Wonosobo – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang, Kelompok 4 – Wonosobo, menggelar edukasi anti-bullying bagi 51 siswa kelas V dan VI SD Negeri 1 Gondowulan, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Senin (3/8/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai batas tegas antara gurauan dan tindakan perundungan.
Langkah ini diambil setelah mahasiswa melakukan observasi awal dan wawancara langsung dengan warga Desa Gondowulan. Dalam penelusuran tersebut, ditemukan fakta bahwa sejumlah anak kerap menjadi korban perundungan di lingkungan sekolah.
Ketua KKN UNTIDAR Kelompok 4 Wonosobo, Madania, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab keresahan masyarakat sekaligus menyelaraskan dengan misi pengabdian kampus.
“Tema perundungan kami angkat dari hasil observasi dan wawancara warga Desa Gondowulan, yang mengungkapkan kasus bullying cukup sering terjadi di sekolah. Sosialisasi ini bertujuan mencegah dan membangun kesadaran siswa agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan nyaman,” ujar Madania.
Isu perundungan di lingkungan sekolah dasar kini memang menjadi perhatian nasional. Berbagai kasus bullying terbukti membawa dampak buruk yang berkepanjangan terhadap kesehatan mental, penurunan prestasi belajar, hingga hilangnya kepercayaan diri anak.
Penanggung Jawab (PJ) sekaligus Pemateri Program, Restu Dimas, mengungkapkan bahwa dari pendampingan rutin setiap hari Senin dan Rabu di dalam kelas, tim KKN menemukan masih banyaknya aksi perundungan yang berkedok candaan.
“Dari pendampingan rutin setiap Senin dan Rabu, kami menemukan siswa masih menganggap tindakan mengejek hingga kontak fisik sebagai candaan biasa. Korban maupun saksi pun cenderung diam karena takut. Ini membuktikan pemahaman mereka tentang dampak bullying masih rendah, sehingga edukasi sejak SD sangat penting agar tidak menjadi kebiasaan,” jelas Restu Dimas.
Inisiatif dari 10 mahasiswa KKN UNTIDAR ini disambut terbuka oleh pihak SD Negeri 1 Gondowulan. Fasilitasi dan ruang interaksi yang diberikan pihak sekolah dimanfaatkan mahasiswa untuk menerapkan metode pembelajaran yang interaktif guna memperkuat karakter serta rasa empati para siswa. Rangkaian acara dikemas secara interaktif melalui pemaparan materi, ice breaking lagu edukatif, games mencari kata, hingga penulisan refleksi diri pada sticky note yang ditempelkan di “Pohon Harapan”.
Dampak dari kegiatan ini dirasakan langsung oleh peserta. Dian Pangestu, siswa kelas VI SD N 1 Gondowulan yang sebelumnya dikenal sangat tertutup, mengaku menemukan titik balik kepercayaan dirinya.
“Aku sangat termotivasi dengan hadirnya kakak-kakak KKN dan sosialisasi anti-bullying ini. Aku jadi lebih percaya diri. Aku sebenarnya pendiam, tapi karena sering berinteraksi sama kakak KKN sekarang bisa lebih ceria dan merasa lebih berharga,” tutur Dian
Sebagai bentuk edukasi, tim KKN membekali siswa dengan langkah penting jika menjadi korban atau melihat aksi perundungan, seperti berani menegur secara baik, tidak membalas dengan kekerasan, serta segera melapor kepada guru atau orang tua. Para guru dan orang tua pun diimbau peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti tiba-tiba menjadi pendiam, takut pergi ke sekolah, atau mengalami penurunan nilai belajar.
Melalui rangkaian kegiatan ini, tim KKN UNTIDAR berharap benih empati yang telah tertanam dapat terus mengakar kuat. Edukasi ini diposisikan bukan sekadar agenda formalitas sesaat, melainkan langkah awal bersama untuk merawat lingkungan sekolah yang aman, ramah anak, dan bebas dari perundungan secara berkelanjutan. [Sr].



