SEMARANG (Jatengdaily.com) – Rencana safari politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026 ini dinilai hanya sebatas manuver untuk mendongkrak popularitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Langkah tersebut diprediksi tidak akan mampu menggeser dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di wilayah yang kerap dijuluki “Kandang Banteng” tersebut.
Pandangan tajam itu disampaikan oleh Pengamat Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Drs Joko J Prihatmoko, MSi, Sabtu (18/7/2026).
Ia menilai jargon PSI yang ingin mengubah Jateng menjadi “Kandang Gajah” hanyalah letupan emosional belaka.
”Manuver itu cuma untuk mendongkrak popularitas PSI dengan menghadirkan bayang-bayang masa lalu. Sangat kecil kemungkinan menggeser dominasi PDIP, sekalipun Jokowi diajak ‘muter-muter’ di 576 kecamatan di seluruh Jateng,” ujar Joko.
Pasar Terbuka yang Sulit Ditaklukkan
Joko memaparkan bahwa karakteristik pemilih di Jawa Tengah sebenarnya merupakan open market (pasar terbuka) bagi partai-partai berorientasi kebangsaan. Secara historis, partai baru yang menjual jargon pluralisme, cinta tanah air, dan toleransi memang selalu berhasil menarik simpati awal.
Ia mencontohkan keberhasilan Partai Demokrat pada Pemilu 2004 (9 kursi DPRD Jateng), Gerindra pada 2009 (9 kursi), dan Nasdem pada 2014 (4 kursi).
Namun, Joko menggarisbawahi bahwa sehebat apa pun kinerja elektoral partai-partai tersebut, belum ada satu pun yang mampu melampaui perolehan suara terendah PDIP sepanjang sejarah pemilu.
”Suara terendah PDIP di Jateng terjadi pada Pemilu 2009 dengan 3,4 juta suara. Selebihnya selalu di angka 5 sampai 8 juta pemilih. Tidak ada alasan historis partai baru seperti PSI bisa langsung melompat signifikan menggusur partai mapan, apalagi PDIP,” tegas dosen FISIP Unwahas ini.
Gerindra dan Golkar Justru yang Terancam
Menurut analisis Joko, pihak yang seharusnya merasa terganggu dengan safari politik Jokowi bukanlah PDIP, melainkan partai-partai yang mencatatkan kenaikan suara signifikan pada Pemilu 2024 lalu, seperti Gerindra, Golkar, dan PKS.
Sebagai catatan:
Partai Gerindra: Suara melonjak dari 1,6 juta menjadi 2,5 juta suara (naik menjadi 17 kursi).
Partai Golkar: Suara naik dari 1,7 juta menjadi 2,2 juta suara (naik menjadi 17 kursi).
PKS: Mengalami kenaikan dari 1,2 juta menjadi 1,6 juta suara.
Joko menyebut karakteristik pemilih saat ini mayoritas non-ideologis alias cair, dengan ikatan partai (Party ID) yang tidak solid. Tambahan suara yang didapat partai-partai besar tersebut pada pemilu lalu belum mengakar kuat dan sangat potensial bergeser.
Berpotensi Counter Productive
Di akhir analisisnya, Joko mengingatkan bahwa jika tidak ada kejutan politik yang luar biasa (ceteris paribus), strategi PSI yang mengandalkan figur Jokowi justru bisa berbalik arah menjadi merugikan partai itu sendiri.
”Dalam situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja dan rakyat yang serba kesulitan, langkah PSI justru bisa menjadi counter productive. Bisa jadi penolakan kunjungan terjadi di mana-mana karena bagi masyarakat, urgensi safari politik Jokowi itu memang tidak nampak,” pungkas Joko. St

