By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Mengubah Arah Penanganan GERD: Dari Menekan Asam Menuju Regenerasi Mukosa
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Mengubah Arah Penanganan GERD: Dari Menekan Asam Menuju Regenerasi Mukosa

Last updated: 28 Juli 2026 14:25 14:25
Jatengdaily.com
Published: 28 Juli 2026 14:25
Share
Dirut RSI Sultan Agung dr. H. Agus Ujianto. Foto: dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, Dr. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa mengatakan bagi jutaan masyarakat Indonesia, sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn), rasa asam yang naik hingga ke tenggorokan, serta nyeri ulu hati merupakan keluhan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yaitu penyakit akibat naiknya isi lambung ke kerongkongan atau esofagus.

Selama ini, GERD sering dikaitkan dengan pola makan tidak teratur, konsumsi makanan pedas dan berlemak, serta stres. Penanganan yang umum dilakukan adalah menggunakan obat penekan produksi asam lambung dari golongan Proton Pump Inhibitors (PPI), seperti omeprazole dan lansoprazole.

Namun, muncul pertanyaan yang kerap dirasakan penderita GERD: mengapa keluhan dapat kembali muncul setelah obat dihentikan, meskipun telah digunakan dalam jangka waktu lama?

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa penanganan GERD tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian asam lambung. Perkembangan ilmu kedokteran menunjukkan bahwa GERD juga melibatkan perubahan pada lapisan mukosa, gangguan fungsi penghalang atau barrier esofagus, serta proses inflamasi yang terjadi pada tingkat seluler.

Obat penekan asam dapat membantu mengurangi keasaman lambung dan meredakan gejala. Namun, penanganan GERD secara menyeluruh juga perlu memperhatikan kondisi jaringan dan fungsi perlindungan mukosa esofagus.

Kerusakan Penghalang Mukosa

Untuk memahami proses tersebut, lapisan esofagus dapat dianalogikan seperti dinding yang tersusun dari batu bata. Sel-sel epitel pada permukaan mukosa saling terhubung melalui struktur khusus yang disebut tight junctions atau sambungan antarsel.

Struktur ini melibatkan sejumlah protein, antara lain Claudin-1 dan Occludin, yang berfungsi menjaga kekuatan serta integritas lapisan mukosa.

Paparan berulang terhadap isi lambung dapat mengganggu fungsi penghalang tersebut. Ketika hubungan antarsel melemah, dapat terbentuk celah-celah mikroskopis yang dikenal sebagai Dilated Intercellular Spaces (DIS) atau pelebaran ruang antarsel.

Kondisi ini dapat meningkatkan permeabilitas lapisan mukosa sehingga rangsangan dari isi lambung lebih mudah memengaruhi jaringan di bawahnya. Selanjutnya, terjadi aktivasi berbagai jalur inflamasi dan pelepasan mediator peradangan, termasuk Interleukin-8 (IL-8) dan Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α).

Proses inflamasi yang berlangsung terus-menerus dapat memperburuk gangguan pada mukosa serta memengaruhi fungsi esofagus. Kondisi tersebut berpotensi membentuk siklus yang membuat keluhan GERD terus berulang.

Peran Kedokteran Regeneratif

Perkembangan kedokteran regeneratif (regenerative medicine) membuka pendekatan baru dalam upaya memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan.

Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pengurangan gejala, tetapi juga mempelajari potensi pemulihan jaringan melalui proses tissue repair atau perbaikan jaringan.

Salah satu bidang yang terus dikembangkan adalah pemanfaatan Mesenchymal Stem Cells (MSC) atau sel punca mesenkimal serta secretome atau sekretom.

MSC merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk berperan dalam proses perbaikan dan regenerasi jaringan. Sementara itu, sekretom merupakan kumpulan molekul bioaktif yang dilepaskan oleh sel, termasuk faktor pertumbuhan, protein, serta vesikel ekstraseluler seperti eksosom (exosomes).

Molekul-molekul tersebut berperan dalam komunikasi antarsel dan dapat memengaruhi berbagai proses biologis, seperti pengendalian inflamasi, perbaikan jaringan, serta pembentukan pembuluh darah.

Dalam penelitian dan pengembangan terapi regeneratif, bahan biologis dapat berasal dari tubuh pasien sendiri atau disebut autologous. Pendekatan ini memiliki potensi untuk mengurangi risiko ketidakcocokan imunologis, meskipun keamanan dan efektivitasnya tetap harus dibuktikan melalui penelitian serta uji klinis yang memadai.

Tiga Mekanisme Potensial Sekretom

Secara biomolekuler, sekretom dipelajari karena memiliki sejumlah potensi mekanisme dalam mendukung pemulihan jaringan.

