SEMARANG (Jatengdaily.com) – Batu akik nusantara bukan sekadar benda koleksi. Di balik kilau batu bacan, klawing, permata dan berbagai jenis batu akik, tersimpan pengetahuan, sejarah, tradisi serta potensi ekonomi yang tumbuh dari komunitas kolektor dan pelaku perdagangan batu.
Hal itu diungkapkan Ketua Paguyuban Semar Bersatu, Drs Ahmad Muhaimin SIKom, MPd, MH dalam pembukaan Bursa Pameran Batu Akik Nusantara, Permata, Tosan Aji dan Antikan di Pasar Akik Dargo Jl Dr Cipto pada 3 Oktober 2026.
Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut antara lain, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva AP, SSos, SH, MH mewakili Wali Kota Semarang yang berhalangan hadir. Selain itu, hadir pula Lurah Kebon Agung, Hepilia Kornilasari ST, perwakilan dari Dinas Pariwisata, Dinas Perdagangan, anggota paguyuban Karya Mandiri.
”Bagi komunitas, mempertemukan kolektor dan pelaku budaya dari berbagai daerah bukan sekadar membangun jaringan perdagangan. Silaturahmi tersebut juga menjadi cara menjaga pengetahuan mengenai benda-benda tradisi agar tidak berhenti sebagai benda koleksi semata,” kata Muhaimin yang juga sebagai dosen Universitas Semarang.
Dia menambahkan, kegiatan pameran tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ajang transaksi jual beli, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi, edukasi sekaligus upaya menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap batu nusantara.
”Konsepnya bursa atau pameran. Di sini terjadi transaksi penjualan batu, baik batu nusantara maupun batu permata,” tuturnya.
Menurutnya, batu nusantara seperti bacan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Beberapa koleksi bahkan dapat mencapai nilai ratusan juta rupiah. Namun dia melihat, perdagangan batu saat ini menghadapi tantangan berupa menurunnya kecenderungan pasar dibanding masa sebelumnya.
”Karena itu, kegiatan bursa dan pameran batu seperti ini sangat penting untuk kembali mempertemukan pedagang, kolektor, dan masyarakat. Kami berharap, kegiatan serupa dapat berkembang menjadi agenda yang lebih besar. Salah satunya melalui penyelenggaraan kontes batu dengan melibatkan tenaga profesional yang memiliki kemampuan menilai kualitas dan karakter batu,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva AP, SSos, SH, MH mengatakan, pihaknya ingin mendorong kawasan Dargo menjadi salah satu destinasi baru perdagangan batu akik di Kota Semarang.
Menurutnya, pengembangan tersebut diarahkan agar tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi menjadi aktivitas ekonomi dan wisata yang berkelanjutan.
”Ke depan kami ingin menjadikan Dargo menjadi salah satu destinasi baru pusat batu akik, sama seperti dengan Rawa bening. Konsep kami ke sana supaya ramai,” kata Bang Amoy–panggilan akrabnya.
Menurutnya, untuk mewujudkan gagasan tersebut, pemerintah melihat masih diperlukan pembenahan sarana dan prasarana.
Kondisi tempat yang dinilai belum ideal, menjadi salah satu pekerjaan yang masih perlu diperhatikan agar pedagang maupun pengunjung mendapatkan ruang yang lebih nyaman.
”Ke depan, kami akan buat sebagus mungkin, sehingga mereka yang menjual dan yang datang merasa nyaman,” ujarnya.
Dia mengatakan, keberlanjutan kegiatan membutuhkan persiapan yang matang. Diperlukan pembinaan komunitas, promosi, ruang yang layak, edukasi bagi masyarakat serta agenda rutin yang mampu mempertemukan pelaku usaha dan pemerhati budaya.
Sebab, pengembangan pusat batu akik sessungguhnya tidak hanya berbicara mengenai perdagangan. Ketika kolektor, perajin, pedagang dan komunitas budaya bertemu dalam satu ruang, terbentuk sebuah ekosistem ekonomi kreatif yang sekaligus membawa identitas budaya daerah.
”Kami akan terus melakukan promosi agar aktivitas perdagangan batu di Semarang semakin dikenal. Biar mereka jual batu, perekonomian bisa lancar. Kami akan mempromosikan terus,” ungkapnya. St



