By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Indonesia Targetkan 82 Emas di ASEAN Para Games 2025
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Indonesia Targetkan 82 Emas di ASEAN Para Games 2025

Last updated: 12 Januari 2026 07:08 07:08
Jatengdaily.com
Published: 12 Januari 2026 07:08
Share
Menpora Erick Thohir seusai pengukuhan dan pelepasan Kontingen Indonesia di Pendopo Balai Kota Surakarta, Sabtu (10/1/2026). (Foto Humas Kemenpora)
SHARE

SURAKARTA (Jatengdaily.com)— Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menyatakan keyakinannya bahwa target 82 medali emas yang dicanangkan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia pada ajang ASEAN Para Games Ke-13 Tahun 2025 di Thailand dapat tercapai.

Optimisme tersebut didasarkan pada kesiapan kontingen Indonesia yang dinilai tetap maksimal meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. “Tentu apresiasi setinggi-tingginya kepada NPC, chef de mission, tim, dan para manajer atlet yang mempersiapkan kontingen dengan segala limitasi yang ada, tetapi targetnya masih 82 emas. Ini luar biasa,” ujar Menpora Erick seusai pengukuhan dan pelepasan Kontingen Indonesia di Pendopo Balai Kota Surakarta,  sebagimana siaran pers yang dilansir InfoPublik, Senin (12/1/2026).

Menpora menjelaskan, secara historis performa Indonesia di ajang ASEAN Para Games sangat konsisten. Data menunjukkan Indonesia rata-rata menempati peringkat satu atau dua, bahkan berhasil menjadi juara umum dalam tiga edisi terakhir pesta olahraga terbesar bagi penyandang disabilitas se-Asia Tenggara tersebut.

Namun demikian, Erick Thohir mengingatkan bahwa peta persaingan semakin kompetitif. Selain tuan rumah Thailand, sejumlah negara seperti Vietnam dan Malaysia dinilai memiliki persiapan atlet yang solid dan perlu diperhitungkan secara matang dalam strategi pertandingan. “Kalau kita bicara ranking dua atau tiga, tentu selain tuan rumah, kita harus memperhitungkan Vietnam dan Malaysia yang persiapan atletnya juga sangat baik,” katanya.

Lebih jauh, Menpora menegaskan bahwa Kemenpora tengah melakukan introspeksi dan transformasi menyeluruh dalam tata kelola pembinaan olahraga, baik di NPC maupun Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Transformasi ini mencakup perencanaan program jangka pendek, menengah, dan panjang, tidak hanya untuk kebutuhan multievent, tetapi juga keberlanjutan karier atlet setelah masa kompetisi.

Salah satu fokus utama pemerintah adalah penyusunan roadmap jenjang karier atlet disabilitas, termasuk pengembangan pembinaan tenaga olahraga, pelatih, dan peran strategis lain setelah atlet pensiun dari arena pertandingan. “Kita ingin memastikan pembinaan atlet itu menyeluruh. Bukan hanya hadir saat mereka berjaya, tetapi juga memikirkan masa depan mereka setelah tidak lagi bertanding,” tegas Menpora Erick.

Menpora juga mengungkapkan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta agar pemerintah secara serius mengkaji skema jaminan kesejahteraan jangka panjang, termasuk kemungkinan dana pensiun atlet, sebagai bagian dari reformasi sistem olahraga nasional.  “Ini yang sedang kita godok. Saya bersama Pak Wamenpora ingin benar-benar mentransformasi sistem ini, agar tidak berhenti di persiapan pertandingan, tetapi juga pasca-pertandingan,” imbuhnya.

Terkait bonus atlet ASEAN Para Games, Menpora menyampaikan bahwa usulan telah diajukan dan saat ini masih menunggu keputusan Presiden. Pemerintah berharap nilai bonus setara dengan yang diterima atlet SEA Games, sebagaimana pola kebijakan sebelumnya.

Namun demikian, Erick Thohir menegaskan bahwa bonus semata tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan atlet. Oleh karena itu, Kemenpora mulai mengintegrasikan program literasi keuangan agar bonus yang diterima atlet dapat dikelola secara produktif dan berorientasi masa depan.  “Bonus harus menjadi fondasi kesejahteraan jangka panjang, bukan hanya untuk kebutuhan sesaat. Inilah mengapa literasi finansial menjadi penting dan akan terus kita sinergikan dengan NPC dan para pemangku kepentingan olahraga,” ujarnya.

Menpora menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya konsolidasi seluruh pihak demi prestasi Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sejalan dengan Asta Cita pembangunan nasional, khususnya dalam mewujudkan SDM unggul, inklusif, dan berdaya saing global. she 

You Might Also Like

Rangkaian Hari Kartini, Perempuan Bangsa Berbagi Sejuta Takjil dan Sembako
Ngesti Nugraha Kembali Pimpin PDIP Kabupaten Semarang
Beri Bantuan Sembako Korban Banjir Sayung, Ahmad Muzani Dicurhati Normalisasi Sungai
Banjir di Kota Pekalongan, Ribuan Orang Mengungsi
Pengecer Elpiji Dituntut 2 Tahun 6 Bulan Penjara, Kuasa Hukum Terdakwa Keberatan
TAGGED:ASEAN Para Games 2025menpora
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?