Oleh: Ahmad Rofiq
Syababuna l-yaum rijaluna l-ghad. Ungkapan berbahasa Arab ini artinya “Pemuda hari ini adalah para pemimpin masa depan”. Data tahun 2025, jumlah pemuda Indonesia (usia 16–30 tahun) mencapai sekitar 66,83 juta jiwa. Dalam perspektif demografis, paling tinggi penduduknya adalah Generasi Z sebanyak 24,93% dari total populasi, diikuti oleh Generasi Milenial sebesar 24,34% (katadata.co.id).
Di era digital ini, banyak dan makin kompleks tantangan yang harus dihadapi oleh anak-anak muda ini. Pertama, kesehatan mental akibat kecanduan teknologi digital (digital burnout).
Banyak mereka mengalami dissosial dan teralienasi dari dunia nyata. Kedua, mereka ditimpa rasa ketakutan tertinggal (Fear of Missing Out) dari kehidupan orang lain, dan ini memicu stres, kecemasan, dan depresi.
Ketiga, cenderung tidak mau menerima masukan dari orang lain, termasuk lingkungan keluarganya sendiri.
Ujung-ujungnya, mereka tumbuh menjadi generasi yang temperamental, suka marah, merusak barang termasuknya handphonenya sendiri, dan bahkan peralatan di lingkungannya sendiri seperti televisi jadi sasaran kemarahannya.
Tentu masih banyak tantangan lainnya yang harus dijawab, terutama oleh para orang tua, apalagi yang kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.
Di bawah akan dikemukakan, beberapa hal yang boleh jadi justru penting bagi para orang tua, karena generasi muda ini akan tumbuh menjadi generasi terbaik (khairu ummah) mana kala orang tua mampi menyisihkan waktu dan pertahian pada generasi muda ini. Agar supaya impian menjadi generasi hebat, yang memimpin masa depan bangsa ini dapat terwujud.
Selagi kita masih dikaruniai umur panjang, mari kita jadikan momentum hidup kita di bulan Muharram 1448 H ini untuk terus muhasabah atau introspeksi diri kita sendiri. Pesan Sayyidina Umar bin al-Khathab ra:
“Hisablah diri kalian sendiri, sebelum kalian dihisab, timbanglah amal kalian sebelum ditimbang, maka apabila hina hitungan amal kalian kelak, lebih baik hisablah diri kalian hari ini”. Dalam riwayat dari Mu’adz ibn Jabal Rasulullah saw bersabda:
“Tidaklah akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba, hingga ditanya tentang umurnya untuk apa dirusakkan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, dan tetang hartanya dari mana didapatkan dan dibelanjakannya? dan tentang jasmaninya untuk apa dirusakkannya?” (Riwatar Abu Barzah al-Aslamy Nadllah bin Ubaid.
Dalam hidup ini, hanya ada kemarin, hari ini, dan esok. Hari, bulan, dan tahun kemarin memang sudah lewat, tetapi bukan berarti tidak ada manfaatnya.
Mari kita renungkan dan mengingat kembali, hari-hari dan tahun kemarin, mana yang lebih banyak kesalahan dan kekurangan, ataukah kebaikan dan kedermawanan yang kita lakukan kepada orang lain, laksana spion mobil atau motor, supaya kita bisa berjalan di jalan yang lurus dan bertekad untuk memperbaikinya.
Hari ini, kita boleh jadi sudah merencanakan, akan tetapi semua tergantung komitmen kita untuk menjalankannya atau terjebak dalam godaan yang dapat menyengsarakan kita.
Dan hari esok, kita hanya bisa merencanakan, namun semua tergantung kuasa dan kehendak Allah, karena kita tidak ada yang tahu apakah kita masih diberi umur panjang dan kesempatan hidup atau tidak?
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr (59): 18).
Hidup artinya gerak, karena itu, supaya kita tidak laksana onggokan jasad yang sudah mati saat kita masih hidup, maka kita harus terus bergerak dengan memperbanyak amal shalih apapun wujudnya demi memberi manfaat kepada diri kita, keluarga, dan masyarakat.
Meminjam spirit hijrah Rasulullah saw, dari Mekah ke Habasyah (untuk menyelamatkan para pengikut Islam awal yang tidak mendapat jaminan keamanan), hijrah ke Thaif untuk berdakwah namun mereka menolak dan bahkan memusuhi dan menyerang Rasulullah saw, dan hijrah dari Mekah ke Yatsrib, dan kelak beliau ganti menjadi Madinah.
Momentum bulan Muharram 1448 H, mari kita terus hidupkan spirit hijrah, guna memproses diri kita menjadi orang Islam yang benar, seperti sabda Rasulullah saw: “Orang Islam yang benar adalah manakala orang Islam lain merasa nyaman (damai) dari tutur kata dan tangan (kekuasaannya), dan orang yang hijrah adalah orang yang berpindah untuk meninggalkan larangan Allah” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Mari kita berikhtiyar mensyukuri dan mewujudkan syukur kita dengan bertutur kata dan berbuat yang terbaik. Kita terus muhasabah dan introspeksi diri, untuk meningkatkan iman dan taqwa kita.
Mari kita terus berbuat yang terbaik untuk mencari ridha Allah. Mari kita simak dan cermati nasihat bijak Grand Syeikh Al-Azhar Asy-Syarif, Syeikh Thanthawi:
1). Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal siapa kita.
2). Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami siapa kita.
3). Kita ini adalah orang yang istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita. 4). Kita adalah orang-orang yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian.
5). Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri dan dengki hati kepada kita.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah lelah menjelaskannya, agar tampak baik di mata orang lain.
Karena mereka tidak membutuhkan penjelasan kita. Cukuplah dengan ridha Allaah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai. Sedangkan Ridha Allah, tujuan yang pasti sampai dan terwujud.
Maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, karena pasti sia-sia hasilnya. Mari kita fokus saja untuk mencari dan menggapai pada ridha Allah (QS. 2:207).
Mari kita menyiapkan generasi yang akan menghadirkan perlindungan Allah, termasuk di dunia ini. Riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda:
“Ada tujuh orang yang mendapatkan perlindungan Allah di hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya: pemimpin yang adil, generasi muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Taala, seseorang yang hatinya tergantung di masjid, dua orang yang saling menyintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: sungguh aku takut kepada Allah, seorang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya itu, hingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir mengingat Allah di kesunyian, lalu berlinang tumpah air matanya”. (Muttafaq ‘alaih).
Mari kita cermati secara seksama firman Allah Taala: Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah (9): 105).
Semoga di sepanjang tahun 2026, kita bisa menorehkan kebaikan, memperbanyak amal shalih, guna mengawali buka buku dengan menorehkan tinta mas, dalam membuat sejarah bagi perjalanan hidup kita, semoga kita mampu merawat iman, taqwa, dan ibadah sosial dan vertical secara istiqamah, dan semoga di akhir hayat kita husnul khatimah.
Terus berjuang untuk menyiapkan generasi muda yang hebat, yang memiliki keunggulan kompetitif memasuki persaingan internasional, namun berhati masjid, dan terus mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah al-musta’an ila ma fihi yuhibbuhu wa yardlahu.

