SEMARANG (Jatengdaily.com)- Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang menggelar Penyuluhan Massal Penanganan Gigitan Ular (snakebite) dalam rangka memperingati World Snakebite Awareness Day yang diperingati setiap 17 September sekaligus menyemarakkan HUT ke-56 RSI Sultan Agung.
Kegiatan tersebut berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai pemrakarsa edukasi penanganan gigitan ular dengan peserta terbanyak. Rekor tersebut tercatat dengan jumlah peserta mencapai 2.997 orang dan diserahkan oleh Representative MURI Sri Widayati.
Inisiatif tersebut mendapat dukungan Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA), Prof. Dr. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H., serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).
Penyuluhan yang digelar dengan keikutpesertaan daring dan langsung ini, pada Senin (28/9/2026) ini menghadirkan pakar toksikologi, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM., Subsp.Tok.(K), FICEP, FIMMA, selaku Ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa, Tanaman Beracun, Penyakit Tidak Menular, serta Toksikologi Kemenkes RI.
Selain memberikan edukasi mengenai penanganan gigitan ular, kegiatan tersebut juga membahas penanganan darurat toksikologi medis, termasuk manajemen keracunan yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama yang menetapkan RSI Sultan Agung Semarang sebagai mitra strategis Kemenkes RI dalam penanganan kasus gigitan ular dan toksikologi.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk memperkuat jejaring rujukan serta mempercepat penanganan kasus toksikologi di tingkat regional maupun nasional.
Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan diri seluruh civitas hospitalia untuk terus meningkatkan mutu pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
Menurut dia, penguatan tersebut penting agar RSI Sultan Agung dapat terus berkontribusi dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah di bidang kesehatan.
“Nantinya kami bisa menangani pasien gigitan ular, dengan biaya dari Kemenkes. Pasien yang digigit ular tidak ter-cover BPJS,” kata Agus.
Ketua Umum YBWSA, Prof. Dr. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H., mengatakan pihaknya terus mendukung RSI Sultan Agung dalam memperluas akses pendidikan kesehatan, baik formal maupun nonformal, bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum.
Sebagai salah satu unit usaha strategis di bawah YBWSA yang juga menaungi jaringan Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), serta sejumlah perguruan tinggi dan unit usaha lainnya, RSI Sultan Agung terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi masyarakat, lembaga pemerintah, maupun pihak swasta dalam pengembangan kesehatan masyarakat.
“YBWSA akan terus mendukung pengembangan edukasi kesehatan, baik untuk tenaga kesehatan maupun masyarakat umum,” ujarnya.
Ke depan, RSI Sultan Agung juga diarahkan untuk memperkuat perannya dalam studi kasus gigitan ular serta membangun jejaring rujukan toksikologi di Jawa Tengah.
Dengan pencatatan Rekor MURI dan penguatan kemitraan bersama Kemenkes RI, RSI Sultan Agung tidak hanya menegaskan perannya sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan edukasi, penelitian, serta jejaring penanganan toksikologi di Indonesia.
Berawal dari Pengalaman Klinis
Ketua Panitia HUT ke-56 RSI Sultan Agung, Dr. Kinanti Narulita Dewi, Sp.An., mengatakan gagasan penyuluhan massal tersebut berawal dari pengalaman klinisnya menangani pasien korban gigitan ular.
“Jadi saat itu pasien saya terlambat dirujuk ke rumah sakit. Kemudian penanganan awalnya tidak tepat karena ketidaktahuan dari pasien dan keluarga pasien,” ungkap Kinanti.
Menurut Kinanti, korban gigitan ular seharusnya tidak banyak bergerak. Bagian tubuh yang terkena gigitan perlu dilakukan imobilisasi untuk mengurangi risiko penyebaran bisa.
Ia menceritakan, dalam kasus yang pernah ditanganinya, korban justru banyak bergerak karena berusaha membunuh ular yang menggigitnya. Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami henti napas dan henti jantung.
Meski sempat mendapatkan pertolongan dan menjalani perawatan, pasien tersebut akhirnya meninggal dunia.
“Betapa pentingnya penanganan awal kasus gigitan ular. Kalau penanganan awalnya salah, akan menimbulkan kecacatan dan kematian yang serius, meskipun kelihatannya hanya digigit ular,” jelasnya.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong RSI Sultan Agung untuk menggelar edukasi secara massal agar masyarakat mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi kasus gigitan ular.
“Makanya berawal dari hal itu kemudian saya terpikirkan, kenapa tidak membuat edukasi massal kepada masyarakat awam. Supaya nanti ketika terjadi gigitan ular mereka bisa melakukan penanganan untuk dirinya sendiri dan keluarga atau orang-orang di sekitarnya,” katanya.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah puskesmas di Kota Semarang dan daerah sekitar, masyarakat umum, sejumlah dinas dan instansi, termasuk petugas pemadam kebakaran, serta unsur pendidikan di lingkungan Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung.
Melalui edukasi tersebut, RSI Sultan Agung berharap pengetahuan masyarakat mengenai pertolongan pertama pada kasus gigitan ular semakin meningkat, sehingga kesalahan penanganan dan keterlambatan rujukan dapat diminimalkan. she



