Dwi Asih Septi Wahyuni, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman
Pegawai BPS Kabupaten Banyumas
ANGKA pengangguran merupakan salah satu indikator makroekonomi yang sering menjadi tolak ukur keberhasilan capaian pembangunan pemerintah. Pengangguran dihitung oleh Badan Pusat Statistik melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan setiap tahun. Hasil Sakernas menunjukan potret pengangguran di Indonesia sepanjang tahun 2011 hingga 2025 mengalami penurunan dari 7,48 persen menjadi 4,85 persen atau sebanyak 7,461 juta penduduk usia 15 tahun ke atas menganggur.
Persentase penduduk yang menganggur di Indonesia lebih rendah dibandingkan rata-rata persentase pengangguran dunia yakni 4,869 persen namun berada di atas rata-rata negara BRICS yakni 4,789 persen dimana Indonesia merupakan salah satu dari anggota BRICS. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pasar tenaga kerja di Indonesia lebih mampu menyerap angkatan kerja dibandingkan kondisi global namun jika dibandingkan dengan kelompok negara berkembang besar (BRICS), kinerja pasar tenaga kerja Indonesia sedikit tertinggal 0,061 poin.
Beberapa faktor yang menyebabkan angka pengangguran di Indonesia berada di bawah rata-rata dunia antara lain tenaga kerja di Indonesia sebagian besar bekerja di sektor informal yakni sebanyak 57,80 persen. Sektor informal dalam hal ini adalah pekerja yang berstatus berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas dan pekerja keluarga/tak dibayar.
Pekerja di sektor informal ini tetap dianggap bekerja selama melakukan kegiatan usaha meskipun produktivitasnya kecil. Selain itu, faktor fleksibilitas pasar kerja juga mempengaruhi adanya persentase pengangguran Indonesia dibawah rata-rata dunia karena seseorang akan cenderung beralih pekerjaan non formal untuk menghidupi keluarganya sambil menunggu pekerjaan formal yang diinginkan sehingga angka pengangguran masih dapat ditekan.
Namun, mengapa Pengangguran Indonesia berada diatas rata-rata Negara BRICS? Negara BRICS merupakan negara-negara yang memiliki basis industri manufaktur yang sangat besar sehingga mampu menyerap tenaga kerja dalam skala massal dan rata-rata Negara BRICS memiliki integrasi rantai pasok global sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing ekspor.
Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian, perdagangan dan industri pengolahan. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya menjadi negara industri namun juga tidak murni sebagai negara agraris. Sektor pertanian mampu menjaga stabilitas sosial dan mudah menyerap tenaga kerja karena tidak membutuhkan pendidikan tinggi namun memiliki produktivitas yang relatif rendah dan pendapatan yang belum merata di setiap rantai pasok.
Disisi lain, sektor perdagangan seringkali sektor yang sangat elastis dalam perubahan ekonomi karena dapat dengan cepat menyerap tenaga kerja. Sektor perdagangan menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh aktivitas distribusi dan konsumsi. Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang paling strategis dalam ekonomi karena mampu menghasilkan nilai tambah yang tinggi dibandingkan sektor pertanian. Sektor industri pengolahan menjadi jembatan menuju industrialisasi dan mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar.
Potret ketenagakerjaan di Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis produksi. Indonesia perlu mempercepat transformasi ekonomi agar pekerjaan yang tersedia dapat lebih produktif dan memiliki nilai tambah yang tinggi. Tantangan utamanya adalah bukan hanya menurunkan pengangguran namun juga meningkatkan kualitas pekerjaan yang memiliki produktivitas besar sehingga para pekerja dapat memperoleh pendapatan yang layak diatas UMK yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jatengdaily.com-st


