SEMARANG (Jatengdaily.com) – Panitia Ramadan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) melakukan audiensi dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, Selasa (13/1/2026).
Audiensi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi syiar Ramadan agar semakin edukatif, relevan, dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.
Rombongan panitia Ramadan MAJT diterima langsung oleh Ketua KPID Jawa Tengah, Muhammad Aulia Assyahiddin, didampingi anggota KPID Jateng Mukhamad Nur Huda selaku Koordinator Bidang Isi Siaran dan Intan Nur Laili selaku Koordinator Bidang Pengembangan Kebijakan dan Sistem Penyiaran (PKSP) .
Audiensi dipimpin Ketua Panitia Ramadan MAJT, Prof Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat KPID Jateng. Menurutnya, keterbukaan dan dukungan KPID menjadi energi besar bagi MAJT untuk menyukseskan program syiar Ramadan tahun ini.
“Terima kasih atas sambutan luar biasa dari KPID Jawa Tengah. Ini menjadi penguat bagi kami untuk menghadirkan syiar Ramadan MAJT yang lebih berkualitas dan berdampak luas,” ujar Ahmad Izzuddin.
Senada dengan itu, Drs. KH. Istajib AS menegaskan bahwa momentum Ramadan merupakan sarana silaturahmi sekaligus penguatan kolaborasi. MAJT, lanjutnya, merasa sangat terbantu secara profesional dan berharap KPID Jateng dapat menjadi mitra strategis dalam pengembangan syiar ke depan.
“Kami ingin KPID menjadi partner MAJT. Dukungan ini sangat berarti, karena syiar Ramadan membutuhkan pendekatan yang profesional dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam audiensi tersebut, panitia MAJT memaparkan rencana penonjolan program talkshow syiar Ramadan dengan tema-tema yang lebih “menggigit” dan aktual.
Harapannya, MAJT yang telah berkiprah selama 13 tahun semakin mandiri dan maju. Selain sebagai pusat ibadah, MAJT juga memiliki potensi eduwisata, di antaranya kebun kurma di halaman masjid dengan jumlah sekitar 185 pohon.
Ketua KPID Jateng, Muhammad Aulia Assyahiddin, menyambut baik silaturahmi tersebut. Ia menekankan bahwa program kebersamaan di bulan Ramadan harus menjadi berkah dan menghadirkan syiar Islam yang rahmatan lil ‘alamin, membawa manfaat bagi orang banyak.
“Syiar Ramadan harus menjadi berkah bagi masyarakat luas. Kami menyambut baik langkah MAJT untuk memperkuat dakwah melalui media penyiaran,” katanya.
Aulia juga mendorong agar tema talkshow dimodernisasi dan disesuaikan dengan tren kekinian agar mampu menjangkau anak muda.
Ia menyoroti sejumlah isu yang dinilai penting untuk diangkat, seperti fiqih kebencanaan, fenomena nikah siri yang kerap disalahpahami di media sosial, serta fiqih pinjaman online yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.
“Anak muda banyak yang belum mendapatkan literasi fiqih kebencanaan. Begitu juga soal nikah siri dan pinjaman online. Ini perlu dibahas secara jernih dan edukatif melalui talkshow syiar Ramadan,” tegasnya.
Ia berharap, program talkshow tersebut tidak hanya berhenti selama bulan Ramadan, tetapi dapat terus menggema dan menjadi sarana edukasi berkelanjutan bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Sementara itu, Mukhamad Nur Huda menyampaikan bahwa respons lembaga penyiaran terhadap program seperti ini cenderung tinggi.
Menurutnya, KPID juga berkepentingan untuk menyapa masyarakat melalui literasi penyiaran sesuai tugas dan fungsi KPID Jawa Tengah.
Dari pihak panitia, Isdiyanto menyambut positif berbagai masukan yang disampaikan Ketua KPID. Ia optimistis, dengan waktu persiapan yang masih longgar, program talkshow syiar Ramadan MAJT akan mendapat respons luas dari radio-radio di Jawa Tengah.
“Masukan terkait fiqih nikah siri, pinjaman online, dan kebencanaan sangat relevan. Kami berharap kerja sama ini bisa berjalan berkelanjutan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dr. Heri Pamungkas, yang menegaskan panitia Ramadan MAJT akan segera merancang format talkshow yang mampu mengedukasi sekaligus menarik minat anak muda.
Audiensi ini menandai komitmen bersama MAJT dan KPID Jawa Tengah untuk menghadirkan syiar Ramadan yang tidak hanya informatif, tetapi juga kontekstual, solutif, dan menyentuh kebutuhan masyarakat masa kini. St
0



