Kolaborasi Unimed, Undip, dan Pemkot Semarang Dorong Penyelamatan Kota Maritim

4 Min Read
Para nara sumber dalam seminar. Foto: dok

MEDAN (Jatengdaily.com) –Ancaman terbesar kota maritim saat ini bukan hanya banjir rob, abrasi, atau urbanisasi masif, melainkan hilangnya identitas dan memori kolektif. Keprihatinan itu mengemuka dalam Seminar Nasional “Menyelamatkan Heritage Kota Maritim: Sejarah dan Pengembangannya” yang berlangsung di Medan, Selasa (1/7/2026).

Seminar kolaborasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed), Pemkot Semarang, Program Doktor Sejarah FIB Undip, Rumah Sejarah Medan, dan Rumah Budaya Tangga Medan ini diikuti sekitar 100 peserta dari Pemkot Semarang dan Unimed. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Rakernas XVIII APEKSI 2026 Pemkot Semarang.

“Kota boleh membangun jalan lebih lebar, pelabuhan modern, gedung tinggi. Tapi kalau kehilangan sejarah dan memorinya, ia kehilangan arah, identitas, bahkan masa depannya,” ujar Prof. Singgih Tri Sulistiyono, yang menjadi pesan kunci yang ditegaskan para narasumber.

Seminar ini menegaskan penyelamatan kota maritim tidak cukup lewat konservasi bangunan tua atau revitalisasi kawasan. Yang harus diselamatkan adalah jiwa kota: identitas sejarah, memori kolektif, arsip, situs arkeologi, hingga nilai budaya yang membentuk karakter unik tiap kota.

Semarang dijadikan model kota maritim Nusantara dengan jejak panjang pelayaran, perdagangan, migrasi, dan perjumpaan peradaban Asia lebih dari seribu tahun.

 

Lima Perspektif untuk Masa Depan Maritim

Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., menyebut Semarang sebagai kota maritim kosmopolitan sejak era Mataram Kuno. Pelabuhan dan akulturasi budaya membentuk Semarang sebagai ruang perjumpaan Jawa, Tionghoa, Arab, Melayu, Gujarat, Bugis, hingga Eropa. Identitas terbuka dan multikultural itu harus menjadi modal kultural Semarang modern.

Sedangkan Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si., menyoroti krisis memori di era digital. Ancaman sejarah kini datang lewat hoaks, disinformasi digital, bias algoritma, dan AI yang membentuk memori kolektif palsu. Solusinya adalah digitalisasi arsip, literasi sejarah, serta pembangunan Semarang City Archive dan Museum Bahari sebagai benteng kedaulatan memori.

Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., memaparkan Semarang City Archive dan Museum Bahari sebagai infrastruktur strategis. Bukan sekadar gudang arsip, tetapi pusat pendidikan, riset, inovasi, diplomasi budaya, dan wisata sejarah yang memperkuat identitas sekaligus daya saing global Kota Semarang.

Sedangkan Prof. Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S., lewat kajian Situs Bongal membuktikan pesisir barat Sumatra sudah terhubung jaringan dagang internasional sejak awal. Penyelamatan heritage maritim adalah agenda nasional, bukan hanya soal Semarang.

Prof. Dr. Suryadi, M.A., dari Leiden University mengungkap jutaan arsip kota maritim Nusantara masih tersimpan di Belanda. Repatriasi digital dan kerja sama internasional mendesak dilakukan untuk merekonstruksi sejarah Indonesia.

Pada kesempatan ini juga dilakukan penyerahan Artefak Peradaban Maritim koleksi Dr. Jim Siahaan kepada Pemkot Semarang di Rumah Budaya Tangga, Medan. Penyerahan ini menjadi simbol kolaborasi lintas daerah dalam pelestarian sejarah.

Di hari yang sama, Rumah Sejarah Medan juga menyerahkan repatriasi Surat Kabar Semarang tahun 1858–1942 kepada Pemkot Semarang. Momen ini disebut sebagai “kembalinya ingatan sebuah kota kepada pemiliknya”. Arsip tersebut akan menjadi fondasi awal Semarang City Archive.

Tiga agenda, yakni penyerahan artefak, seminar nasional, dan repatriasi arsip, menegaskan bahwa penyelamatan kota maritim harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar wacana akademik.

Seminar diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi pemerintah, kampus, lembaga arsip, museum, dan komunitas sejarah. Lebih dari itu, seminar ini juga membangun kesadaran bahwa kota maritim dibentuk bukan hanya oleh pelabuhan dan infrastruktur, tetapi juga oleh ingatan kolektif dan identitas sejarah yang hidup.

“Bangunan runtuh bisa dibangun lagi. Pelabuhan rusak bisa diperbaiki. Tapi kalau kota kehilangan memorinya, yang hilang bukan cuma masa lalu, melainkan kompas menuju masa depan. Menyelamatkan heritage kota maritim berarti menyelamatkan masa depan Indonesia sebagai bangsa bahari,” tutup Prof. Singgih Tri Sulistiyono. she

Share This Article