Pertama, sekretom berpotensi membantu pemulihan penghalang epitel atau epithelial barrier restoration. Sejumlah faktor pertumbuhan, seperti Epidermal Growth Factor (EGF) dan Keratinocyte Growth Factor (KGF), berperan dalam proses proliferasi, migrasi, dan perbaikan sel.

Melalui proses tersebut, pemulihan lapisan epitel serta pembentukan kembali struktur penghubung antarsel diharapkan dapat membantu memperkuat fungsi perlindungan mukosa.

Kedua, sekretom memiliki potensi sebagai pemodulasi sistem imun atau immunomodulation. Molekul bioaktif dan microRNA yang terkandung dalam vesikel ekstraseluler dapat memengaruhi jalur sinyal inflamasi, termasuk Nuclear Factor Kappa B (NF-κB).

Pengaturan jalur inflamasi tersebut berpotensi membantu mengendalikan produksi mediator peradangan, seperti IL-8 dan TNF-α. Selain itu, berbagai penelitian juga mempelajari kemampuan sekretom dalam memengaruhi perubahan fungsi makrofag dari kondisi yang lebih proinflamasi menuju kondisi yang mendukung proses perbaikan jaringan.

Ketiga, sekretom juga dipelajari karena potensinya dalam mendukung pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis. Melalui faktor pertumbuhan seperti Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), proses pembentukan pembuluh darah dapat membantu meningkatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan dalam pemulihan jaringan.

Peluang dan Tantangan Aplikasi Klinis

Pemanfaatan sel punca dan sekretom dalam penanganan gangguan saluran cerna masih menjadi bidang yang terus berkembang. Berbagai pendekatan tengah dipelajari, termasuk pemberian bahan biologis secara terarah melalui prosedur endoskopi.

Dalam konsep terapi berbasis regenerasi, tindakan endoskopi berpotensi digunakan untuk mengarahkan terapi pada area jaringan yang mengalami gangguan. Namun, penerapan klinis harus dilakukan berdasarkan bukti ilmiah, standar keselamatan, regulasi, serta persetujuan etik yang berlaku.

Pengembangan terapi berbasis sel dan produk turunannya juga membutuhkan fasilitas dengan standar pengolahan yang ketat. Proses produksi harus memenuhi prinsip Good Manufacturing Practice (GMP) atau Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk menjaga mutu, konsistensi, sterilitas, keamanan, dan kualitas produk biologis.

Selain itu, setiap terapi baru perlu melalui tahapan penelitian yang sistematis, mulai dari penelitian laboratorium, studi praklinis, hingga uji klinis pada manusia. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan manfaat, risiko, dosis, metode pemberian, serta efektivitas terapi dalam jangka panjang.

Mengarah pada Pemulihan Mukosa

Pemahaman mengenai GERD terus berkembang. Penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan tingkat keasaman lambung, tetapi juga melibatkan fungsi penghalang mukosa, sensitivitas jaringan, proses inflamasi, serta berbagai faktor lain yang saling berhubungan.

Pendekatan kedokteran regeneratif berbasis sel punca dan sekretom membuka peluang penelitian baru untuk mendukung pemulihan jaringan. Meski demikian, teknologi tersebut masih memerlukan pengembangan dan pembuktian ilmiah lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas sebagai terapi rutin.

Ke depan, penanganan GERD diharapkan tidak hanya berfokus pada pengendalian gejala dan penurunan produksi asam lambung, tetapi juga pada upaya menjaga serta memulihkan fungsi mukosa esofagus secara menyeluruh.

Dengan pendekatan yang berbasis bukti, aman, dan terukur, perkembangan kedokteran regeneratif berpotensi menjadi bagian dari arah baru penanganan GERD, yaitu tidak sekadar meredakan keluhan, tetapi juga mendukung proses pemulihan jaringan dan fungsi biologis tubuh.

Saya juga sudah memperbaiki beberapa bagian yang sebelumnya terlalu bersifat klaim pasti, seperti “menyembuhkan secara permanen”, “menutup celah secara sempurna”, dan “aman secara total”, agar lebih sesuai dengan kaidah penulisan kesehatan dan tidak terkesan menjanjikan hasil terapi. she

You Might Also Like

SIG Bukukan Laba Kuartal I Tahun 2022 Sebesar Rp498,56 Miliar
Dikunjungi Presiden, Dirut PLN Paparkan Kesiapan Ekosistem Kendaraan Listrik di Booth PLN di PEVS 2024
Pemkot Pekalongan Izinkan Warga Gelar Resepsi Nikah, Kuota Tamu Maksimal 30 Orang
Jejak Bahurekso yang Dihidupkan Kembali di Teras Budaya
Duta Pariwisata dan Kebudayaan Indonesia Gelar Penjurian One Village One Story di Kebumen
TAGGED:Agus UjiantoRegenerasi Mukosa
Share This Article
Facebook Email Print
© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?