SEMARANG (Jatengdaily.com)– Dosen Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip), yang juga merupakan Ketua Center of Marine Ecology and Biomonitoring for Sustainable Aquaculture (Ce-MEBSA) Undip, Prof. Drs. Sapto Purnomo Putro, hadir sebagai pembicara dalam “Symposium on Circular Innovations in Aquaculture: Addressing Climate Challenges Towards a Regenerative Future”.
Simposium tersebut berlangsung pada 24–25 September 2026 di Palm Garden Hotel, Putrajaya, Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Faculty of Agriculture, Universiti Putra Malaysia (UPM), dengan dukungan dan pendanaan dari International Development Research Centre (IDRC) dan Global Affairs Canada.
Menurut Prof. Dr. Natrah Fatin Ikhsan selaku pemrakarsa (Conference Chair) dan juga Ketua Microalgae Biota Technology & Innovation (ALBIC) Research Group, fokus utama kegiatan adalah mendorong praktik akuakultur berkelanjutan, termasuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya melalui pendekatan sirkular, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions), serta penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan sesuai daya dukung lingkungan.
Dalam kesempatan hari pertama, Prof Sapto membawakan materi berjudul ”Ecological Biomonitoring and Microplastics Surveillance to Support Biosecurity and Sustainable Productivity in IMTA Mariculture.”
Saripati dari materi tersebut adalah budidaya laut modern kini semakin menuntut tidak hanya produktivitas tinggi, tetapi juga perlindungan ekologis guna menjamin kualitas lingkungan, kesehatan hewan, dan keberlanjutan jangka panjang.
Presentasi ini menyoroti kerangka kerja biomonitoring terintegrasi untuk budidaya laut modern, di mana komunitas biologis digunakan untuk melengkapi pengukuran konvensional terhadap kualitas air dan kinerja budidaya.

Penekanan khusus diberikan pada struktur komunitas makrobentos dan Functional Feeding Guilds (FFG) kelompok organisme berdasarkan cara makannya—yang menyediakan indikator gangguan lingkungan yang bermakna secara ekologis serta dapat diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini cerdas seperti EWS-A2SWJ. Dengan mengintegrasikan komposisi taksonomi, kelimpahan, strategi makan, dan respons ekologis, makrobentos dapat memberikan penilaian yang sensitif dan dapat diinterpretasikan mengenai perubahan lingkungan di sekitar fasilitas budidaya.
”Pendekatan biomonitoring ini diperkuat lebih lanjut melalui indikator biologis pelengkap, termasuk komunitas fitoplankton-zooplankton, kumpulan organisme macrofouling, dan ektoparasit; masing-masing mencerminkan dimensi berbeda dari kondisi ekosistem, dinamika trofik, perubahan habitat, dan interaksi inang-lingkungan. Biomonitoring multi-biota semacam ini memberikan perspektif ekologis yang lebih luas dibandingkan ketergantungan pada satu indikator tunggal serta mendukung pengelolaan sistem budidaya berbasis ekosistem,” jelas Prof Sapto.
Berdasarkan kerangka kerja ini, penilaian eksperimental terhadap paparan mikroplastik (MP) pada ikan nila (Oreochromis niloticus) menunjukkan bagaimana biomonitoring dapat diperluas dari diagnosis lingkungan hingga evaluasi bahaya biologis yang muncul (emerging biological hazards).

Peserta simposium ”Ecological Biomonitoring and Microplastics Surveillance to Support Biosecurity and Sustainable Productivity in IMTA Mariculture” berfoto bersama. Foto: dok
Menurutnya, paparan terkontrol terhadap mikroplastik polipropilena (PP-MP) selama 21 hari menunjukkan respons jaringan pada insang dan lambung, termasuk fusi lamela, pemendekan lamela, disorganisasi epitel, erosi, dan infiltrasi sel inflamasi. Dinamika kortisol menunjukkan respons stres fisiologis yang progresif.
Temuan ini menunjukkan bahwa budidaya laut modern perlu mengintegrasikan biomonitoring berbasis komunitas, indikator ekologis fungsional, dan penilaian eksperimental pada tingkat organisme. Penggabungan FFG makrobentos dengan berbagai indikator biologis dan penilaian kontaminan baru dapat memperkuat deteksi dini penurunan kualitas lingkungan, meningkatkan pemahaman tentang risiko ekologis dan biologis, serta mendukung sistem budidaya yang lebih tangguh, produktif, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada hari kedua, dalam Forum Group Discussion (FGD) yang berjalan dinamis, menghasilkan Dokumen Rekomendasi ” Circular Aquaculture Guidebook”. Simposium tersebut menjadi wadah strategis yang mempertemukan para ahli, peneliti, pelaku industri, dan pembuat kebijakan dari kawasan Asia-Pasifik untuk membahas perkembangan terbaru, tantangan yang muncul, serta berbagai solusi inovatif dalam sistem akuakultur sirkular.
Fokus utama kegiatan adalah mendorong praktik akuakultur berkelanjutan, termasuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya melalui pendekatan sirkular, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions), serta penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim untuk mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Simposium mengusung gagasan untuk mempertemukan peneliti, pemimpin industri, dan pembuat kebijakan guna berbagi pengetahuan serta mendorong solusi bagi masa depan akuakultur yang berkelanjutan.
Melalui forum ini, para peserta membahas bagaimana pendekatan sirkular dapat diterapkan dalam sektor akuakultur untuk mengoptimalkan sumber daya, mengurangi dampak lingkungan, sekaligus meningkatkan kemampuan sektor tersebut dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Kehadiran Prof Sapto dalam forum internasional ini juga menjadi bagian dari kontribusi akademisi Undip dalam memperkuat jejaring dan kolaborasi internasional di bidang ekologi laut, biomonitoring, dan akuakultur berkelanjutan.
Selain Prof Sapto simposium tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai negara dan institusi. Mereka antara lain Dato’ Haji Adnan Hussain dari Department of Fisheries, Malaysia; Dr. Koya Mitsuhiko dari Nagasaki University, Jepang; Prof. Em. Dr. Patrick Sorgeloos dari Ghent University, Belgia; dan Dr. Montakan Tamtin dari Department of Fisheries, Thailand.
Ada juga Dr. Nhut Nguyen dari SAEN Aquaculture, Vietnam; Prof. Dr. Yeong Yi K Sung dari Universiti Malaysia Terengganu, Malaysia; serta Dr. Eduardo Leano dari Network of Aquaculture Centers in Asia-Pacific (NACA).
Pembicara lainnya yakni Prof. Dr. Lu Jiangguo dari Sun Yat-sen University, China, serta Mr. Somony Thay dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, Phnom Penh, Kamboja. she



