Oleh: Dr KH Multazam Ahmad MA
PERISTIWA Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi tonggak penting dalam sejarah spiritual umat Islam, tetapi juga mengandung pesan sosial yang kuat dan relevan hingga saat ini.
Diperingati setiap 27 Rajab, termasuk pada 16 Januari 2026, Isra Mi’raj merupakan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW yang sarat makna, baik secara vertikal dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, maupun secara horizontal dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Isra Mi’raj menjadi mukjizat besar yang menguji keimanan umat. Dalam satu malam, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, lalu dinaikkan ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat.
Peristiwa luar biasa ini kerap sulit diterima logika, namun justru menjadi peneguh iman bagi orang-orang beriman.
Makna Isra Mi’raj tidak berhenti pada aspek ritual semata. Salat yang diperintahkan langsung kepada Nabi Muhammad SAW menjadi simbol penting bahwa ibadah tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dampak sosial.
Salat yang benar dan khusyuk seharusnya mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, serta melahirkan pribadi yang jujur, amanah, dan peduli terhadap sesama.
Dalam perspektif Islam, kesalehan tidak cukup dimaknai sebagai ketaatan ritual semata. Kesalehan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Kepedulian terhadap sesama, keadilan, empati kepada kaum lemah, serta keberpihakan pada korban ketidakadilan merupakan wujud nyata dari nilai-nilai Isra Mi’raj dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan ini menjadi semakin penting di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi bangsa, mulai dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, bencana alam, hingga persoalan ketenagakerjaan dan sosial lainnya.
Isra Mi’raj mengingatkan bahwa iman sejati harus tercermin dalam sikap dan tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Melalui peringatan Isra Mi’raj, umat Islam diajak untuk tidak hanya memperbaiki kualitas ibadah ritual, tetapi juga meneguhkan komitmen sosial.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin umat dan bangsa menjadi contoh bahwa nilai-nilai spiritual harus beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa perjalanan spiritual Nabi, melainkan momentum refleksi bagi umat Islam untuk menghadirkan agama sebagai rahmat bagi semesta, melalui kesalehan pribadi yang berpadu dengan kesalehan sosial.
Dr KH Multazam Ahmad MA, dosen FBS Unnes, Wasekjen Pusat Dewan Masjid Indonesia, Sekretaris MUI Jateng. Jatengdaily.com-St
0



