Jejak Inflasi Nataru, Jawa Tengah dalam Angka dan Fakta

5 Min Read

Oleh: Helmia Agita
Statistisi (Intern) BPS Provinsi Jawa Tengah

DINAMIKA perekonomian daerah pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 memasuki fase peningkatan aktivitas, seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga, mobilitas penduduk, permintaan terhadap jasa transportasi, akomodasi, dan pariwisata.

Periode akhir tahun yang bertepatan dengan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) umumnya menunjukkan adanya pola musiman yang berulang dalam pergerakan berbagai indikator ekonomi makro, khususnya inflasi.

Pola ini menunjukkan bahwa perkembangan harga pada akhir tahun tidak semata-mata dipengaruhi faktor struktural tetapi juga mencerminkan keseimbangan antara supply dan demand akan barang dan jasa.

Oleh karena itu, memahami korelasi antara Nataru dan inflasi menjadi penting sebagai bahan evaluasi stabilitas ekonomi daerah sekaligus dasar perumusan kebijakan pengendalian inflasi ke depan.

Inflasi Akhir Tahun sebagai Pola Musiman
Berdasarkan pola historis data statistik, periode Desember hampir selalu mencatat inflasi bulanan yang lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya, seiring meningkatnya aktivitas konsumsi, mobilitas penduduk, serta permintaan terhadap berbagai layanan jasa.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi Jawa Tengah pada Desember 2024 mencapai sekitar 0,38 persen (month-to-month), meningkat dibandingkan November 2024.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi Jawa Tengah berada di kisaran 2,6 persen, masih dalam rentang sasaran inflasi nasional. Memasuki tahun 2025, perkembangan inflasi Jawa Tengah hingga pertengahan tahun relatif terkendali.

BPS mencatat inflasi tahunan Jawa Tengah pada semester pertama 2025 berada di kisaran 2,4–2,6 persen, sejalan dengan inflasi nasional.

Stabilitas ini mencerminkan terjaganya pasokan barang dan jasa serta efektivitas pengendalian harga di tingkat daerah. Namun, berdasarkan tren historis, stabilitas tersebut berpotensi kembali diuji pada periode Nataru 2025.

Kelompok Pengeluaran Penekanan Inflasi
Jika dilihat menurut kelompok pengeluaran, tekanan inflasi Desember di Jawa Tengah terutama berasal dari kelompok transportasi, akomodasi serta penyediaan makan dan minum, dan rekreasi, olahraga, dan budaya.

Kelompok transportasi mencatat kenaikan indeks harga seiring meningkatnya permintaan jasa angkutan selama libur Nataru.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan bahwa sejak 20 Desember hingga 31 Desember 2025 tercatat mobilitas di Jawa Tengah mencapai 8,6 juta jiwa.

Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga berakhirnya Operasi Lilin Candi pada 5 Januari 2026.

Dari sisi transportasi dan mobilitas, Jawa Tengah memiliki karakteristik khusus sebagai wilayah tujuan sekaligus daerah transit utama di Pulau Jawa.

Arus kendaraan di jalur Pantai Utara (Pantura), jalur selatan, serta kawasan Semarang dan Solo Raya meningkat tajam menjelang Natal dan Tahun Baru.

Peningkatan volume penumpang dan kendaraan ini mendorong kenaikan tarif jasa transportasi, baik angkutan umum maupun layanan berbasis jalan, yang berkontribusi langsung terhadap inflasi bulanan.

Data tingkat penghunian kamar hotel di Jawa Tengah menunjukkan tren peningkatan pada Desember dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan ini sering kali diikuti dengan penyesuaian tarif kamar, jasa makanan dan minuman, serta layanan penunjang lainnya.

Upaya Pengendalian Inflasi Daerah

Data pengeluaran rumah tangga menunjukkan adanya pergeseran pola belanja ke sektor jasa, rekreasi, perjalanan, serta konsumsi di luar rumah. Kelompok makanan dan minuman jadi, perawatan pribadi, dan rekreasi biasanya mencatat kenaikan indeks harga pada periode ini.

Meskipun bersifat sementara, peningkatan konsumsi tersebut cukup signifikan untuk mendorong inflasi bulanan. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah secara rutin melakukan langkah antisipatif menjelang Nataru.

Upaya tersebut meliputi pemantauan harga dan tarif jasa, koordinasi lintas daerah, pengaturan lalu lintas dan transportasi, serta penguatan informasi kepada masyarakat. Tujuannya adalah memastikan inflasi musiman tidak berkembang menjadi tekanan harga yang berkelanjutan.

Dari perspektif statistik, inflasi Nataru di Jawa Tengah mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat, sehingga dapat dipandang sebagai indikator dinamika ekonomi daerah.

Namun, inflasi yang terlalu tinggi berisiko menurunkan daya beli kelompok rentan dan memicu penyesuaian harga lanjutan pada awal tahun berikutnya.

Secara keseluruhan, berdasarkan data historis dan perkembangan ekonomi 2025, korelasi antara Natal–Tahun Baru dan inflasi di Jawa Tengah diperkirakan tetap kuat, terutama melalui kanal transportasi, jasa, dan pariwisata.

Tantangan utama ke depan adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan aktivitas ekonomi akhir tahun dan stabilitas harga, sehingga inflasi tetap terkendali dan mendukung keberlanjutan ekonomi daerah. Jatengdaily.com-St

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.