By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dari Mimbar ke Media Sosial: Seruan Jatman Semarang agar Generasi Muda Kuasai Dakwah Digital
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Dari Mimbar ke Media Sosial: Seruan Jatman Semarang agar Generasi Muda Kuasai Dakwah Digital

Last updated: 24 Februari 2026 22:56 22:56
Jatengdaily.com
Published: 24 Februari 2026 22:56
Share
Ketua Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) Kota Semarang, Dr Ir H Joko Pujiono MSi, menyerukan satu pesan penting kepada generasi muda: dakwah tak lagi cukup dilakukan dari mimbar ke mimbar, tetapi harus menembus layar gawai dan ruang-ruang media sosial, pada talkshow Kurma di MAJT, Selasa 24 Februari 2026. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)  – Di tengah derasnya arus digital yang kian tak terbendung, Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) Kota Semarang, Dr Ir H Joko Pujiono MSi, menyerukan satu pesan penting kepada generasi muda: dakwah tak lagi cukup dilakukan dari mimbar ke mimbar, tetapi harus menembus layar gawai dan ruang-ruang media sosial.

Seruan itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam talkshow Kurma (Kupasan Ramadan Penuh Makna) bertema “Dakwah Berbasis Teknologi Informasi” di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Selasa (24/2/2026). Suasana diskusi terasa hidup ketika Joko memaparkan realitas perubahan perilaku masyarakat di era digital.

Menurutnya, transformasi metode dakwah adalah sebuah keniscayaan. “Sekarang pemakai media sosial di Indonesia itu sekitar 180 juta pengguna. Jadi lebih dari 60 persen penduduk Indonesia menggunakan media sosial, dan rata-rata remaja memakainya 5 sampai 6 jam sehari,” ujarnya.

Data tersebut, lanjut Joko, menjadi tantangan sekaligus peluang. Ia mengutip hasil riset Asosiasi Riset Muslim Indonesia yang menunjukkan bahwa muslim Indonesia yang baru tertib salat lima waktu kurang dari 40 persen. Sementara yang bisa membaca Alquran sekitar 60 persen, dan hanya 40 persen di antaranya yang mampu membaca dengan tajwid yang baik.

“Ini ada PR bersama untuk dakwah. Dakwah yang dulu bagus, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan,” tegasnya.

Joko mencontohkan metode dakwah Wali Songo yang dinilai luar biasa dalam menyesuaikan pendekatan dengan kultur masyarakat pada zamannya. Namun, menurutnya, perkembangan teknologi informasi hari ini belum sepenuhnya terakomodasi dalam strategi dakwah. “Kita perlu memanfaatkan teknologi informasi. Ini bukan ancaman, melainkan pendukung efektif untuk menjangkau masyarakat lebih luas,” katanya.

Ia menilai, para dai sejatinya telah memiliki bahan dakwah yang melimpah. Ceramah Jumat, pengajian rutin, hingga kajian tematik merupakan “harta karun” konten yang tinggal dikemas ulang dalam format kreatif untuk media sosial.

“Sebetulnya kita sudah memproduksi bahan-bahan dakwah. Tinggal bagaimana dikemas dalam konten-konten yang menarik dan relevan,” jelasnya.

Dengan 180 juta pengguna media sosial di Indonesia, Joko menilai akan sangat disayangkan bila ruang digital justru dibiarkan kosong dari pesan-pesan kebaikan. “Ke depan kita tidak bisa menghindari media sosial. Ini peluang besar untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan,” imbuhnya.

Namun ia juga mengingatkan, dakwah digital harus tetap berlandaskan etika. Konten mesti disampaikan dengan bahasa santun, mudah dipahami, singkat, dan solutif sesuai kebutuhan masyarakat. Para pendakwah pun dituntut memahami regulasi, termasuk Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), agar tidak tersandung persoalan hukum.

“Harus ada kehati-hatian dalam bermedia sosial. Teknologi informasi itu seperti pisau, bisa bermanfaat jika digunakan dengan baik, tetapi bisa berbahaya jika disalahgunakan,” tegasnya.

Dialog tersebut dihadiri mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang, siswa SMAN 5 Semarang, serta siswa SMKN 2 Semarang yang tampak antusias mengikuti diskusi hingga akhir.

Melalui forum itu, Joko berharap generasi muda mampu menjadi pelopor dakwah digital yang adaptif dan kreatif, tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak. Di era ketika jempol lebih aktif daripada langkah kaki, ia meyakini bahwa pesan kebaikan tetap bisa bergema—asal disampaikan dengan bijak dan mengikuti perkembangan zaman. St

You Might Also Like

KAI Daop 4 Semarang Berikan Diskon Tiket KA 10 Persen untuk Pembelian di Jateng Fair 2024
KSBN Jateng Bersyukur Unesco Tetapkan Gamelan Sebagai WBTb
Pengurus MAJT Semarang Dorong Pengelola MAJT An-Nur Magelang Lebih Profesional dan Kreatif
32 Gerai IM3 Hadir dengan Wajah Baru dan Pelayanan Lebih Terdigitalisasi
Kapolres dan Ketua Bhayangkari Demak Semangati Petugas Pos Pengamanan Lebaran
TAGGED:agar Generasi Muda Kuasai Dakwah DigitalDari Mimbar ke Media SosialSeruan Jatman Semarang
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?