Oleh: Ahmad Rofiq
HARI Idul Adha 1447 H insyaa Allah akan jatuh hari Rabu, 27/5/2026. Dalam tradisi keagamaan Islam, Idul Adha adalah hari raya besar. Jamaah haji, usai evakuasi dari puncak ibadah haji, wuquf di Arafah, dan sudah berada di Mina, setelah mabit di Muzdalifah, untuk melontar Jamrah ‘Aqabah, dan tahallul pertama.
Tentu ini pilihan bagi yang mengambil lontar ‘Aqabah dan cukur untuk tahallul pertama. Bagi yang memilih tanazul, biasanya setelah dari Muzdalifah, langsung menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah terlebih dulu, dan cukur sebagai tahallul awal.
Jamaah yang mengambil pilihan pertama, tahallul kedua, diambil setelah selesai thawaf ifadhah dan sa’i, dan bagi yang mengambil pilihan kedua, tahallul kedua, diambil setelah melontar jamrah ‘aqabah.
Mayoritas jamaah haji Indonesia, mengambil pilihan pertama, karena lebih hemat tenaga dan efisien, karena setelah lontar jamrah ‘Aqabah melanjutkan kegiatan mabit di Mina, malam 11 dan 12 Dzul Hijjah dan siangnya ke Mekah untuk nafar awal, dan tambah semalam 13 Dzulhijjah dan lontar Jamarat (Ula, Wustha, dan Aqabah).
Idul Adha atau Hari Kurban, sejatinya adalah hari yang dirayakan setelah seorang hamba melakukan berbagai ketaatan dan penghambaan kepada Allah ta’ala.
Idul Adha atau hari raya kurban, adalah hari raya bagi mereka yang telah menjalankan rukun haji yang paling utama atau puncaknya haji, yaitu wukuf di Arafah, atau bagi mereka yang telah sungguh-sungguh melakukan ketaatan dan ibadah pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.
Buah Uji Ketaqwaan Ibrahim
Bagi masyarakat Indonesia, Idul Adha, adalah hari raya untuk meneladani buah uji ketaqwaan Nabi Ibrahim as atas perintah Allah ‘Azza wa Jalla.
Dalam QS. Ash-Shaffat (37): 99-11 dijelaskan. Sesungguhnya aku pergi menghadap Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
“Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu”? Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis-(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. 99-110).
Dapat disimpulkan, bahwa perintah kurban ini adalah buah dari uji ketaqwaan Nabi Ibrahim as kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Rasulullah saw mengupdate dengan bahwa Allah telah melimpahkan berbagai anugrah dan kenikmatan berupa rizqi yang halal, maka bentuk syukurnya adalah shalat dan berkurban (QS. Al-Kautsar: 1-3). Ini dipertegas lagi riwayat dari Abu Hurairah ra, beliau bersabda: “Barangsiapa mendapati kemampuan (rizqi/ekonomi) dan tidak berkorban, maka jangan kalian dekati tempat shalat kami” (Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad, shahih).
Dalam bahasa anak muda, bagi seseorang yang berkemampuan ekonomi dan tidak berkurban, sepertinya shalatnya sia-sia. Inilah pentingnya pesan Idul Kurban adalah bahwa antara ibadah mahdhah dan ibadah iqtishadiyah (ekonomi) merupakan dua entitas yang terintegrasi atau menyatu. Ibadah mahdhah melahirkan keshalehan individual, dan ibadah iqtishadiyah melahirkan keshalehan sosial.
Mereka yang berkurbanlah yang sejatinya berhari raya. Melalui penyembelihan hewan kurban, kedermawanan mereka dapat didistribusikan dalam bentuk daging mentah, agar supaya mereka yang kurang mampu, dapat merasakan betapa nikmatnya memasak daging, yang boleh jadi dalam satu tahun belum tentu menikmati rasa dan nikmatnya daging. Karena masih harus diakui, bagi masyarakat yang berekonomi lemah, makan daging adalah sesuatu yang mewah.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“Dan apa pun harta yang kalian infakkan di jalan Allah, maka pahalanya itu untuk diri kalian sendiri. Dan janganlah kalian berinfak melainkan karena mencari ridha Allah. Dan apa pun harta yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahala secara penuh dan kalian sedikit pun tidak akan dirugikan” (QS al-Baqarah: 272).
Kehadiran Nabi Ismail as. adalah buah dari penantian yang sangat lama hingga mencapai usia 86 tahun, Nabi Ibrahim as baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Ismail.
Pembaca dapat membayangkan, betapa berat ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim, ketika belahan jiwanya itu tumbuh menjadi seorang remaja, Allah memerintahkan agar Nabi Ibrahim menyembelih putra yang sangat dicintainya itu.
Apa sikap Nabi Ibrahim dan Isma’il setelah menerima perintah itu melalui mimpi dalam tiga malam berturut-turut? Dengan ketaatan dan penuh keyakinan atas perintah Allah, Nabi Ibrahim as bersegera menjalankan perintah itu tanpa ada keraguan sedikit pun, namun disampaikan kepada putranya dengan penuh kasih sayang.
Hal ini dikarenakan Sang Pencipta segala sesuatu adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Pisau hanyalah sebab terpotongnya sesuatu.
Sedangkan Pencipta terpotongnya sesuatu dan Pencipta segala sesuatu tiada lain adalah Allah ta’ala. Sebab tidak dapat menciptakan akibat. Baik sebab maupun akibat keduanya adalah ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla.
Ini mengingatkan ketika Nabi Ibrahim as dibakar oleh Raja Namrud, secara kasat mata api telah membakar dirinya. Namun karena Allah memerintahkan kepada api, “Wahai api jadilah kamu terasa dingin atas diri Ibrahim”. Maka api itupun tidak membakarnya, tetapi justru terasa dingin. Allah akbar.
Berkat takwa, sabar dan tawakal serta ketundukan total yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Isma’il, Allah kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Isma’il dengan seekor domba jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus Isma’il dengan
seekor sembelihan yang agung” (QS ash-Shaffat: 106-107).
Masih ada waktu, bagi saudara-saudaraku yang belum ada niat berkurban, Mari kita teladani, pengurbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il as. Kita memang bukan Nabi, akan tetapi agar ibadah shalat kita yang menjadi barometer ibadah tidak sia-sia, marilah berkorban. Insyaa allah hanya dengan Rp 3.500.000,- Allah akan mengganti dengan pahala rizqi yang berlipat ganda. Bagi Allah, bukan daging dan darah kurban yang sampai kepada Allah, tetapi ketaqwaan kepada-Nya.
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberikan jalan keluar atas setiap kesulitan kita, Allah akan melimpahi rizqi tanpa bisa dihitung, dan menjadikan semua urusan kita menjadi mudah”. Allah a’lam bi sh-shawab.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana dan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Fnansia Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, dan Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah. Jatengdaily.com-st

