By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dari Barak ke Ruang Pers: Cerita Dua Wartawan Jateng Menyerap Makna Bela Negara
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Dari Barak ke Ruang Pers: Cerita Dua Wartawan Jateng Menyerap Makna Bela Negara

Last updated: 4 Februari 2026 22:25 22:25
Jatengdaily.com
Published: 4 Februari 2026 22:25
Share
M Chamim Rifai, peserta retret dari PWI Jateng sedang praktik menembak. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dua wartawan yang menjadi utusan PWI Provinsi Jawa Tengah, yaitu Bendahara M Chamim Rifai dan Seksi Polhukam Suparman berbagi cerita sepulang dari Retret Bela Negara yang diadakan oleh PWI Pusat dan Kementerian Pertahanan di Desa Cibodas, Rumpin, Bogor, 29 Januari – 1 Februari 2026 lalu.

Hadir di Gedung Pers, Selasa 3 Februari 2026, di depan para pengurus harian, Dewan Kehormatan, dan Badan Khusus PWI Jateng, Chamim dan Parman menyampaikan rasa terima kasihnya karena diberi kesempatan mengikuti kegiatan kebangsaan di barak militer.

”Siap, mohon izin memaparkan,” kata Chamim yang berbaju loreng lengkap sambil merapatkan kaki dengan gaya tegap diikuti Parman yang memperlihatkan mimik serius. Spontan, semua yang hadir pun mengikuti sikap mereka.

”Izin, selama kami berkegiatan, banyak sukanya. Kami bisa bersilaturahmi dengan teman-teman wartawan dari Sabang sampai Merauke,” tambah wartawan yang hobi main tenis ini.

Dalam paparannya, dia mengaku banyak menyerap materi bela negara selama kegiatan retret. Pada prinsipnya, kata dia, secara kelembagaan, Kemhan sangat mengapresiasi eksistensi organisasi PWI yang dinilai luar biasa. Karena, kiprah wartawan memiliki histori dalam Kemerdekaan RI.

”Dari semua materi, intinya peserta diminta mengisi kemerdekaan sesuai peran, dan bakatnya masing-masing. Ada penguatan mental, disiplin, dan solidaritas guna menopang saat tugas jurnalistik,” katanya.

Lanjut dia, selama berada di Pusat Kompetensi Bela Negara Cibodas, semua kegiatan diarahkan untuk kebugaran fisik, dan menumbuhkan patriotisme. Ada senam pagi, outbond, latihan Peraturan Baris Berbaris, dan paparan nilai dasar bela negara.

”Selama di kamp, tidak ada bentakan, hanya hentakan sepatu saat berbaris. Semua pendamping begitu awas melihat siapa peserta yang ngantuk dan lelah. Pendamping biasanya mendekati sambil memegang tangan dan berkata sopan, ”Kalau bapak nggak kuat, istirahat dulu”. Tetapi Alhamdulillah saya dan Mas Parman, demi PWI Jateng, selama kegiatan tetap semangat,” katanya yang disambut acungan jempol Ketua PWI Setiawan Hendra Kelana.

Dalam paparan itu, Setiawan didampingi antara lain Sekretaris Achmad Ris Ediyanto, Wakil Sekretaris Suparningsih, Wakil Ketua Bidang Organisasi Sunarto, dan Wakil Ketua Bidang Pendidikan Alkomari. Hadir juga Ketua DKP PWI Amir Machmud NS dan Anggota Sri Mulyadi serta Ketua Badan Khusus UKW Widiyartono R.

Menangis

Di bagian lain, Suparman yang mengaku pernah ikut test menjadi TNI pada masa remajanya itu juga menyampaikan terkesan dengan kegiatan retreat. Pasalnya, pikirannya menjadi terbuka, khususnya tentang gelombang Artificial Intelligence (AI) di era disrupsi. Dia kian paham bahwa sebagai penjaga kepercayaan publik, pers harus bekerja secara benar dan tanggung jawab.

”Saking terharunya, saya bahkan sampai menitikkan air mata, menangis, saat ada materi betapa pers punya peran dalam kemerdekaan,” katanya.

Dia juga terkesan dengan kegiatan latihan menembak di Batalyon 13 Grup 1 Kopassus, Bogor.

”Saya diberi kesempatan dua kali menembak, tapi kelihatannya meleset. Saya tetap senang karena di sini peserta mengetahui teknik dasar menembak,” katanya.
”Tidak apa-apa Mas Parman. Kami tetap bangga,” kata Ade, panggilan akrab Sekretaris PWI yang bertubuh gemuk itu.

Semua yang hadir begitu serius menyimak secara seksama paparan tersebut. Ketua PWI Jateng lebih banyak menanyakan kondisi kesehatan selama kegiatan mengingat jadwal yang begitu padat mulai bangun jam 03.00 WIB.

Untuk mencairkan suasana, Ketua DK PWI Amir Machmud pun bertanya tentang keseharian Suparman di sana, mengingat yang bersangkutan sering menyeduh kopi khusus untuk menambah vitalitas tubuh, terutama kekencangan otot paha.

”Apakah Mas Parman juga minum kopi agar tak gampang ngantuk?” tanyanya, yang disambut tawa.

”Izin, selama kami di sana kami fokus pada kegiatan. Cara makan dan minum diatur. Kita tak sembarangan ngopi di warung. Ini kegiatan bagus, dan kabarnya ada gelombang kedua. Saya berharap, akan banyak wartawan dari Jateng yang ikut,” pungkasnya. St

You Might Also Like

Telkom Minta Masyarakat Ikut Mengawasi, Pencurian Kabel Tembaga Berakibat Timbulkan Gangguan Layanan Telekomunikasi
Lulusan STIEPARI Go Internasional ke Jerman
Ferdy Sambo Divonis Pidana Hukuman Mati, Ibu Brigadir J: Sesuai Harapan
Tinjau Pos Pengamatan Merapi Babadan, Kepala BNPB Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana
Prodi S1 Ilmu Komunikasi Unissula Raih Akreditasi Unggul
TAGGED:Dari Barak ke Ruang PersKisah Dua Wartawan JatengMenyerap Makna Bela Negara
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?