Oleh: apt. Tiara Dewi Salindri Pratama, M. Clin. Pharm
Dosen Fakultas Kedokteran, Program Studi Apoteker, Universitas Sebelas Maret (UNS)
MASA balita merupakan salah satu periode penting dalam kehidupan anak. Pada masa ini, tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Tulang bertambah panjang dan kuat, otot berkembang, sistem kekebalan tubuh mulai bekerja semakin optimal, dan berbagai kemampuan anak terus berkembang.
Agar proses tersebut berjalan dengan baik, anak membutuhkan asupan gizi yang cukup dan seimbang. Penambahan vitamin yang termasuk direkomendasikan untuk menunjang kebutuhan anak salah satunya adalah vitamin D3.
Vitamin D3 atau cholecalciferol sering dikenal sebagai “vitamin untuk tulang”. Sebutan tersebut memang tidak keliru, tetapi manfaat vitamin D3 sebenarnya lebih luas. Vitamin ini membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor, dua mineral penting yang diperlukan untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang. Vitamin D juga berperan dalam fungsi otot dan sistem kekebalan tubuh.
Mengapa Vitamin D3 Penting bagi Balita?
Bayangkan tubuh anak sebagai sebuah rumah yang sedang dibangun. Kalsium dapat diibaratkan sebagai salah satu bahan utama untuk membangun tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh menggunakan kalsium tersebut dengan baik.
Tanpa vitamin D yang cukup, penyerapan kalsium menjadi kurang optimal sehingga pertumbuhan tulang dapat terganggu.
Kekurangan vitamin D yang berlangsung lama pada anak dapat menyebabkan rakitis, yaitu kondisi ketika tulang menjadi lunak dan lemah.
Pada kondisi yang lebih berat, tulang dapat mengalami perubahan bentuk. Karena balita sedang berada pada fase pertumbuhan yang pesat, pemenuhan vitamin D menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung kesehatan tulang dan pertumbuhan mereka.
Tidak hanya tulang, vitamin D juga berhubungan dengan fungsi otot dan sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, mencukupi kebutuhan vitamin D merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.
Berapa Banyak Vitamin D yang Dibutuhkan Balita?
Kebutuhan vitamin D berbeda berdasarkan usia. Sebagai gambaran, bayi usia di bawah 12 bulan membutuhkan sekitar 400 IU (10 mikrogram) vitamin D per hari, sedangkan anak usia 1 tahun ke atas membutuhkan sekitar 600 IU (15 mikrogram) per hari.
Angka tersebut merupakan kebutuhan harian yang dapat diperoleh dari berbagai sumber. Namun, kebutuhan setiap anak dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan, pola makan, paparan sinar matahari, serta faktor lainnya.
Untuk bayi, ASI merupakan sumber nutrisi yang sangat penting, tetapi kandungan vitamin D dalam ASI umumnya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan vitamin D bayi. Karena itu, pada kelompok usia tertentu suplementasi vitamin D dapat diperlukan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan 400 IU vitamin D per hari untuk bayi sejak segera setelah lahir, terutama karena ASI biasanya tidak menyediakan seluruh kebutuhan vitamin D bayi.
Sementara itu, pada anak yang sudah memasuki usia balita, kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi melalui kombinasi pola makan bergizi, sumber vitamin D, aktivitas di luar ruangan dengan paparan sinar matahari yang aman, dan suplementasi apabila memang diperlukan.
Dari Mana Vitamin D3 Bisa Didapatkan?
Ada tiga sumber utama vitamin D, yaitu sinar matahari, makanan, dan suplemen.
Tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menghasilkan vitamin D ketika kulit mendapatkan paparan sinar ultraviolet B (UVB) dari matahari.
Namun, jumlah vitamin D yang terbentuk dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti waktu dan durasi paparan, warna kulit, pakaian, penggunaan tabir surya, serta kondisi lingkungan.
Bukan berarti anak harus berlama-lama di bawah sinar matahari. Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan juga dapat memberikan dampak buruk bagi kulit.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan prinsip paparan matahari yang aman dan menghindari kulit anak sampai terbakar. WHO juga menekankan bahwa paparan UV yang berlebihan memiliki risiko terhadap kesehatan kulit.
Selain matahari, vitamin D dapat diperoleh dari makanan. Beberapa makanan yang mengandung vitamin D antara lain seperti kembung, salmon, tuna, telur, serta makanan yang telah difortifikasi vitamin D.
Namun, secara alami vitamin D memang hanya terdapat pada sejumlah kecil jenis makanan sehingga pola makan saja belum tentu selalu mencukupi kebutuhan anak.
Apakah Semua Balita Harus Minum Suplemen Vitamin D3?
Jawabannya tidak selalu. Suplemen vitamin D bukan berarti harus diberikan secara sembarangan kepada semua anak dengan dosis tinggi.
Orang tua perlu memahami bahwa vitamin D merupakan vitamin yang larut dalam lemak. Artinya, vitamin ini dapat disimpan di dalam tubuh. Mengonsumsi vitamin D dalam jumlah berlebihan, terutama melalui suplemen dosis tinggi, justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.
Oleh karena itu, penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan usia, kebutuhan, pola makan, kondisi kesehatan anak, dan pertimbangan tenaga kesehatan. Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai kemungkinan kekurangan vitamin D, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum memberikan suplemen dengan dosis tertentu.
Cara pemberian vitamin D3 harus diperhatikan agar dapat bekerja secara optimal. Waktu paling baik mengkonsumsi vitamin D adalah sesaat setelah makan, pada saat pagi sampai siang hari dan terpapar sinar matahari.
Jangan Lupa: Vitamin D Bukan Satu-Satunya Kunci
Penting untuk dipahami bahwa pertumbuhan anak tidak hanya ditentukan oleh vitamin D. Tulang yang kuat membutuhkan kombinasi berbagai zat gizi, terutama kalsium, protein, vitamin dan mineral lainnya, serta aktivitas fisik yang sesuai usia.
Dengan kata lain, vitamin D3 bukanlah “obat ajaib” yang secara otomatis membuat anak tumbuh tinggi atau tidak mudah sakit. Vitamin D merupakan salah satu bagian penting dari rangkaian kebutuhan gizi anak yang harus dipenuhi bersama dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan pengasuhan yang baik.
Memastikan anak mendapatkan vitamin D yang cukup sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Orang tua dapat membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi dan beragam, mengajak anak bermain dan beraktivitas di luar ruangan dengan memperhatikan keamanan paparan sinar matahari, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mempertimbangkan pemberian suplemen. Pemenuhan kebutuhan gizi sejak dini merupakan investasi kesehatan untuk masa depan.
Vitamin D3 mungkin dibutuhkan dalam jumlah kecil, tetapi perannya sangat berarti bagi tubuh yang sedang tumbuh. Dengan perhatian yang tepat terhadap asupan makanan, aktivitas, paparan sinar matahari yang aman, dan penggunaan suplemen secara bijak, orang tua dapat membantu memberikan fondasi yang lebih baik bagi pertumbuhan dan kesehatan anak. Jatengdaily.com



