kita termasuk hamba-hamba Allah yang kembali kepada fitrah, hamba-hamba yang meraih kemenangan dan kebahagiaan, semoga Allah menerima ibadah kita, yang hanya berkeinginan berbuat yang baik, benar, dan indah.

Puasa Ramadhan mencetak generasi muslim yang benar, sebagaimana sabda Rasulullah saw: ”Orang Islam – yang benar – adalah yang mampu menjaga lisan dan tangan kekuasaannya”. Ia menampilkan sosok keberagamaan yang santun, rendah hati, tawadlu’, berkahlak mulia, tidak sombong, tetapi berbudi pekerti luhur, tidak hasut, dan tidak pernah meremehkan orang lain.

Itulah hakikat generasi khairu ummah yang diwujudkan melalui ibadah puasa, kembali kepada kesucian, sebagai pesan penting makna Idul Fitri.
Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, DPS BPRS Bina Finansia Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Polda Jateng Dalami Kasus Oknum Polisi Yang Diduga Aniaya Anak Dua Bulan Hingga Meninggal
PSIS Siapkan Strategi Khusus untuk Pecundangi Dewa United
KAI Gerak Cepat Investigasi Kecelakaan KA Turangga Vs Commuter Line Bandung Raya
Smartfren Pastikan Jaringan Optimal di Momen Mudik Lebaran 2025
Kampanye CTPS di Sekolah, Puskesmas Mijen I Edukasi Pelajar Cara Lawan Kuman
TAGGED:Bulan al-Qur’andan Generasi Khairu Ummah
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?